← Beranda
Kuman Makanan Tercemar Bisa Sebabkan Hilang Ingatan, Ini Penjelasannya
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 9 September 2026 | 05.33 WIB
Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya (Foto: Sumut Pos)
JawaPos.com - Kuman tertentu yang menyebar melalui makanan tercemar dapat memproduksi toksin yang mengganggu fungsi otak dan berpotensi menyebabkan gangguan ingatan. Kondisi ini viral usai salah satu siswa di Berastagi hilang ingatan diduga karena keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dokter spesialis saraf Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K) menjelaskan gangguan memori yang berlangsung lebih lama karena keracunan makanan dapat berkaitan dengan ensefalopati toksik akibat infeksi maupun toksin. Toksin yang memengaruhi otak dapat mengganggu fungsi memori seseorang.

“Bila lebih lama gangguan memorinya, bisa akibat ensefalopati toksik akibat infeksi atau toksin,” ujar Prof. Yuda saat dihubungi JawaPos.com pada Selasa (8/9)

Ia menerangkan sejumlah kuman diketahui dapat memproduksi toksin yang berdampak terhadap fungsi otak. Salah satu contohnya adalah kuman penyebab tifoid yang dapat menyebar melalui makanan yang tercemar.

“Beberapa kuman dapat memproduksi toksin yang mengganggu fungsi otak. Misalnya kuman thypoid yang dapat menyebar lewat makanan yang tercemar dapat mengakibatkan gangguan memori dan perilaku,” jelasnya.

Namun, Prof Yuda menekankan bahwa mekanisme tersebut belum dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab gangguan ingatan yang dialami seorang pasien. Kuman atau toksin yang menjadi penyebab harus dieksplorasi lebih lanjut berdasarkan kondisi klinis dan hasil pemeriksaan.

“Namun pada kasus ini perlu dieksplore kuman penyebabnya,” ucap Prof. Yuda.

Sebelumnya, viral dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami Febiola Br Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

 

Febiola dilaporkan mengalami kondisi medis serius setelah diduga menjadi korban keracunan hidangan MBG. Dampak yang dialaminya disebut membuat kemampuan mengingatnya menurun secara drastis hingga disebut mencapai 70 persen.

 

Ayah Febiola, Icuk Sugiarto Purba, mengatakan putrinya kini mengalami kesulitan mengenali orang-orang terdekat. Bahkan, Febiola disebut tidak mengenali guru, teman sekelas, orang tua, maupun saudara kandungnya.

Meski begitu, Prof. Yuda mengingatkan bahwa istilah “kehilangan 70 persen ingatan” bukan istilah medis yang lazim digunakan untuk menggambarkan gangguan memori. Penilaian kondisi pasien tetap membutuhkan pemeriksaan langsung untuk mengetahui jenis dan tingkat gangguan kognitif yang dialami.

EDITOR: Diar Candra