← Beranda
Biaya Berobat Diprediksi Naik Tinggi, Ini 5 Langkah agar Keuangan Keluarga Tak Jebol
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 4 Agustus 2026 | 04.43 WIB
Ilustrasi biaya pengobatan mahal. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Biaya berobat di Indonesia terus mengalami kenaikan dan diperkirakan menjadi yang tertinggi di Asia pada 2026. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih cermat menjaga kesehatan sekaligus mempersiapkan perlindungan finansial agar tidak kewalahan ketika harus menjalani pengobatan.

Laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits memperkirakan, inflasi medis di Indonesia mencapai 17,8 persen. Angka tersebut jauh melampaui inflasi umum yang hanya sekitar 2,5 persen. Hal ini berdampak pada biaya layanan kesehatan yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan biaya kesehatan tidak terjadi tanpa sebab. Ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi nilai tukar rupiah membuat harga obat-obatan dan alat kesehatan impor semakin mahal. Di sisi lain, penggunaan teknologi medis yang semakin canggih memang mampu meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan, tetapi juga membutuhkan biaya investasi yang besar.

Baca Juga: Rencana Pemerintah Batasi Nikotin, BRIN: Butuh Transisi Hingga 30 Tahun

Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan setelah pandemi juga meningkat. Semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan rutin hingga perawatan di rumah sakit, sehingga turut mendorong peningkatan biaya pelayanan.

Di samping itu, efisiensi pelayanan kesehatan masih menjadi tantangan. Praktik seperti pemeriksaan atau tindakan medis yang tidak sesuai kebutuhan, pemborosan layanan, hingga penyalahgunaan klaim atau Fraud, Waste, and Abuse (FWA) ikut berkontribusi terhadap meningkatnya biaya kesehatan. Indonesia Anti-Fraud Forum (INAFF) 2025 memperkirakan tantangan efisiensi tersebut dapat menyumbang hingga 5 persen terhadap total rasio klaim di industri kesehatan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga industri asuransi. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan pembayaran klaim kesehatan sepanjang 2025 mencapai Rp 26,8 triliun atau meningkat 9,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan klaim yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan premi membuat perusahaan asuransi harus menjaga keseimbangan agar tetap mampu membayar klaim nasabah pada masa mendatang.

Baca Juga: Temuan Kasus TB Masih di Bawah Target, Siapkan AI untuk Percepat Skrining

Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan, kenaikan biaya kesehatan merupakan tantangan yang dihadapi seluruh ekosistem layanan kesehatan. Menurut dia, kolaborasi antara rumah sakit, perusahaan asuransi, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar akses terhadap layanan kesehatan tetap terjaga sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pembiayaan kesehatan.

"Kenaikan biaya kesehatan akibat inflasi medis adalah realita yang dihadapi oleh seluruh ekosistem layanan kesehatan. Prioritas kami di Prudential Indonesia adalah memastikan nasabah tetap dapat memperoleh akses terhadap perawatan medis yang mereka butuhkan dengan rasa tenang. Maka, kami terus memperkuat tata kelola klaim, memanfaatkan teknologi analitik data, dan berkolaborasi dengan rumah sakit untuk menjaga efisiensi serta transparansi biaya," ujar Yosie William Iroth, Senin (3/8).

Lantas, apa yang bisa dilakukan masyarakat agar tidak terlalu terbebani dengan biaya berobat yang terus meningkat?

1. Terapkan gaya hidup sehat

Menjaga pola makan bergizi, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan menghindari kebiasaan merokok menjadi langkah paling sederhana untuk menurunkan risiko penyakit. Pencegahan umumnya jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan.

2. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala

Medical check-up membantu mendeteksi penyakit sejak dini sehingga peluang pengobatan lebih besar dan biaya perawatan berpotensi lebih rendah dibandingkan jika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

3. Pahami manfaat perlindungan kesehatan yang dimiliki

Bagi masyarakat yang memiliki asuransi kesehatan, penting untuk memahami manfaat polis, batas pertanggungan, hingga ketentuan klaim. Langkah ini dapat mencegah kesalahpahaman ketika membutuhkan layanan kesehatan.

Baca Juga: Tidak Perlu Mahal! 10 Daftar Makanan Tinggi Protein yang Ramah di Kantong untuk Membentuk Otot

4. Gunakan layanan kesehatan secara bijak

Masyarakat juga diharapkan memanfaatkan layanan kesehatan sesuai kebutuhan medis dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Langkah tersebut dapat membantu menekan pemborosan biaya dalam sistem kesehatan.

5. Siapkan perlindungan finansial sejak dini

Selain menabung untuk dana darurat, memiliki perlindungan kesehatan yang sesuai kebutuhan dapat membantu mengurangi beban keuangan apabila sewaktu-waktu harus menjalani perawatan medis dengan biaya besar.

Pada akhirnya, tingginya biaya medis memang menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari. Namun, dengan menerapkan pola hidup sehat, melakukan deteksi dini penyakit, memahami perlindungan kesehatan yang dimiliki, serta mempersiapkan kondisi keuangan sejak awal, masyarakat dapat lebih siap menghadapi risiko kesehatan tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan keluarga.

Baca Juga: Dokter Ungkap Alasan Pasien TB Tetap Harus Minum Obat meski Gejala Sudah Berhenti

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah