← Beranda
TOGA Bukan Sekadar Tanaman, Warga Mulyorejo Dilatih Hadapi Risiko Diabetes hingga Kondisi Darurat
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 9 September 2026 | 20.41 WIB
Warga Mulyorejo mengikuti edukasi dan praktik pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk mendukung pencegahan risiko diabetes. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Tanaman obat keluarga (TOGA) di RW XII, Kelurahan Manyar Sabrangan, Surabaya, tak sekadar menjadi penghias pekarangan warga.

Pada Rabu (9/9/2026), warga Mulyorejo dilatih memanfaatkan TOGA untuk membantu mencegah risiko diabetes, menjaga kesehatan, hingga menjadi pilihan pendamping saat akses obat medis terganggu dalam kondisi darurat terisolir seperti bencana.

Mengapa Warga Mulyorejo Dipilih untuk Program TOGA?

Warga RW XII dipilih karena dinilai aktif merawat dan mengolah tanaman obat yang tumbuh di lingkungan rumah mereka.

Kondisi tersebut terlihat dari hampir setiap rumah di kawasan RT 4 Mulyorejo Selatan yang sudah memiliki TOGA di pekarangan masing-masing.

Ketua tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Surabaya, Irfany Nurul Hamid, SST., M.Tr.Kep., menjelaskan bahwa pendampingan pemanfaatan TOGA bagi masyarakat yang aktif dalam pemeliharaan dan pengolahan.

“Kami memilih lokasi ini karena setelah diskusi dengan pihak Puskesmas Mulyorejo, warga di sini aktif dalam TOGA ini. Aktif dalam pemeliharaan, kemudian pengolahan itu aktif. Jadi kami dari Puskesmas diarahkan untuk ke sini," ujarnya kepada JawaPos.com, Rabu (9/9/2026).

Aktivitas tersebut tidak berhenti pada menanam dan menyiram tanaman.

Warga juga memiliki kegiatan Asuhan Mandiri (Asman) yang secara rutin membahas manfaat TOGA serta mengolah berbagai tanaman menjadi produk makanan dan minuman.

Koordinator Kader Surabaya Hebat (KSH) RT 4 Mulyorejo Selatan, Ester, menyebut hampir setiap rumah telah memiliki tanaman obat keluarga.

“Tiap rumah hampir setiap rumah ada, Pak. Soalnya, kemarin kita kan juga pernah ikut lomba Surabaya Hebat, itu harus ada TOGA,” ujarnya.

TOGA untuk Diabetes, Bukan Pengganti Obat

Salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut adalah meluruskan pemahaman warga mengenai penggunaan tanaman herbal bagi penyandang Diabetes Melitus (DM).

TOGA dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap, sedangkan obat medis tetap harus dijalankan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Dipilih adalah untuk Diabetes Melitus karena kebanyakan orang itu menganggap kalau TOGA untuk Diabetes Melitus itu sebagai pengganti obat. Padahal tidak seperti itu, TOGA untuk diabetes itu sebetulnya hanya pelengkap saja,” kata Irfany didampingi timnya Aida Novitasari, S.Kep., M.Kep. dan Dr. Anita Joeliantina, S.Kep.Ns., M.Kes.

Edukasi itu menjadi penting karena sebagian masyarakat masih memilih mengurangi atau menghentikan obat medis ketika beralih menggunakan herbal.

Padahal, penggunaan TOGA perlu dilakukan secara tepat, termasuk memahami cara pengolahan dan dosis aman agar tidak mengganggu pengelolaan kadar gula darah.

“Jadi harapannya edukasi warga ini, TOGA ini jangan sampai menggantikan obat. Obat medis tetap jalan, TOGA ini pendamping, supaya gula darahnya itu stabil,” lanjut Irfany.

Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan dengan sejumlah tanaman seperti sambiloto, brotowali, kayu manis, dan pare.

Tanaman yang diberikan juga dipilih dari jenis yang relatif mudah dirawat sehingga warga dapat melanjutkan budidayanya secara mandiri di rumah.

Sambiloto hingga Daun Salam jadi Pilihan Warga

Pengolahan TOGA turut dipraktikkan secara langsung agar warga tidak hanya mengenal nama tanaman, tetapi memahami cara sederhana mengolahnya.

Untuk sambiloto kering, misalnya, Irfany menjelaskan tanaman tersebut dapat direndam menggunakan air mendidih setelah api dimatikan, bukan direbus bersama air.

“Ada Sambiloto, kemudian ada Brotowali, Kayu Manis, Pare. Tapi ini yang kami berikan ke warga ini yang istilahnya tidak butuh treatment khusus. Cukup disiram, tumbuh saja,” ujarnya.

Petugas Puskesmas Mulyorejo, Kris, mengatakan kegiatan juga mencakup demonstrasi pengolahan herbal dan penanaman TOGA.

Menurut dia, warga dapat memanfaatkan tanaman yang mudah ditemukan di sekitar rumah, termasuk daun salam yang disebut memiliki penelitian terkait pemanfaatannya untuk hipertensi dan diabetes.

“Agenda hari ini demo TOGA tentang pemanfaatan herbal yang ada di lingkungan sekitar. Jadi kayaknya kegiatannya juga sama, bikin olahan herbal, olahan herbal yang bisa dibuat untuk diabetes, serta penanaman TOGA," kata Kris.

Bagi warga, kegiatan semacam ini juga memperluas pilihan pemanfaatan tanaman yang sudah mereka rawat selama ini.

Ester menyebut Asman di lingkungannya telah mengolah telang, lidah buaya, hingga belimbing wuluh menjadi berbagai produk.

Bisa Membantu Saat Kondisi Darurat Terisolasi

Pemanfaatan TOGA juga memiliki sisi lain ketika warga menghadapi situasi darurat atau akses terhadap obat rutin mengalami kendala.

Namun, penggunaan tanaman herbal dalam kondisi tersebut tetap ditempatkan sebagai alternatif sementara dan bukan pengganti pengobatan utama.

“Untuk (kondisi krisis atau bencana) darurat terisolir (bisa memanfaatkan TOGA), misalnya sambil menunggu obat berhari-hari belum datang, bisa, tapi bukan yang utama,” tutur Irfany.
Ia mencontohkan kondisi ketika persediaan obat rutin milik warga yang memiliki diabetes terbatas akibat situasi tertentu.

Dalam keadaan seperti itu, TOGA mungkin dapat dimanfaatkan sebagai pendamping, tetapi warga tetap perlu menempatkan obat medis sebagai bagian utama pengelolaan penyakit.

Di sisi lain, Puskesmas Mulyorejo melihat TOGA tidak hanya berkaitan dengan diabetes. Kris menyebut kencur, kunyit, dan jahe juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung kebugaran dan imunitas tubuh, termasuk ketika warga terdampak situasi bencana.

Warga Ingin Edukasi TOGA Dilakukan Rutin

Antusiasme warga menjadi salah satu modal penting agar pemanfaatan TOGA tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Ester menilai program tersebut sudah cukup membantu warga dan berharap edukasi serupa dapat dilakukan secara berkala.

“Agenda hari ini dari jurusan keperawatan cukup membantu, cukup baik. Kalau bisa ke depannya lebih baik lagi, tapi ini sudah cukup baik,” ujarnya.

Ia berharap sosialisasi mengenai TOGA bisa dilakukan satu hingga tiga kali dalam setahun. Frekuensi tersebut dinilai dapat membuat warga semakin memahami fungsi tanaman obat, cara mengolahnya, serta manfaat yang bisa diperoleh dari tanaman di sekitar rumah.

Kegiatan juga dibarengi pelayanan kesehatan dasar berupa pemeriksaan kadar gula darah, asam urat, tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar perut.

Dengan kombinasi pemeriksaan dan edukasi, warga tidak hanya diajak menanam TOGA, tetapi juga lebih aktif mengenali kondisi kesehatan serta menerapkan pola hidup sehat.

Pada akhirnya, pekarangan rumah warga Mulyorejo menjadi ruang kecil untuk belajar menjaga kesehatan secara mandiri.

TOGA tetap memiliki batas penggunaan, tetapi ketika dirawat dan dimanfaatkan dengan pengetahuan yang tepat, tanaman sederhana di sekitar rumah dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan risiko penyakit sekaligus bekal tambahan ketika warga menghadapi kondisi darurat.

EDITOR: Estu Suryowati