← Beranda
Debu Vulkanik Bisa Picu Peradangan Pembuluh Darah, Dokter Vito Damay Bagikan Cara Mencegahnya
Abdul RahmanMinggu, 6 September 2026 | 19.03 WIB
Vito Damay, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. (Instagram: doktervito)

 

JawaPos.com - Debu vulkanik tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga perlu diwaspadai karena paparan partikelnya dapat berdampak terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Damay, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap abu vulkanik sebagai debu biasa.

Menurut Vito Damay, partikel yang terkandung dalam abu vulkanik dapat memicu proses peradangan atau inflamasi pada pembuluh darah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena gangguan pada pembuluh darah berkaitan erat dengan sejumlah penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

"Saya kepikiran mengenai abu vulkanik dan bahayanya untuk jantung dan pembuluh darah. Jadi bagaimana pencegahannya?," kata Vito Damay dalam video di akun Instagram pribadinya.

Ia menjelaskan, karakteristik partikel abu vulkanik berbeda dengan debu yang biasa ditemui dalam aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: DJ Katty Butterfly Dituntut Ganti Rugi Rp 146 Juta hingga Diancam Proses Hukum Buntut Batal Tampil

"Partikel-partikel dari abu vulkanik itu bukan seperti debu biasa. Membuat kerusakan injury inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah," ujar Vito.

Abu Vulkanik dan Risiko pada Pembuluh Darah

Peradangan pada pembuluh darah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang terpapar polusi atau partikular dalam jumlah tinggi. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau disarankan untuk mengurangi paparan langsung, terutama ketika kondisi udara masih dipenuhi partikel.

Vito Damay mengingatkan bahwa persoalan jantung dan stroke pada dasarnya tidak terlepas dari kondisi pembuluh darah.

"Ingat kalau namanya serangan jantung atau stroke itu sebenarnya adalah masalah pembuluh darah," katanya.

Pesan tersebut menjadi penting terutama bagi kelompok yang sudah memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular. Paparan udara dengan kualitas buruk dapat menjadi beban tambahan bagi tubuh sehingga upaya mengurangi paparan menjadi langkah yang penting.

Cara Mengurangi Paparan Abu Vulkanik

Vito Damay menyarankan masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan selama kondisi udara di luar masih dipenuhi dengan abu vulkanik. Penggunaan penyaring udara atau air purifier juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menjaga kualitas udara bersih di dalam ruangan.

"Usahakan untuk aktivitas dalam rumah dengan filter udara. Kalau perlu, keluar rumah pakai masker N95, hindari aktivitas berat terutama di luar rumah," ujar Vito.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting ketika seseorang memang harus keluar rumah. Masker N95 dirancang untuk menyaring partikel berukuran kecil sehingga dapat memberikan perlindungan lebih baik dibandingkan masker kain biasa terhadap partikel di udara.

Selain mengurangi aktivitas di luar ruangan, masyarakat juga disarankan tidak melakukan kegiatan fisik berat ketika konsentrasi abu vulkanik masih tinggi. Aktivitas berat dapat meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan sehingga paparan terhadap partikel di udara berpotensi menjadi lebih besar.

Membersihkan Abu Vulkanik Harus Hati-Hati

Bukan hanya saat berada di luar rumah, risiko paparan juga perlu diperhatikan ketika membersihkan abu vulkanik yang menempel di halaman, kendaraan, atap, atau permukaan lainnya.

Vito menyarankan pembersihan dilakukan secara hati-hati dengan sedikit membasahi abu terlebih dahulu agar partikel tidak mudah beterbangan.

"Ketika membersihkan abu, bersihkan dengan cara yang hati-hati, sedikit dibasahi pakai pelindung mata, dan juga pakai masker," kata Vito.

Baca Juga: Ustaz Riza Muhammad Punya 50 Pekerja di Rumah, Gaji di Atas UMR hingga Biayai Sekolah Anak Karyawan

Langkah tersebut penting karena aktivitas menyapu atau membersihkan abu dalam kondisi kering dapat membuat partikel kembali beterbangan dan meningkatkan kemungkinan terhirup.

Jika mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik, terutama sesak napas, nyeri dada, pusing berat, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

EDITOR: Abdul Rahman