JawaPos.com - Masker N95, KN95, dan KF94 menjadi jenis masker yang paling efektif untuk membantu melindungi saluran pernapasan dari paparan abu vulkanik. Belakangan, masker mulai kembali diburu usai Gunung Anak Krakatau erupsi.
Masker N95, KN95, dan KF94 memiliki kemampuan filtrasi tinggi terhadap partikel halus dan dirancang lebih rapat menutup wajah dibandingkan masker medis maupun masker kain.
Sementara itu, masker medis atau bedah masih dapat mengurangi paparan, tetapi memiliki celah di sisi wajah yang memungkinkan partikel halus masuk. Adapun masker kain memberikan perlindungan paling terbatas karena pori-porinya cenderung lebih besar.
Berikut perbedaan kemampuan masing-masing jenis masker dalam menghadapi paparan abu vulkanik, dikutip dari keterangan resmi Kemenkes, Kamis (10/9).
N95, KN95, dan KF94
Masker N95, KN95, dan KF94 paling direkomendasikan karena memiliki kemampuan filtrasi tinggi untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil, termasuk partikel halus seperti PM2.5.
Selain memiliki kemampuan filtrasi yang lebih tinggi, masker jenis ini juga dapat menutup wajah dengan lebih rapat. Hal tersebut membantu mengurangi masuknya partikel melalui celah di sekitar masker.
Masker Medis atau Bedah
Masker medis atau bedah dapat membantu mengurangi paparan abu vulkanik. Namun, tingkat perlindungannya masih di bawah masker respirator seperti N95, KN95, atau KF94.
Salah satu alasannya adalah adanya celah pada bagian samping masker. Celah tersebut dapat menjadi jalur masuk bagi partikel halus yang terdapat di udara.
Masker Kain
Masker kain memiliki kemampuan perlindungan yang paling terbatas terhadap partikel halus abu vulkanik. Pori-pori pada bahan kain membuat masker ini tidak optimal untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil.
Jika dalam kondisi darurat dan tidak tersedia masker lain, masker kain dapat digunakan secara berlapis. Namun, perlindungannya tetap tidak setara dengan masker N95, KN95, atau KF94.
Karena itu, N95, KN95, dan KF94 menjadi pilihan yang paling direkomendasikan untuk mengurangi paparan partikel halus abu vulkanik, terutama ketika udara di sekitar terdampak sebaran abu.