← Beranda
Anak Pasien Rumah Sakit Jepang “Jalan-jalan” ke Kebun Binatang lewat VR
Dhimas GinanjarSenin, 14 September 2026 | 16.53 WIB
Foto kiri: Joe Hasei, profesor bedah ortopedi di Universitas Okayama. Kanan: Foto yang diambil di Okayama pada 13 Juli 2026 memperlihatkan anak-anak mengenakan headset realitas virtual di ruang bermain di bangsal anak Rumah Sakit Universitas Okayama. (Kyodo)

JawaPos.com - Anak-anak yang harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit Jepang kini bisa "keluar" dari bangsal dan menjelajahi kebun binatang melalui teknologi virtual reality (VR). Program tersebut memberi kesempatan bagi pasien yang sulit meninggalkan rumah sakit untuk berinteraksi dengan orang lain sekaligus mengurangi rasa terisolasi selama menjalani pengobatan.

Lebih dari 30 rumah sakit di Jepang, termasuk Okayama University Hospital, mengikuti program yang ditujukan bagi anak-anak, remaja, serta pasien dewasa muda yang menjalani perawatan kanker dan penyakit serius lainnya. Dilansir dari Kyodo, Senin (14/9), program ini juga diharapkan memberikan sesuatu yang dapat dinantikan pasien selama menjalani perawatan hingga setelah mereka keluar dari rumah sakit.

Pada pertengahan Juli, sebanyak 15 anak berusia 4 hingga 16 tahun berkumpul di ruang bermain bangsal anak Okayama University Hospital. Mereka mengenakan perangkat VR untuk melakukan perjalanan virtual ke Tennoji Zoo di Osaka.

Melalui dunia metaverse, anak-anak tersebut seolah berada di area sabana Afrika di kebun binatang. Jerapah dan zebra tampak berkeliaran dengan latar belakang gedung pencakar langit Abeno Harukas.

Ruang virtual tersebut dikembangkan bersama oleh Kintetsu Real Estate Co. yang berbasis di Osaka dan pengembang metaverse asal Tokyo, Cluster Inc. Ruang tersebut sebelumnya telah digunakan untuk berbagai acara dan kegiatan.

Dengan mendengarkan penjelasan dari penjaga kebun binatang, para peserta dapat melihat kuda nil berenang bersama ikan di dalam tangki besar hingga singa mengaum dari atas batu.

Anak-anak juga dapat mengendalikan avatar mereka menggunakan pengontrol dan bergerak bebas mengelilingi kebun binatang sambil bersemangat menunjukkan berbagai hal yang mereka temukan.

Meski para peserta tidak dapat berbicara menggunakan suara di dalam metaverse, mereka tetap bisa berkomunikasi melalui pesan obrolan dan reaksi seperti tanda "suka".

Takeru Kuwahara, 10, siswa kelas empat sekolah dasar yang telah dirawat di rumah sakit sejak Maret, mengaku awalnya tidak nyaman berada di sekitar hewan. Namun, pengalaman virtual tersebut justru membuatnya merasa lebih tenang.

"Saya bisa melihat mereka tanpa khawatir karena ini VR," katanya. "Saya jadi ingin mengunjungi berbagai tempat, seperti taman hiburan."

Yuka Kawaguchi, pekerja penitipan anak di bangsal anak, mengatakan beberapa pasien yang kehilangan tenaga dan biasanya tidak memiliki energi untuk keluar dari kamar akhirnya bersedia datang ke acara tersebut karena sudah menantikannya sejak pagi.

"Bagi anak-anak ini, waktu seperti ini tidak tergantikan," ujarnya.

Sekitar 100 pasien dari berbagai institusi medis di Jepang telah mengikuti tur virtual tersebut. Mereka termasuk pasien yang menjalani perawatan kanker, penyakit jantung, dan penyakit Crohn, yaitu penyakit peradangan kronis pada saluran pencernaan.

Profesor bedah ortopedi Okayama University Joe Hasei yang memimpin program tersebut mengatakan pasien kanker anak, remaja, dan dewasa muda sering mengalami jenis kanker yang langka. Kondisi itu membuat mereka memiliki sedikit kesempatan untuk bertemu dengan pasien lain yang menghadapi masalah serupa.

Menurut Hasei, pertemuan melalui avatar sekalipun dapat membantu pasien merasa tidak sendirian karena mereka bisa berbagi ruang virtual dengan orang lain yang sedang menjalani pengobatan.

"Saya berharap ini membantu mereka menjalani pengobatan dengan pandangan positif dan berpikir, 'Setelah keluar dari rumah sakit, saya akan mengunjungi Tennoji Zoo yang sebenarnya,'" kata Hasei.

Penyelenggara berencana menambah berbagai destinasi virtual selain kebun binatang.

"Saya ingin menciptakan lingkungan tempat pasien bisa pergi ke tempat yang ingin mereka kunjungi meskipun sedang berada di rumah sakit," kata Hasei.

EDITOR: Dhimas Ginanjar