← Beranda
10 Penyebab Usus Buntu yang Perlu Diwaspadai, Jangan Anggap Sepele Nyeri Perut Kanan Bawah!
Fatah Elhusein• Kamis, 11 Juni 2026 | 13.59 WIB
Ilustrasi usus buntu (Magnific)

JawaPos.com - Nyeri perut yang datang tiba-tiba, terutama di bagian kanan bawah sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda radang usus buntu atau apendisitis yang membutuhkan penanganan medis segera.

Usus buntu merupakan organ kecil berbentuk seperti kantong yang menempel pada usus besar. Ketika terjadi penyumbatan pada rongga usus buntu, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat sehingga memicu peradangan, pembengkakan, bahkan terbentuknya nanah. Jika terlambat ditangani, usus buntu yang meradang berisiko pecah dan menyebabkan infeksi serius di rongga perut.

Melansir dari Alodokter dan Halodoc, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami radang usus buntu. Sebagian di antaranya berkaitan dengan kondisi medis tertentu, sementara sebagian lainnya berasal dari kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele.

Berikut adalah beberapa penyebab usus buntu yang perlu diketahui.

Baca Juga: Apakah Benar Makanan Pedas Bisa Menyebabkan Usus Buntu? Ketahui tentang Definisi Penyakit Ini serta Gejalanya

1. Penumpukan Feses yang Mengeras

Salah satu penyebab utama radang usus buntu adalah adanya sumbatan pada pintu rongga usus buntu akibat tinja yang mengeras atau disebut fekalit. Penyumbatan ini membuat bakteri terperangkap di dalam usus buntu dan berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, usus buntu mengalami peradangan, pembengkakan, hingga infeksi. Kondisi ini menjadi alasan mengapa menjaga kesehatan saluran cerna dan mencegah sembelit sangat penting untuk dilakukan.

2. Pembengkakan Jaringan Akibat Infeksi

Infeksi pada saluran pencernaan maupun bagian tubuh lain ternyata dapat memicu radang usus buntu. Infeksi dapat menyebabkan penebalan atau pembengkakan jaringan pada dinding usus buntu. Ketika jaringan tersebut membesar, rongga usus buntu dapat tersumbat sehingga memicu peradangan. Karena itu, infeksi yang tidak ditangani dengan baik sebaiknya tidak dianggap remeh.

3. Infeksi Parasit dalam Saluran Cerna

Keberadaan parasit di saluran pencernaan, seperti cacing kremi atau ascariasis, juga diduga menjadi salah satu penyebab usus buntu. Parasit dapat menyumbat rongga usus buntu sehingga memicu pertumbuhan bakteri di dalamnya. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan makanan serta rutin mencuci tangan menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko infeksi cacing.

4. Kondisi Medis Tertentu

Beberapa penyakit dapat meningkatkan risiko terjadinya radang usus buntu. Misalnya, tumor di area perut atau penyakit radang usus (inflammatory bowel disease). Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penyumbatan pada saluran usus buntu. Jika seseorang memiliki riwayat penyakit pencernaan tertentu, pemeriksaan Kesehatan secara berkala sangat dianjurkan.

5. Cedera pada Bagian Perut

Meski tergolong jarang terjadi, cedera pada perut juga dapat menjadi faktor pemicu radang usus buntu. Benturan keras atau trauma pada area perut diduga dapat menyebabkan perubahan pada struktur jaringan sehingga memengaruhi kondisi usus buntu. Apabila mengalami nyeri perut setelah cedera, segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.

6. Sering Menahan Kentut

Kebiasaan menahan kentut ternyata tidak baik bagi kesehatan pencernaan. Halodoc menyebutkan bahwa gas yang tertahan dalam saluran cerna dapat meningkatkan tekanan pada usus. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada usus buntu. Karena itu, jangan biasakan menahan keinginan untuk buang gas.

7. Gemar Mengonsumsi Makanan yang Dibakar

Makanan yang dibakar hingga bagian permukaannya menghitam, seperti sate atau ikan bakar yang gosong, mengandung zat karsinogen. Meski hubungan langsung dengan radang usus buntu masih memerlukan penelitian lebih lanjut, konsumsi makanan yang dibakar secara berlebihan sebaiknya tetap dibatasi demi menjaga kesehatan pencernaan.

8. Terlalu Sering Makan Gorengan

Gorengan memang sulit ditolak. Namun, konsumsi makanan tinggi lemak dan hasil proses penggorengan berulang kali dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Halodoc menyarankan untuk membatasi konsumsi gorengan dan memilih metode pengolahan yang lebih sehat, seperti dikukus atau direbus.

9. Konsumsi Daging Olahan secara Berlebihan

Daging kalengan dan berbagai produk olahan instan sering kali mengandung bahan tambahan tertentu yang kurang baik jika dikonsumsi terus-menerus. Meskipun belum menjadi penyebab langsung, pola makan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pencernaan, termasuk peradangan.

10. Jajan Sembarangan

Kebiasaan membeli makanan yang kebersihannya tidak terjamin juga perlu diwaspadai. Makanan yang terkontaminasi bakteri seperti Salmonella dan Escherichia coli dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan. Dalam beberapa kasus, infeksi tersebut berpotensi memicu terjadinya radang usus buntu. Karena itu, pastikan makanan yang dikonsumsi bersih dan diolah dengan higienis.

Selain memahami berbagai penyebabnya, masyarakat juga perlu mengenali gejala usus buntu, seperti nyeri perut yang berpindah ke bagian kanan bawah, mual, muntah, demam, kehilangan nafsu makan, hingga perut terasa kembung. 

Jika mengalami keluhan tersebut, terutama nyeri perut yang semakin parah, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi serius akibat pecahnya usus buntu dan meningkatkan peluang pemulihan yang lebih baik.

Baca Juga: Selain Makanan Pedas, Ini 4 Makanan Pemicu Radang Usus Buntu yang Sering Kita Abaikan

EDITOR: Candra Mega Sari