JawaPos.com - Belakangan banyak anggapan bahwa anak bisa mengalami pubertas dini karena minum air dari galon isi ulang karena berbahan polikarbonat dinilai tidak tepat.
Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra, menegaskan belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan konsumsi air dari galon guna ulang menjadi penyebab pubertas dini pada anak.
Menurut Hermawan, pandangan tersebut muncul karena adanya kandungan Bisphenol A (BPA) yang digunakan dalam pembuatan bahan polikarbonat.
Namun, ia menilai mengaitkan pubertas dini secara langsung dengan konsumsi air dari galon polikarbonat merupakan kesimpulan yang keliru.
"Pubertas dini akibat mengonsumsi air dari galon guna ulang itu probabilitas semu. Kalau BPA-nya sendiri yang dikonsumsi baru bisa memicu genetik karena sifat toxic zat tersebut," katanya kepada wartawan, Jumat (12/6).
Ia menjelaskan bahwa kandungan BPA pada galon isi ulang telah diatur regulator dan berada dalam batas aman yang diperbolehkan.
Karena itu, keberadaan BPA dalam kemasan tidak serta-merta menimbulkan risiko kesehatan seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat.
"Jadi memang galon mengandung BPA tapi dalam kadar yang sangat aman dan terstandar," tegasnya.
Pubertas Dini Dipengaruhi Banyak Faktor
Hermawan menjelaskan bahwa pubertas dini adalah kondisi ketika kematangan seksual terjadi lebih cepat dibandingkan usia rata-rata.
Pada perempuan, pubertas umumnya terjadi pada usia 11 hingga 12 tahun, sedangkan pada laki-laki sekitar usia 15 tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut tergolong langka dan dipengaruhi berbagai faktor yang kompleks.
Faktor lingkungan, pola pergaulan, interaksi sosial, hingga asupan makanan yang memengaruhi hormon lebih berpotensi berperan dalam terjadinya pubertas dini.
"Tapi memang pubertas itu bisa distimulasi oleh berbagai hal. Bisa karena kontak sosial yang terlalu terbuka, tapi bisa juga karena faktor lingkungan, makanan yang mempengaruhi hormonal, dan yang paling pokok juga pergaulan. Ini bisa memicu," katanya.
Ia menambahkan bahwa kasus pubertas dini tidak umum terjadi karena hanya ditemukan pada sekitar satu dari 5.000 anak.
"Tapi pubertas ini itu memang kasus yang tidak umum karena dia sifatnya lebih cepat dari rata-rata maka disebut kasus yang jarang," ucapnya.
BPA Tidak Mudah Lepas ke Air Minum
Sementara itu, ahli teknologi pangan Hermawan Seftiono menjelaskan bahwa BPA dan galon polikarbonat merupakan dua hal yang berbeda.
BPA digunakan sebagai bahan pembentuk polikarbonat dan akan berubah menjadi bagian dari struktur polimer saat proses produksi berlangsung.
Ketua Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Trilogi itu mengatakan BPA tidak mudah bermigrasi ke dalam air minum dalam kondisi penggunaan normal.
"Pada suhu tinggi baru komponen BPA bisa lepas dari kemasan polikarbonat. BPA tidak akan bisa lepas dari kemasan pangan tanpa panas atau energi yang besar," kata Hermawan Seftiono.
Ia juga menyebut kandungan BPA pada kemasan pangan telah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dengan batas aman maksimal 0,6 mg/kg. Selama ini, kadar BPA pada kemasan yang beredar masih berada di bawah ambang batas tersebut.
Baca Juga: BPOM Tegaskan Larangan Klaim BPA Free pada Kemasan yang Memang Tak Mengandung BPA
"Sebenarnya BPA pada kemasan tidak mudah lepas karena BPA berinteraksi dengan karbonat membentuk polimer polikarbonat," ucapnya. (*)