JawaPos.com - Upaya menekan angka perokok belum sepenuhnya berhasil di berbagai negara.
Peneliti menilai kebijakan pengendalian tembakau perlu diperluas, termasuk mempertimbangkan pendekatan tobacco harm reduction (THR) untuk membantu perokok dewasa mengurangi risiko kesehatan.
Gagasan tersebut disampaikan Ruth Bonita dan Robert Beaglehole dalam jurnal Beyond a Smoke-Free Generation: Ending Smoking Within a Generation yang diterbitkan di The Lancet.
Baca Juga: Atasi Problem Prostat Tanpa Luka, Teknologi Ini Tawarkan Solusinya
Keduanya menilai pencegahan perokok baru saja tidak cukup untuk mengakhiri epidemi merokok.
Menurut mereka, kebijakan juga perlu diarahkan pada percepatan penurunan jumlah perokok dewasa, terutama di negara berkembang yang masih menghadapi beban kesehatan akibat konsumsi rokok.
Jika tujuannya mengakhiri epidemi merokok, lanjut mereka kebijakan pengendalian tembakau global perlu memprioritaskan percepatan transisi dari konsumsi rokok ke produk nikotin alternatif yang terbukti memiliki tingkat risiko lebih rendah.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Makanan Anak, Pencegahan Stunting Harus Dimulai Sejak Ibu Hamil
"Khususnya bagi kelompok orang dewasa yang menanggung beban besar akibat dampak kesehatan tembakau, khususnya di negara-negara berkembang,” tulis Ruth Bonita dan Robert Beaglehole, dikutip Kamis (3/8).
Bonita dan Beaglehole mengatakan, lanskap pengendalian tembakau telah berubah dibandingkan satu dekade lalu.
Sejumlah penelitian mengenai produk nikotin tanpa pembakaran menunjukkan profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
“Produk nikotin bebas asap saat ini telah digunakan oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia," papar keduanya.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok bagi orang dewasa.
"Ini sekaligus berperan dalam mendukung transisi dari penggunaan produk tembakau, kini jauh lebih kuat dibandingkan sepuluh tahun yang lalu," tulis para penulis.
Baca Juga: BPOM Tetapkan Standar Aman Kemasan Guna Ulang untuk Kurangi Sampah
Namun, pendekatan pengurangan risiko bukan berarti produk nikotin menjadi aman.
Strategi tersebut terutama ditujukan untuk perokok dewasa yang tidak atau belum berhasil berhenti, sementara pencegahan penggunaan nikotin pada anak dan nonperokok tetap menjadi prioritas.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa pelarangan total terhadap produk alternatif dapat menimbulkan konsekuensi lain, termasuk mempertahankan dominasi rokok konvensional atau mendorong konsumen ke pasar ilegal.
Baca Juga: AI Kesehatan Melengkapi Layanan Medis Onsite pada Muktamar NU ke-35
Mereka menyatakan, pelarangan terhadap produk alternatif yang memiliki risiko lebih rendah dibandingkan rokok.
"Baik dilakukan secara eksplisit maupun secara de facto, berisiko membuat rokok tetap menjadi produk nikotin legal yang dominan atau mendorong permintaan beralih ke pasar ilegal," kata Ruth Bonita dan Robert Beaglehole.
Indonesia Hadapi Tantangan Serupa
Mantan Direktur WHO Tikki Pangestu menilai, THR dapat menjadi pelengkap kebijakan pengendalian tembakau yang sudah berjalan, bukan penggantinya.
Baca Juga: Diabetes dan Hipertensi Sebabkan Penyakit Ginjal Kronis, Tahap Awal Tidak Timbulkan Keluhan Khas
Menurut dia, peringatan kesehatan, kawasan tanpa rokok dan layanan berhenti merokok tetap diperlukan.
Namun, bagi perokok dewasa yang belum mampu berhenti, pendekatan pengurangan risiko dapat menjadi salah satu opsi yang dikaji berdasarkan bukti ilmiah.
Dia menyebut, meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mengendalikan permintaan dan pasokan, seperti peringatan kesehatan serta program berhenti merokok.
"Salah satu pendekatan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal adalah Tobacco Harm Reduction," tutur Tikki Pangestu.
Baca Juga: 5 Alasan Tidur Siang di Akhir Pekan Dapat Membantu Menjaga Kesehatan Tubuh
"Strategi ini membantu orang dewasa berhenti merokok melalui inovasi Produk Tembakau Alternatif (Alternative Tobacco Products), seperti vape atau rokok elektronik, Produk Tembakau yang Dipanaskan (Heated Tobacco Products/HTP), dan kantong nikotin (nicotine pouches),” kata Tikki.
Dia menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan kebijakan pengendalian tembakau yang lebih berbasis bukti dan mengambil peran lebih besar di ASEAN.
Pasalnya, sekitar 25 persen pengguna tembakau dunia berada di kawasan ASEAN.
Baca Juga: 9 Khasiat Jahe untuk Kesehatan dan Aturan Konsumsi Harian yang Benar
Artinya, keberhasilan menekan konsumsi rokok di kawasan akan memiliki dampak penting terhadap kesehatan masyarakat regional.
Penerapan strategi-strategi ini sebagai bagian dari Visi Indonesia 2045 dapat memberikan kontribusi besar bagi kesehatan masyarakat.
Strategi ini juga berpotensi memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin di kawasan.
Baca Juga: MK Pulihkan Aturan Anti-Evergreening, jadi Kabar Baik untuk Pasien
"Apabila strategi-strategi tersebut juga diterapkan di negara-negara lain sejalan dengan semangat Visi Komunitas ASEAN 2045 (ASEAN Community Vision 2045), hal ini dapat mewujudkan ASEAN yang lebih tangguh demi kesejahteraan seluruh masyarakat,” jelas Tikki.
Perdebatan mengenai THR pada akhirnya kembali pada tujuan utama pengendalian tembakau: menurunkan jumlah perokok dan mencegah penyakit akibat konsumsi tembakau.
Karena itu, setiap kebijakan perlu mempertimbangkan bukti ilmiah, pengawasan ketat, perlindungan anak dan nonperokok, serta efektivitasnya dalam mengurangi prevalensi merokok.