← Beranda
Waspada, Anak di Lingkungan Polusi Tinggi Bisa Turun Fungsi Parunya Meski Tampak Sehat
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 9 Juli 2026 | 23.29 WIB
Ilustrasi Anak Sakit (Dok. freepik.com)

JawaPos.com - Anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan tingkat polusi udara tinggi bisa tampak sehat, meski sebenarnya punya masalah gangguan pernapasan.

Fungsi paru mereka bisa saja sudah mengalami penurunan meski secara fisik tampak sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respiratori Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauru, Sp.A., Subsp.Respi.(K), mengungkapkan, temuan itu berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada 2024.

Ia meneliti siswa di sebuah sekolah di Jakarta yang berada di kawasan dengan paparan polusi udara tertinggi.

Baca Juga: Sering Lewatkan Sarapan? Kenali 5 Efeknya bagi Kesehatan dan Aktivitas Sehari-hari

"Sebanyak 13,3 persen anak yang tampaknya sehat, tidak ada gangguan aktivitas, tidak sesak, bersekolah biasa, ternyata sudah ada penurunan fungsi paru," ujar dr. Cynthiabkepada wartawan, Kamis (8/7).

Dalam penelitian tersebut, ia mengukur kadar polutan udara PM 2,5 serta melakukan pemeriksaan fungsi paru menggunakan spirometri.

Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara tingginya paparan polusi dengan penurunan fungsi paru pada anak.

"Ternyata ada hubungannya antara tingginya kadar polutan PM2,5 terhadap hasil fungsi spirometrinya. Jadi makin tinggi polutannya, fungsi parunya makin terganggu," jelasnya.

Menurut dr. Cynthia, temuan ini menunjukkan bahwa dampak polusi udara dapat terjadi secara diam-diam tanpa disertai keluhan yang mudah dikenali.

Baca Juga: Rumah Dekat Tol Menguntungkan, tapi Ternyata Bisa Jadi Sumber Polusi untuk Anak

Dengan kata lain, gangguan fungsi paru sudah dapat muncul bahkan ketika anak terlihat sehat.

Karena itu, ia mengimbau keluarga untuk mulai mengurangi paparan polusi udara dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain tidak membakar sampah, tidak merokok di lingkungan rumah, serta menghindarkan anak dari lokasi yang sedang direnovasi karena banyak menghasilkan debu dan partikel berbahaya.

Selain itu, anak berusia di atas tiga tahun dapat menggunakan masker saat kualitas udara memburuk.

Masyarakat juga dianjurkan menghindari jalan dengan tingkat polusi tinggi, menutup jendela mobil ketika melintas di kawasan padat kendaraan, serta rutin memantau kualitas udara melalui aplikasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Baca Juga: Ternyata Polusi Bisa Menyebar di Dalam Rumah dan Membahayakan Anak, Dokter Anak Ingatkan Paparan Ini

dr. Cynthia juga menyarankan penggunaan pembersih udara dengan filter HEPA di dalam rumah karena telah didukung sejumlah penelitian sebagai salah satu cara mengurangi paparan polutan.

Menanam pohon atau tanaman hijau di sekitar rumah juga dinilai dapat membantu memperbaiki kualitas udara.

Ia menegaskan bahwa polusi udara tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat mengganggu berbagai organ tubuh.

Pada anak, dampaknya bahkan dapat bersifat jangka panjang apabila paparan terus berlangsung tanpa upaya pencegahan.

"Polusi udara dapat menyebabkan gangguan di berbagai organ tubuh manusia, terutama anak. Dampaknya bisa fatal atau menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang," pungkas dr. Cynthia.

Baca Juga: Wajah Kembali Segar, Ini 5 Tips Ampuh Atasi Kulit Kusam Akibat Polusi

EDITOR: Bayu Putra