JawaPos.com - Sebuah penelitian ilmiah mengungkap bahwa nikotin memiliki potensi memengaruhi fungsi kognitif. Termasuk kemampuan mengingat dan belajar melalui mekanisme biologis di otak.
Namun, temuan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai rekomendasi untuk mengonsumsi produk yang mengandung nikotin, mengingat zat tersebut bersifat adiktif dan tetap memiliki risiko kesehatan.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam penelitian berjudul Molecular Insights into the Benefits of Nicotine on Memory and Cognition. Studi itu mengulas bagaimana nikotin berinteraksi dengan sistem saraf dan memengaruhi proses pembelajaran, memori, serta komunikasi antarsel saraf.
Baca Juga: Penggunaan Biaya Layanan JKN di Atas 100 Persen, BPJS Kesehatan Minta Bantuan Dipercepat
Ahmad Alhowail dari Department of Pharmacology and Toxicology, College of Pharmacy, Qassim University, Arab Saudi, menjelaskan, berdasar sejumlah bukti ilmiah, nikotin menunjukkan potensi membantu memperbaiki gangguan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer, serta gangguan memori dan pergerakan pada penderita Parkinson.
Menurut dia, nikotin bekerja dengan memengaruhi berbagai mekanisme di otak yang berperan dalam proses belajar, mengingat informasi, dan menjaga kesehatan sel saraf. Sehingga berpotensi membantu mempertahankan fungsi kognitif.
Selain pada penyakit neurodegeneratif, penelitian tersebut juga mencatat adanya potensi nikotin dalam membantu memperbaiki gangguan memori yang berkaitan dengan hipotiroidisme, kurang tidur, hingga stres kronis. Pada individu sehat, nikotin dilaporkan dapat memengaruhi proses pembentukan memori dan meningkatkan kemampuan otak dalam menyimpan informasi melalui mekanisme komunikasi antarsel saraf.
Baca Juga: 98,62 Persen Penduduk Indonesia Sudah Jadi Anggota JKN Tahun 2025, Biaya Pelayanan Capai Rp 191,3 T
"Meskipun nikotin memiliki karakteristik yang berpotensi menyebabkan ketergantungan apabila digunakan dengan cara dan dosis yang tidak tepat, nikotin juga memiliki sejumlah manfaat, termasuk meningkatkan fungsi kognitif pada individu sehat serta membantu memulihkan fungsi memori pada pasien dengan penyakit seperti alzheimer, parkinson, dan hipotiroidisme," ungkap Ahmad Alhowail, dikutip Kamis (2/7).
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian tersebut masih berada dalam ranah kajian ilmiah mengenai mekanisme biologis nikotin. Temuan ini tidak berarti masyarakat dianjurkan mengonsumsi nikotin untuk meningkatkan daya ingat ataupun fungsi otak.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, mengatakan, temuan ilmiah semacam ini perlu dipahami secara proporsional berdasarkan bukti yang tersedia. Remaja, ibu hamil, maupun kelompok rentan lainnya dan non perokok, tetap tidak dianjurkan menggunakan produk yang mengandung nikotin.
Paido menyebut, masyarakat berhak mengetahui perkembangan penelitian mengenai nikotin, tetapi informasi tersebut harus disertai pemahaman mengenai risiko yang juga menyertainya.
"Kami melihat hasil riset mengenai potensi manfaat nikotin terhadap fungsi kognitif dan memori sebagai bagian dari diskusi ilmiah yang sah, tetapi harus dibaca secara hati-hati dan tidak dilebih-lebihkan," ujar Paido.
Dia menambahkan bahwa produk nikotin legal, termasuk produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, kantong nikotin, dan produk tembakau yang dipanaskan, menurut pandangannya hanya ditujukan sebagai opsi transisi bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari rokok konvensional, bukan untuk menarik pengguna baru ataupun non-perokok.
Baca Juga: Benarkah MSG Berbahaya? Ini Fakta, Mitos, dan Cara Menggunakannya agar Masakan Tetap Sehat
Paido menegaskan, berhenti menggunakan produk tembakau tetap menjadi pilihan terbaik bagi kesehatan. Karena itu, peningkatan literasi mengenai manfaat, risiko, serta keterbatasan hasil penelitian dinilai penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang valid.
"Jadi, potensi manfaat nikotin dalam studi ilmiah tidak boleh dijadikan alasan untuk konsumsi sembarangan. Yang kami dorong adalah literasi risiko: nikotin tidak bebas risiko, tetapi risikonya harus dipahami secara proporsional, terutama ketika dibandingkan dengan rokok bakar," ungkap Paido.
Hingga kini, berbagai organisasi kesehatan dunia tetap mengingatkan bahwa nikotin merupakan zat yang dapat menyebabkan ketergantungan. Karena itu, setiap temuan mengenai potensi manfaat biologisnya perlu dipahami dalam konteks penelitian medis dan tidak boleh ditafsirkan sebagai anjuran bagi masyarakat untuk mulai menggunakan produk yang mengandung nikotin.