← Beranda
Temuan Kasus TB Masih di Bawah Target, Siapkan AI untuk Percepat Skrining
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 4 Agustus 2026 | 01.45 WIB
Ilustrasi TBC. (Investor.id)

JawaPos.com - Upaya Indonesia mengeliminasi penyakit tuberkulosis (TB) pada 2030 masih menghadapi tantangan besar. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa capaian penemuan kasus TB hingga pertengahan 2026 masih berada di bawah target, karena skrining masih rendah.

Staf Tim Kerja Tuberkulosis (TB) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Kementerian Kesehatan Rita Aryati mengatakan, hingga akhir Juni lalu target penemuan dan pelaporan kasus TB seharusnya telah mencapai minimal 45 persen.

Namun, realisasinya baru mencapai 41 persen atau masih tertinggal empat persen poin dari target.

Baca Juga: Jakarta Masuk 5 Besar Kasus TBC, Krisis Septic Tank Disorot

Tak hanya penemuan kasus, tindak lanjut berupa tata laksana atau pengobatan juga belum memenuhi sasaran.

Dari target 95 persen pasien yang harus mendapatkan penanganan, realisasinya baru mencapai 89 persen.

"Kondisi ini perlu segera ditangani. Penemuan kasus harus diikuti dengan pengobatan yang cepat dan tepat untuk memutus rantai penularan TB. Hal tersebut mengingat penanganan penyakit TB sendiri merupakan salah satu program yang menjadi fokus pada Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Bapak Presiden," ujar Rita, Senin (3/8).

Oleh karena itu, ia menilai bahwa penelitian mengenai platform TBScreen.AI diharapkan dapat membantu Kemenkes meningkatkan skrining TB.

Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut mampu menganalisis hasil foto rontgen dada dalam waktu kurang dari lima detik, sehingga bisa mempercepat deteksi, terutama di daerah yang kekurangan dokter spesialis radiologi.

Baca Juga: Jakarta Masuk 5 Besar Kasus TBC, Wagub Rano: Ada Rumah Tak Pernah Kena Matahari

Indonesia sendiri masih menjadi negara dengan beban TB terbesar kedua di dunia setelah India.

Diperkirakan terdapat 1,09 juta kasus TB dan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun, sehingga percepatan deteksi dini menjadi salah satu kunci untuk mencapai target eliminasi TB pada 2030.

TBScreen.AI dikembangkan melalui kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret, University of Melbourne, Universitas Monash Indonesia, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), serta Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP), dengan dukungan KONEKSI, platform kemitraan Australia–Indonesia untuk pengetahuan dan inovasi.

Peneliti utama TBScreen.AI sekaligus dosen Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, mengatakan platform tersebut saat ini memiliki sensitivitas sebesar 83,16 persen.

“Ke depan, sensitivitas model akan terus kami kembangkan dengan ronsen
dada yang lebih banyak dan mempertimbangkan komorbiditas, serta kelompok rentan TB yang lebih luas,” pungkas Dr. Morita.

Baca Juga: Salah Seorang Peserta Latsarmil Meninggal Dunia Karena TBC, Kemhan Lakukan Klasterisasi untuk Cegah Penularan

EDITOR: Bayu Putra