← Beranda
Dosen ISTA Gelar Skrining TBC dan Latih Warga Parung Panjang Bogor Buat 'Trilogi Antiseptik'
Edi YuliantoMinggu, 16 Agustus 2026 | 01.02 WIB
Spanduk resmi kegiatan PKM BIMA 2026 Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal (ISTA). (istimewa)

 

JawaPos.com – Upaya membangun kesadaran kesehatan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari fasilitas kesehatan. Di lingkungan Perumnas 3 Parung Panjang, Kabupaten Bogor, inisiatif tersebut justru tumbuh kuat dari basis komunitas warga.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim dosen Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal (ISTA) berkolaborasi dengan Paguyuban Warga Mataram Raya menggelar aksi nyata. Kegiatan yang berpusat di Aula dan Pelataran Masjid An-Nur ini memadukan edukasi kesehatan, skrining penyakit, hingga pelatihan produksi produk higiene rumah tangga.

Aksi sosial yang diikuti oleh 61 peserta dari anggota paguyuban dan warga sekitar ini berhasil menarik antusiasme tinggi. Kehadiran tim pengabdi disambut hangat oleh Ketua Paguyuban Warga Mataram Raya, Jumadi, beserta jajaran pengurus komunitas. Salah satu agenda utamanya adalah pengembangan "Trilogi Sabun Antiseptik"- yakni tiga produk higiene rumah tangga berupa sabun cuci tangan aroma stroberi, sabun cuci piring aroma jeruk nipis, dan pembersih lantai aroma sereh.

Baca Juga: Ahli Jelaskan Manfaat Sabun Antiseptik Untuk Bunuh Kuman dan Bakteri

"Masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran dan praktik. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari," ujar Ketua Tim PKM ISTA, apt. Febri Hidayat, M.B.A., Minggu (26/7/2026).

Pencegahan Dini TBC Lewat Skrining Kesehatan dan Edukasi PHBS

Sebelum pelatihan dimulai, tim PKM melaksanakan skrining kesehatan gratis bagi 61 warga. Pemeriksaan meliputi pengecekan berat badan, tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga asam urat. Warga yang membutuhkan perhatian khusus langsung diberikan rekomendasi rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Tak hanya pemeriksaan fisik, warga juga dibekali edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pencegahan Tuberkulosis (TBC). Melalui media leaflet interaktif, tim mengupas tuntas gejala klinis dan cara memutus rantai penularan TBC.

Efektivitas edukasi ini terbukti dari lonjakan drastis skor rata-rata pengetahuan warga. Dari semula hanya 5,75 saat pre-test, melonjak menjadi 8,75 pada sesi post-test.

Mendorong Kemandirian Ekonomi Berkelanjutan

Setelah edukasi kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan paket higiene "Trilogi Antiseptik". Peserta mendapatkan penjelasan mendalam mengenai fungsi bahan baku, peralatan, tahapan pembuatan, hingga proses pengemasan produk yang aman.

Tampilan produk sabun cuci tangan, pel lantai Aroma sereh, dan sabun cuci piring hasil produksi mandiri warga bersama tim dosen ISTA. (istimewa)
Tampilan produk sabun cuci tangan, pel lantai Aroma sereh, dan sabun cuci piring hasil produksi mandiri warga bersama tim dosen ISTA. (istimewa)

 

Pelatihan dilakukan melalui metode demonstrasi dan praktik langsung. Warga terlibat aktif dalam proses penyiapan bahan, pencampuran, pengadukan formula, hingga penambahan bahan pendukung dan pewangi sampai menghasilkan produk yang siap dikemas.

Tiga varian produk yang dipraktikkan terdiri atas sabun pel lantai aroma sereh, sabun cuci tangan aroma stroberi, dan sabun cuci piring aroma jeruk nipis. Melalui kegiatan praktis ini, masyarakat memperoleh pengalaman langsung dalam penyediaan produk higiene rumah tangga secara mandiri.

Komitmen Keberlanjutan Program Melalui Penyerahan Alat

Sebagai langkah nyata menjaga keberlanjutan program, tim PKM ISTA turut menyerahkan bantuan peralatan produksi kepada Paguyuban Warga Mataram Raya. Penyerahan sarana ini diresmikan melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST).

Baca Juga: Masuk Fase Endemi, Cuci Tangan Pakai Antiseptik Jadi Kebiasaan Baik

Dari sisi ekonomi, keterampilan memproduksi produk higiene secara mandiri memberikan nilai tambah yang besar bagi masyarakat. Selain mengoptimalkan fasilitas komunitas yang ada, inovasi ini mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk pembelian sabun. Dalam jangka panjang, program ini berpotensi dikembangkan menjadi usaha produktif berbasis warga.

Program pemberdayaan di Perumnas 3 Parung Panjang ini menjadi bukti nyata bahwa penguatan kesehatan masyarakat bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Inisiatif ini juga mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Kehidupan Sehat), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), serta SDG 8 (Pertumbuhan Ekonomi Rakyat).

"Yang kami dorong adalah kemandirian. Produk sabun ini merupakan pintu masuknya. Tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga kesehatan lingkungannya," tutup Febri.

Baca Juga: Antiseptik Tak Direkomendasikan Buat Kulit Bayi, Ini Penjelasan Dokter

Kegiatan pengabdian masyarakat ini sukses terlaksana oleh tim dosen ISTA yang beranggotakan Alif Gita Arumsari dan Diana Rahayu, serta didukung narasumber ahli Mutawalli Sjahid Latief, Ekadipta, dan Yulis Adriana. Program ini mendapatkan dukungan pendanaan penuh dari Program BIMA Tahun Anggaran 2026 melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, serta didukung penuh oleh jajaran LPPM ISTA dan Paguyuban Warga Mataram Raya.

EDITOR: Edi Yulianto