← Beranda
Bukan Cuma Soal Makanan Anak, Pencegahan Stunting Harus Dimulai Sejak Ibu Hamil
Rian AlfiantoKamis, 3 September 2026 | 01.46 WIB
Ilustrasi pencegahan stunting pada anak. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pencegahan stunting harus dimulai sejak ibu hamil, tidak cukup dilakukan dengan memastikan anak mendapat makanan bergizi setelah lahir. 

Kecukupan nutrisi ibu selama kehamilan, pengetahuan orang tua, hingga pemantauan tumbuh kembang anak menjadi rangkaian penting yang perlu diperhatikan sejak awal.

Gambaran itu terlihat dari upaya pencegahan stunting di Kelurahan Rawa Badak Utara, Jakarta Utara, yang tahun ini menyasar tiga kelompok sekaligus, yakni 30 anak dengan stunting, 30 orang tua atau wali, serta 25 ibu hamil.

Baca Juga: Pemkot Batam Fokuskan Anggaran di Sektor Layanan Publik dan lingkungan, Pilih Tak Bergantung APBN

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi anak.

Risiko gangguan pertumbuhan perlu dicegah sejak masa kehamilan dan dilanjutkan melalui pola asuh, pemenuhan gizi, serta pemantauan kesehatan anak.

Senior Vice President Sekretariat Perusahaan PT Pelindo Sinergi Lokaseva Dewi Fitriyani mengatakan, penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Baca Juga: AI Kesehatan Melengkapi Layanan Medis Onsite pada Muktamar NU ke-35

menurut dia, stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan anak, tetapi juga menyangkut masa depan generasi bangsa.

"Dan perjuangan status gizi serta kesehatan anak tidak dimulai ketika anak sudah lahir, namun lebih jauh lagi pada masa kehamilan ibu. Karena itu, intervensi perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada orang tua dan ibu hamil,” ujar Dewi.

Kenapa pencegahan stunting harus dimulai sejak hamil?

Masa kehamilan merupakan bagian penting dari rangkaian tumbuh kembang anak.

Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi ibu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum anak lahir.

Dalam intervensi yang dilakukan di Rawa Badak Utara, 25 ibu hamil mendapatkan vitamin untuk membantu mendukung kecukupan nutrisi selama masa kehamilan.

Sementara bagi 30 anak penerima manfaat, intervensi dilakukan melalui pemberian makanan tambahan bergizi dan pemantauan tumbuh kembang secara intensif.

Baca Juga: BPOM Tetapkan Standar Aman Kemasan Guna Ulang untuk Kurangi Sampah

Pendekatan tersebut kemudian diperkuat dengan melibatkan 30 orang tua atau wali.

Mereka mendapatkan edukasi mengenai pola asuh sehat serta pelatihan pengolahan bahan pangan lokal yang ekonomis tetapi tetap memiliki nilai gizi tinggi.

Artinya, penanganan tidak berhenti pada pemberian makanan kepada anak. Keluarga juga didorong memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak secara lebih mandiri.

Baca Juga: Diabetes dan Hipertensi Sebabkan Penyakit Ginjal Kronis, Tahap Awal Tidak Timbulkan Keluhan Khas

Pola intervensi tersebut berkaitan dengan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), periode yang mencakup masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak.

Pada fase ini, pemenuhan kebutuhan gizi dan perhatian terhadap kesehatan menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Karena itu, upaya pencegahan stunting idealnya tidak dilakukan secara terpisah antara masa kehamilan dan masa setelah kelahiran.

Baca Juga: 5 Alasan Tidur Siang di Akhir Pekan Dapat Membantu Menjaga Kesehatan Tubuh

Kondisi ibu hamil, asupan anak, pola asuh keluarga, serta pemantauan pertumbuhan perlu dilihat sebagai rangkaian yang saling berkaitan.

Lurah Rawa Badak Utara Ester Laura Kartini menilai, pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan.

“Anak-anak merupakan investasi terbesar bagi masa depan bangsa, sehingga upaya pencegahan stunting tidak dimulai saat anak lahir, tetapi sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi yang baik bagi ibu. Program ini diharapkan terus berlanjut sehingga memberikan dampak nyata dalam menekan angka stunting,” ungkap Ester.

Sasaran Pencegahan Stunting Diperluas

Upaya tersebut merupakan bagian dari program yang telah berjalan sejak 2024.

Baca Juga: MK Pulihkan Aturan Anti-Evergreening, jadi Kabar Baik untuk Pasien

Pada tahap awal, sasaran program mencakup 10 anak yang teridentifikasi mengalami stunting di wilayah sekitar operasional perusahaan.

Jumlah penerima manfaat kemudian meningkat menjadi 20 anak pada 2025. Pada 2026, pendekatan diperluas dengan menyasar anak, orang tua atau wali, sekaligus ibu hamil.

Sebanyak enam entitas Pelindo Group terlibat dalam pelaksanaan intervensi tersebut di Rawa Badak Utara.

Baca Juga: Bukan Nikotin, Ini yang Membuat Rokok Berisiko Tinggi Memicu Kanker

Perluasan sasaran ini penting karena keluarga memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan intervensi setelah dukungan langsung diberikan.

Pengetahuan tentang pola makan, pola asuh, dan pengolahan pangan dapat membantu keluarga menerapkan kebiasaan yang mendukung tumbuh kembang anak dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya pencegahan di tingkat masyarakat tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk menurunkan prevalensi stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Baca Juga: Mengenal Operasi Bypass Jantung dengan Metode MICS, Waktu Pemulihan Lebih Cepat

Pemerintah sendiri telah menetapkan target prevalensi stunting turun menjadi 14,2 persen pada 2029.

Target tersebut membutuhkan intervensi yang tidak hanya berfokus pada anak yang sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi juga pencegahan sejak masa kehamilan.

Dalam konteks itu, edukasi keluarga menjadi bagian yang tidak kalah penting dari intervensi gizi.

Sebab, keberhasilan pencegahan stunting dalam jangka panjang bukan hanya ditentukan oleh bantuan yang diterima keluarga, melainkan juga kemampuan keluarga mempertahankan pola hidup dan pola makan yang mendukung kesehatan anak.

Baca Juga: Kemenkes Siapkan 4 Jurus Cegah Stunting Sejak 1.000 HPK Anak, Galakkan Gerakan Ayah Siaga

Dengan demikian, persoalan stunting sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar memastikan anak makan lebih banyak atau mendapatkan makanan tambahan.

Pencegahannya dimulai sebelum anak lahir, berlanjut pada masa awal kehidupan, dan membutuhkan keterlibatan keluarga secara konsisten.

Pendekatan inilah yang membuat intervensi sejak masa kehamilan menjadi penting: ketika pencegahan dilakukan lebih awal, risiko gangguan pertumbuhan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih sulit ditangani.

Baca Juga: Obesitas Bikin Lutut Makin Terbebani, Waspada Bahaya Osteoartritis dan Cara Mengatasinya

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah