JawaPos.com - Gumoh pada bayi kebanyakan memang merupakan hal yang biasa terjadi karena proses alami. Namun, orang tua perlu memahami bahwa tidak semua gumoh bersifat normal karena dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi penyakit refluks gastroesofageal atau gastroesophageal reflux disease (GERD).
Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterohepatologi dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), menjelaskan bahwa pembahasan GERD pada anak perlu dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni GERD pada bayi dan GERD pada anak yang lebih besar karena perjalanan penyakit serta penanganannya berbeda.
“Kalau kita bicara GERD pada anak, kita harus membagi menjadi GERD pada bayi dan GERD pada anak yang lebih besar karena perjalanan penyakit serta penatalaksanaannya berbeda,” kata dr. Sri Kesuma Astuti dalam sesi media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dikutip Senin (29/6).
Baca Juga: Darurat Kekeringan di Jateng, BNPB Imbau Masyarakat Siap Siaga, Terus Salurkan Bantuan Air Bersih
Sebelum membahas lebih lanjut terkait GERD pada anak, mari kenali dulu perbedaan refluks, gumoh, dan muntah pada bayi.
Refluks, Gumoh, dan Muntah Tidak Sama
Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI itu menjelaskan bahwa refluks merupakan kondisi ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan atau esofagus tanpa adanya upaya aktif dari bayi untuk mengeluarkannya.
Isi lambung yang naik tersebut tidak hanya berupa makanan atau susu, tetapi juga dapat mengandung asam lambung, asam empedu, serta enzim pencernaan.
“Ketika refluks ini sampai masuk ke rongga mulut dan keluar melalui mulut, inilah yang disebut gumoh atau regurgitasi,” ujar dr. Sri.
Ia menegaskan bahwa gumoh berbeda dengan muntah. Gumoh terjadi secara pasif sehingga isi lambung keluar begitu saja, sedangkan muntah melibatkan kontraksi dan usaha aktif tubuh untuk mengeluarkan isi lambung.
Kapan Refluks Menjadi GERD?
Menurut dr. Sri, kondisi refluks baru disebut sebagai penyakit seperti GERD apabila aliran balik isi lambung menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi.
“Dibilang sebagai penyakit kalau refluks tadi pada akhirnya menimbulkan gejala-gejala yang mengganggu dan atau menimbulkan komplikasi,” katanya.
Tubuh Bayi Memiliki Mekanisme Perlindungan
Meski isi gumoh mengandung asam lambung, empedu, dan enzim pencernaan yang berpotensi merusak kerongkongan, kasus GERD pada bayi sebenarnya tidak terlalu sering terjadi.
dr. Sri menjelaskan tubuh memiliki mekanisme perlindungan alami. Air liur dan mukus pada kerongkongan membantu menetralkan asam lambung, sementara gerakan peristaltik mendorong isi lambung kembali ke lambung dengan cepat.
“Ketika mekanisme perlindungan ini tidak berfungsi secara optimal maka terjadilah kerusakan pada dinding kerongkongan dan terjadilah GERD,” katanya.
Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai Orang Tua
Meski sebagian besar gumoh bersifat normal, orang tua perlu mewaspadai sejumlah tanda bahaya yang dapat mengarah pada GERD atau gangguan lain.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Muntah darah.
Berat badan tidak bertambah sesuai usia.
Bayi melengkungkan punggung atau postur Sandifer.
Rewel berlebihan dan berkepanjangan.
Menolak menyusu.
Mengalami sembelit atau diare.
Gangguan tidur.
“Kalau ada tanda bahaya ini maka mungkin itu bukan suatu gumoh yang normal,” kata dr. Sri.