JawaPos.com - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) membuka babak baru dalam penanganan pasien gagal jantung stadium lanjut. Langkah tersebut ditandai dengan penerimaan donasi Left Ventricular Assist Device (LVAD), perangkat pompa jantung mekanis yang memberikan harapan baru bagi pasien dengan fungsi jantung yang telah mengalami penurunan berat.
Pengembangan layanan ini merupakan hasil kolaborasi antara RSCM dan HeartSPAN.ai, divisi layanan heart longevity milik Borderless Healthcare Group (BHG). Kerja sama tersebut tidak hanya menghadirkan teknologi medis terbaru, tetapi juga membangun sistem layanan gagal jantung yang terintegrasi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), transfer pengetahuan, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan Indonesia.
Direktur Utama RSCM, Dr. Supriyanto Dharmoredjo, menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi gagal jantung modern. Menurutnya, inovasi ini diharapkan mampu mengurangi angka kematian akibat gagal jantung sekaligus mengurangi kebutuhan pasien mencari pengobatan ke luar negeri.
"Kami menyambut baik kesempatan untuk menghadirkan solusi penanganan gagal jantung yang lebih maju di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kematian akibat gagal jantung yang masih tinggi, sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi inovatif tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri," ujarnya.
Jawaban atas Tingginya Kasus Gagal Jantung di Indonesia
Pengembangan layanan LVAD dilakukan sebagai respons terhadap tingginya angka kasus gagal jantung di Indonesia. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) 2019, prevalensi gagal jantung di Indonesia mencapai sekitar 900 hingga 1.000 kasus per 100.000 penduduk.
Tidak hanya itu, tingkat kematian akibat penyakit tersebut tercatat mencapai sekitar 34,1 persen, yang merupakan salah satu angka tertinggi di kawasan Asia. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi terapi yang mampu meningkatkan peluang hidup pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.
LVAD sendiri merupakan alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui prosedur operasi. Perangkat ini bekerja membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh ketika kemampuan jantung pasien sudah tidak lagi optimal.
Teknologi tersebut telah banyak digunakan di berbagai negara karena terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus memperpanjang harapan hidup. Kehadiran layanan ini di Indonesia menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan terapi penyakit jantung.
Pasien Pertama Dijadwalkan Menjalani Implantasi LVAD
Sebagai tahap awal implementasi, RSCM telah menjadwalkan pemasangan LVAD pertama kepada seorang pasien perempuan berusia 45 tahun. Pasien tersebut diketahui memiliki fungsi pompa jantung yang hanya tersisa sekitar 14 persen dan telah berulang kali menjalani perawatan akibat gagal jantung.
Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM, Birry Karim, menjelaskan bahwa layanan LVAD merupakan bagian dari transformasi penanganan gagal jantung di Indonesia. Selama ini, terapi bagi pasien gagal jantung stadium lanjut masih didominasi penggunaan obat-obatan maupun transplantasi jantung.
Menurut Birry, perangkat LVAD generasi terbaru yang akan digunakan memiliki ukuran jauh lebih kecil dibandingkan teknologi sebelumnya. Desain tersebut memberikan peluang tindakan yang lebih aman, lebih nyaman bagi pasien, serta memperluas kelompok pasien yang dapat memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.
AI Dukung Seleksi Pasien hingga Pendampingan Pascatindakan
Pendiri sekaligus Chairman Borderless Healthcare Group dan pendiri HeartSPAN.ai, Dr. Wei Siang Yu, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan RSCM tidak hanya sebatas pemberian perangkat medis. Program tersebut juga mencakup pembangunan sistem layanan gagal jantung yang lebih komprehensif.
Menurutnya, teknologi AI akan dimanfaatkan dalam berbagai tahapan pelayanan, mulai dari membantu proses seleksi pasien, penyusunan protokol klinis, hingga pendampingan pascaoperasi melalui tenaga khusus atau LVAD Coordinator. AI juga akan memperkuat koordinasi antartenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu.
"Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan baru dalam penanganan gagal jantung stadium lanjut, mulai dari pemilihan pasien yang presisi, implantasi perangkat LVAD berukuran kecil dan ringan, hingga pendampingan pascaoperasi oleh LVAD Coordinator yang dilatih berdasarkan protokol internasional," ujarnya.
Dr. Wei menambahkan, perkembangan teknologi medis membuka peluang baru bagi terapi gagal jantung di masa depan. Menurutnya, perangkat LVAD generasi terbaru berpotensi digunakan sebagai terapi sementara apabila kemajuan teknologi regeneratif, termasuk terapi sel punca (stem cell), mampu memulihkan fungsi jantung sehingga alat dapat dilepas pada sebagian pasien.
Selain mendukung layanan klinis, AI juga akan dimanfaatkan untuk mempercepat proses transfer pengetahuan antara dokter di Indonesia dengan pusat-pusat layanan jantung dunia. Sistem konsultasi digital dan pelatihan jarak jauh diharapkan mempercepat peningkatan kompetensi tenaga medis nasional.
Tim RSCM Jalani Pelatihan Internasional
Sebagai bagian dari implementasi program, tim multidisiplin RSCM telah mengikuti pelatihan di Fuwai Hospital, Beijing, yang dikenal sebagai salah satu pusat layanan kardiovaskular terbesar di dunia.
Pelatihan tersebut melibatkan dokter spesialis bedah jantung, dokter spesialis jantung, tenaga rehabilitasi medis, hingga perawat. Materi yang dipelajari meliputi proses seleksi pasien, teknik implantasi LVAD, penanganan pascaoperasi, hingga pengembangan layanan gagal jantung sesuai standar internasional.
Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Konsultan Bedah Jantung Dewasa RSCM, M. Arza Dutra, menegaskan bahwa keberhasilan program LVAD tidak hanya ditentukan oleh tindakan operasi. Kolaborasi multidisiplin sejak tahap persiapan, pelaksanaan operasi, hingga pemantauan jangka panjang menjadi faktor utama keberhasilan terapi.
Menurutnya, pengembangan layanan LVAD merupakan langkah penting untuk memperkuat kapasitas nasional dalam menangani pasien gagal jantung stadium lanjut. Program tersebut juga sejalan dengan upaya menjadikan RSCM sebagai rumah sakit rujukan berstandar internasional.
Melalui kolaborasi dengan HeartSPAN.ai dan Borderless Healthcare Group, RSCM tidak hanya menghadirkan teknologi medis mutakhir, tetapi juga memperkuat kemandirian sistem layanan kesehatan nasional. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat mengurangi kebutuhan masyarakat menjalani pengobatan di luar negeri sekaligus membuka peluang Indonesia berkembang sebagai salah satu pusat pengembangan terapi gagal jantung di kawasan Asia.