← Beranda
13 Langkah Lindungi Anak dari Abu Vulkanik Menurut Dokter Anak
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 8 September 2026 | 00.52 WIB
Ilustrasi memakai masker/Magnific

JawaPos.com - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau membuat orang tua perlu makin waspada terhadap kesehatan anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi memberikan 13 langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material tersebut terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif.

Ketika terhirup oleh manusia, partikel tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Imigrasi Beri Izin Tinggal Darurat untuk WNA

Abu vulkanik juga dapat mengandung gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang berpotensi memperburuk iritasi serta memicu peradangan pada sistem pernapasan anak.

Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung sejak 4 September 2026 dan berstatus Siaga (Level III).

Sebaran abu dilaporkan meluas hingga wilayah Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas vulkanik masih tinggi dan tren erupsi belum menunjukkan penurunan.

Dalam kondisi tersebut, anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perlindungan ekstra.

Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Polres Bogor Bagikan Masker ke Warga

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), mengatakan, keselamatan anak harus menjadi prioritas dalam situasi darurat.

"Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," ujarnya, Senin (7/9).

Sementara itu, Ketua UKK Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan pernapasan akut.

Gejala gangguan pernapasan yang umum muncul antara lain bersin, batuk, pilek hingga sesak napas.

Risiko menjadi lebih besar pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis karena paparan abu dapat memicu serangan akut atau memperburuk kondisi yang sudah ada.

Baca Juga: 36 Rute Lion Group ke Jatim Batal Terbang Imbas Erupsi Anak Krakatau, Cek Daftarnya

Bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan juga termasuk kelompok yang berisiko tinggi.

Berikut 13 rekomendasi UKK Respirologi IDAI untuk menjaga kesehatan anak di tengah paparan abu vulkanik:

1. Mengungsikan anak dari lokasi terdampak

Langkah paling ideal adalah mengungsikan anak menjauh dari wilayah yang terkena dampak letusan.

Semakin jauh anak dari sumber paparan, semakin kecil risiko menghirup abu vulkanik.

2. Tetap di dalam rumah saat kualitas udara buruk

Jika mengungsi tidak memungkinkan dan kondisi udara di lingkungan buruk, orang tua disarankan menjaga anak tetap berada di dalam rumah.

Baca Juga: Timnas Basket Putra Indonesia Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Menuju Asian Games 2026 dari Surabaya

IDAI menyebut kondisi udara yang perlu diwaspadai adalah ketika ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) lebih dari 100. Informasi mengenai kualitas udara dapat dipantau melalui situs pemantau kualitas udara.

3. Jauhkan anak ketika membersihkan abu

Anak sebaiknya tidak berada di area rumah yang sedang dibersihkan dari abu vulkanik.

Aktivitas membersihkan dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

4. Gunakan kain atau lap basah untuk membersihkan abu

Saat membersihkan rumah, gunakan lap atau kain basah. Lantai maupun benda yang akan dibersihkan juga dapat dibasahi terlebih dahulu agar partikel abu tidak beterbangan.

Hindari membersihkan abu dengan cara menyapu kering karena cara tersebut justru dapat membuat partikel kembali menyebar ke udara.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, Menkomdigi Meutya Imbau Warga Waspada dan Saring Informasi

5. Matikan alat yang menarik udara dari luar

Orang tua perlu memastikan sistem sirkulasi udara di dalam rumah tidak memasukkan udara dari luar yang telah tercemar abu.

Jika menggunakan AC yang mengambil udara dari luar, matikan atau atur ke mode air recirculation atau closed vent.

6. Jangan menyalakan kipas angin

Kipas angin sebaiknya tidak dinyalakan saat masih terdapat abu vulkanik di dalam rumah.

Embusan kipas dapat membuat partikel yang sebelumnya mengendap di lantai atau furnitur kembali beterbangan dan kemudian terhirup anak.

7. Gunakan masker untuk anak di atas 2 tahun

Jika anak berusia lebih dari 2 tahun harus keluar rumah, gunakan masker khusus anak dan pastikan masker terpasang dengan baik.

Baca Juga: Tangani Sebaran Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau, BNPB Upayakan Operasi Modifikasi Cuaca

Orang tua juga perlu mengajarkan anak cara menggunakan masker dengan benar agar perlindungannya optimal.

8. Berikan pelindung mata

Selain saluran pernapasan, mata juga dapat mengalami iritasi akibat paparan abu vulkanik.

Karena itu, anak dapat diberikan pelindung mata berupa kacamata anak ketika harus beraktivitas di luar rumah.

9. Kenakan pakaian tertutup

Pakaian tertutup dapat membantu mengurangi kontak langsung abu vulkanik dengan kulit anak yang sensitif.

Setelah anak kembali dari luar rumah, orang tua sebaiknya memastikan anak segera membersihkan diri dan mengganti pakaian untuk menghilangkan partikel abu yang menempel.

Baca Juga: Curhat Ayu Dewi Berhasil Pulang dari Bangkok ke Indonesia di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

10. Siapkan obat rutin anak dengan asma atau alergi

Bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas, orang tua perlu memastikan obat-obatan rutin selalu tersedia.

Obat darurat yang biasa digunakan anak juga perlu disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya serangan akibat paparan abu vulkanik.

11. Hindarkan anak dari asap tambahan

Jangan menambah paparan polusi di dalam rumah. Anak perlu dijauhkan dari asap rokok maupun asap dapur yang dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.

Hal ini menjadi semakin penting bagi anak yang saluran pernapasannya sudah mengalami iritasi akibat abu vulkanik.

12. Pastikan anak cukup minum

Orang tua perlu memastikan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi. Cukup minum membantu mencegah dehidrasi yang dapat memperberat kondisi ketika anak mengalami gangguan kesehatan.

Baca Juga: Penerbangan Umrah Turut Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, 40 Jamaah Jatim Batal Berangkat

Selain itu, makanan dengan gizi seimbang juga penting untuk menjaga kondisi tubuh anak selama menghadapi paparan polusi udara.

13. Segera ke rumah sakit jika muncul tanda sesak

Orang tua diminta tidak menunggu kondisi anak memburuk jika mulai muncul tanda gangguan pernapasan.

dr. Wahyuni mengatakan anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila mengalami napas yang semakin cepat, terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan pengukuran dengan oksimeter jari.

"Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," tandas dr. Wahyuni.

Baca Juga: Erupsi Panjang Gunung Anak Krakatau Berakhir, Status Masih Siaga Level III

EDITOR: Bayu Putra