← Beranda
Menurut Penelitian: Mandi Air Hangat Sama Baiknya dengan Jalan Kaki Selama 30 Menit, Benarkah?
Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 15 September 2026 | 00.36 WIB
Ilustrasi mandi air hangat (magnific)

 

 

JawaPos.com - Benarkah mandi air hangat bisa memberikan manfaat yang setara dengan jalan kaki 30 menit? Simak penelitian tentang mandi air panas dan efeknya bagi tubuh.

Mandi air hangat sama baiknya dengan jalan kaki selama 30 menit, benarkah? 

Ya, pertanyaan ini mungkin terdengar mengejutkan, terutama karena mandi biasanya identik dengan aktivitas membersihkan tubuh sekaligus bersantai, bukan olahraga.

Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh YourTango menunjukkan adanya hubungan menarik antara paparan panas pada tubuh atau passive heating dengan beberapa respons fisiologis yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas fisik.

Artikel berjudul “A Hot Bath Can Be Just As Good For You As A 30-Minute Walk, According To Research” karya Eric Webb, yang diperbarui pada 22 April 2026, membahas penelitian mengenai efek mandi air panas terhadap pembakaran kalori, gula darah, tekanan darah, dan kesehatan kardiometabolik.

Penelitian Menemukan Hal yang Menarik tentang Mandi Air Panas

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Steve Faulkner dari Loughborough University ini, melibatkan 14 pria yang menjalani dua kondisi berbeda. 

Dalam satu kondisi, peserta melakukan aktivitas bersepeda selama satu jam, sedangkan pada kondisi lainnya mereka berendam dalam bak air panas selama satu jam dengan suhu sekitar 104 derajat Fahrenheit atau 40 derajat Celsius.

Kedua aktivitas tersebut dirancang untuk meningkatkan suhu inti tubuh sekitar satu derajat Celsius. Tentu saja, bersepeda tetap membakar lebih banyak energi secara keseluruhan. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang berendam dalam air panas selama satu jam membakar sekitar 140 kalori hanya dengan duduk di dalam bak.

Angka tersebut menarik karena jumlahnya kira-kira setara dengan energi yang rata-rata dibakar seseorang ketika berjalan kaki selama 30 menit.

Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar munculnya klaim bahwa mandi air panas bisa “setara” dengan jalan kaki 30 menit. Namun, istilah tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena kesetaraan yang dimaksud terutama berkaitan dengan jumlah kalori yang terbakar dalam kondisi penelitian tertentu, bukan berarti manfaat kesehatan keduanya benar-benar identik.

Mandi Air Panas Dapat Membuat Tubuh Mengalami Respons terhadap Panas

Mengapa hanya berendam di dalam air panas bisa menyebabkan tubuh membakar energi?

Salah satu penjelasannya berkaitan dengan mekanisme passive heating. Ketika tubuh terpapar panas, suhu inti tubuh meningkat dan sistem tubuh harus bekerja untuk mempertahankan kondisi internal yang stabil.

Pembuluh darah dapat mengalami pelebaran sehingga aliran darah meningkat. Tubuh juga harus melakukan proses termoregulasi untuk membantu mengeluarkan panas. Dengan kata lain, meskipun seseorang tidak sedang berlari atau mengayuh sepeda, tubuh tetap melakukan pekerjaan fisiologis tertentu untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan panas.

YourTango menjelaskan bahwa penelitian mengenai passive heating telah lama menarik perhatian karena adanya kemungkinan manfaat terhadap kesehatan kardiometabolik. Beberapa penelitian lain yang dikutip artikel tersebut juga mengaitkan paparan panas dengan tekanan darah dan fungsi pembuluh darah.

Namun, bukan berarti semakin panas air maka semakin baik. Paparan panas berlebihan justru dapat membuat tubuh mengalami tekanan yang tidak diperlukan.

Karena itu, temuan penelitian sebaiknya dipahami sebagai informasi mengenai respons tubuh terhadap panas, bukan sebagai ajakan untuk berendam dalam air yang sangat panas.

Ada Temuan Menarik tentang Gula Darah

Selain jumlah kalori, penelitian yang dibahas YourTango juga mengamati respons gula darah peserta selama 24 jam setelah masing-masing kondisi.

Hasilnya menunjukkan bahwa kadar gula darah puncak setelah makan sekitar 10 persen lebih rendah pada hari ketika peserta menjalani sesi mandi air panas dibandingkan dengan hari ketika mereka bersepeda. Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa paparan panas mungkin memiliki efek metabolik tertentu.

Meski demikian, hasil seperti ini tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa mandi air panas merupakan pengganti olahraga untuk mengendalikan gula darah.

Penelitian tersebut memiliki jumlah peserta yang sangat kecil, yaitu hanya 14 pria, sehingga hasilnya tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa efek yang sama pasti terjadi pada semua orang.

Selain itu, respons metabolisme setiap orang dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, aktivitas fisik, pola makan, berat badan, serta berbagai faktor lainnya.

Karena itu, temuan tentang gula darah lebih tepat dipandang sebagai hasil penelitian awal yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut, bukan sebagai alasan untuk menghentikan aktivitas fisik.

Mandi Air Panas Juga Berkaitan dengan Tekanan Darah

Salah satu alasan mandi air panas menarik perhatian peneliti adalah pengaruh panas terhadap sistem pembuluh darah.

YourTango mengutip penelitian dari University of Oregon yang menemukan bahwa mandi air panas secara rutin dapat menurunkan tekanan darah. Salah satu mekanisme yang mungkin berperan adalah peningkatan kadar nitric oxide yang membantu pembuluh darah mengalami relaksasi dan pelebaran.

Ketika pembuluh darah lebih rileks dan melebar, aliran darah dapat berlangsung dengan lebih mudah sehingga tekanan terhadap sistem kardiovaskular dapat berkurang.

Namun, sekali lagi, hal ini tidak berarti mandi air panas dapat digunakan sebagai pengobatan untuk tekanan darah tinggi.

Orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu tetap perlu mengikuti rekomendasi tenaga medis. Bahkan, paparan panas yang berlebihan dapat menjadi masalah bagi sebagian orang, terutama jika menyebabkan pusing, lemas, dehidrasi, atau penurunan tekanan darah yang terlalu cepat.

Jadi, manfaat potensial mandi air panas perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat: ia mungkin memberikan efek fisiologis tertentu, tetapi bukan pengganti terapi medis.

Lalu, Apakah Mandi Air Hangat Benar-Benar Bisa Menggantikan Jalan Kaki?

Jawaban singkatnya adalah tidak sepenuhnya. Inilah bagian terpenting yang perlu diperjelas dari judul penelitian tersebut. Mandi air panas dan berjalan kaki mungkin memiliki satu kesamaan dalam kondisi tertentu, yaitu jumlah energi yang dibakar dapat berada pada kisaran yang serupa. Namun, keduanya memberikan stimulus yang sangat berbeda kepada tubuh.

Berjalan kaki melibatkan otot dan sistem muskuloskeletal secara aktif. Aktivitas fisik juga dapat membantu meningkatkan kebugaran, kekuatan otot, kapasitas kardiorespirasi, keseimbangan, dan berbagai aspek kesehatan lainnya.

Sementara itu, mandi air panas merupakan bentuk passive heating. Tubuh menerima stimulus panas tanpa melakukan kontraksi otot seperti ketika seseorang berjalan atau berolahraga.

YourTango sendiri menegaskan bahwa olahraga tetap memiliki keunggulan dalam membangun kekuatan, meningkatkan kapasitas paru-paru, dan memberikan manfaat lain yang tidak bisa diperoleh hanya dengan berendam.

Jadi, jika tujuan Anda adalah meningkatkan kebugaran fisik, jalan kaki tetap memiliki posisi penting.

Mandi Air Hangat Bisa Menjadi Pelengkap, Bukan Pengganti Olahraga

Meski tidak dapat menggantikan olahraga secara keseluruhan, mandi air hangat tetap bisa menjadi bagian dari rutinitas pemulihan.

Setelah menjalani hari yang melelahkan, berendam atau mandi air hangat dapat memberikan sensasi relaksasi. 

Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk menciptakan jeda sebelum tidur atau setelah menyelesaikan pekerjaan.

YourTango menyebut mandi air panas sebagai sesuatu yang dapat memberikan manfaat tertentu pada tubuh dan dapat digunakan terutama pada hari pemulihan atau ketika seseorang membutuhkan aktivitas yang lebih ringan.

Dengan demikian, seseorang tidak perlu memilih secara ekstrem antara mandi air hangat dan berjalan kaki.

Anda tetap dapat berjalan kaki secara rutin untuk mendapatkan manfaat aktivitas fisik, kemudian menggunakan mandi air hangat sebagai bagian dari rutinitas relaksasi dan pemulihan.

Pendekatan seperti ini jauh lebih masuk akal dibandingkan menganggap mandi sebagai “jalan kaki versi tanpa bergerak”.

Kesimpulan: Klaimnya Menarik, tetapi Jangan Salah Memahami Penelitian

Jadi, benarkah mandi air hangat sama baiknya dengan jalan kaki 30 menit?

Jawabannya adalah tidak jika yang dimaksud adalah seluruh manfaat kesehatan. Penelitian yang dibahas YourTango menunjukkan bahwa satu jam berendam dalam air panas pada kondisi penelitian menghasilkan pembakaran sekitar 140 kalori, yang kira-kira sebanding dengan kalori yang dibakar rata-rata orang selama berjalan kaki 30 menit.

Namun, kesamaan jumlah kalori tidak berarti kedua aktivitas memberikan efek yang sama terhadap otot, kebugaran jantung-paru, kekuatan tubuh, dan kesehatan secara keseluruhan.

Karena itu, jangan buru-buru meninggalkan kebiasaan berjalan kaki hanya karena menemukan klaim bahwa mandi air panas dapat membakar kalori dalam jumlah serupa.

Anggaplah mandi air hangat sebagai pelengkap gaya hidup sehat, sedangkan aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dari rutinitas kesehatan.

Pada akhirnya, temuan ini justru menunjukkan sesuatu yang menarik: tubuh manusia dapat merespons paparan panas dengan cara yang lebih kompleks daripada yang selama ini kita bayangkan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti