JawaPos.com – Psikologi mengungkap bahwa tanda depresi yang tersembunyi sering kali tidak terasa seperti depresi sama sekali, sehingga mudah diabaikan dalam waktu yang lama.
Banyak orang tidak menyadari bahwa perasaan tidak memiliki pendapat atau tidak peduli bisa menjadi sinyal depresi yang sesungguhnya sedang berkembang dalam diri.
Mengenali tanda-tanda depresi yang tidak terasa seperti depresi ini sangat penting untuk mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi jauh lebih berat dan berbahaya.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (7/6), berikut empat tanda depresi yang tersembunyi dan tidak terasa seperti depresi berdasarkan sudut pandang psikologi yang perlu diperhatikan dengan seksama.
Baca Juga: 5 Tanda Depresi pada Remaja Menurut Psikologi, Segera Tangani Sebelum Terlambat!
1. Berhenti memiliki pendapat tentang hampir segalanya
Tidak memiliki pendapat sesekali adalah hal normal, namun menjadikannya kebiasaan mayoritas adalah salah satu tanda depresi yang halus namun nyata.
Kata "depress" secara harfiah berarti menekan atau membungkam ekspresi, dan tidak berani berpendapat adalah salah satu bentuk pembungkaman diri yang paling umum.
Sebuah studi tahun 2024 dalam Australian & New Zealand Journal of Psychology menemukan bahwa membungkam diri berkaitan dengan depresi lintas budaya dan gender secara timbal balik.
Semakin seseorang menahan ekspresi diri, semakin sulit orang-orang di sekitarnya untuk benar-benar mengenal siapa mereka yang sesungguhnya.
Menghindari konflik dengan tidak pernah berpendapat mungkin terasa lebih aman sementara, namun biaya jangka panjangnya adalah tidak pernah benar-benar dikenal orang lain.
Pada akhirnya, seseorang tidak bisa dipahami oleh orang yang dicintai jika mereka sendiri tidak pernah mengungkapkan apa yang ada di dalam diri mereka.
2. Berhenti peduli pada hal-hal yang dulu sangat berarti
Mengucapkan "aku tidak peduli" tentang hal-hal yang sebenarnya penting adalah bentuk pembungkaman ekspresi batin yang sering kali tidak disadari pelakunya.
Pernyataan ini secara tidak langsung mengkomunikasikan bahwa diri sendiri tidak penting dan bahwa keinginan sendiri tidak layak untuk diprioritaskan.
Memilih untuk terlihat setuju dengan berkata "tidak peduli" memang menghindari konflik eksternal, namun justru menciptakan konflik internal yang jauh lebih menyiksa.
Baca Juga: Cara Mendukung Pasangan yang Mengalami Depresi: 10 Langkah Bijak Menjaga Hubungan Tetap Sehat
Menurut pekerja sosial klinis Carol Freund, orang yang mengalami depresi sering kehilangan koneksi dengan suara batin mereka dan tidak lagi mendengar apa yang dirasakan tubuh.
Jarak antara apa yang dirasakan secara fisik dan emosional dengan apa yang mau diakui pikiran secara sadar adalah celah yang khas pada kondisi depresi.
Ketika "aku tidak peduli" berubah dari pernyataan jujur menjadi respons otomatis, biasanya ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi di bawah permukaan.
3. Tidak lagi mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan
Merasa tidak tahu apa yang diinginkan bukan berarti keinginan itu tidak ada, melainkan keinginan itu sudah terkubur di bawah begitu banyak lapisan penilaian diri.
Ketidakjelasan tentang keinginan sering bermula dari masa kecil, saat seseorang diajarkan bahwa memiliki keinginan tertentu bisa membuat mereka dilihat sebagai orang yang buruk.
Sebuah studi Stanford Medicine 2023 menemukan bahwa sekitar 27 persen orang dengan depresi mengalami penurunan aktivitas di area otak yang bertanggung jawab atas pemilihan tujuan.
Area otak yang bertugas merencanakan dan mengambil keputusan berjalan sangat lambat pada kondisi depresi, membuat keinginan terasa genuinly jauh dari jangkauan.
Bisikan-bisikan keinginan hati sebenarnya masih ada, namun tertimbun di bawah begitu banyak penghakiman diri sehingga tidak lagi bisa didengar secara jelas.
Bahkan saat bisikan itu terdengar, seseorang yang terdepresi sering memutuskan untuk tidak berbagi keinginan itu, bahkan kepada diri sendiri sekalipun.
4. Mulai merasa bahwa segalanya tidak ada artinya
Perasaan tidak memiliki tujuan adalah tanda halus lain dari depresi yang sedang menekan ekspresi diri seseorang secara perlahan namun pasti.
Tanpa pendapat yang kuat, emosi yang jelas, dan keinginan yang diakui, seseorang mulai percaya bahwa mereka tidak tahu mengapa mereka ada di dunia ini.
Kejernihan sebenarnya tetap ada di dalam diri, namun telah ditekan begitu dalam oleh depresi sehingga tidak lagi bisa dilihat atau dirasakan dengan jelas.
Para peneliti yang mewawancarai remaja dengan depresi menemukan bahwa banyak dari mereka menggambarkan perasaan ini sebagai "hanya menjalani saja" atau seperti berada di autopilot.
Mereka menggambarkan pengalaman itu seolah-olah menyaksikan kehidupan mereka sendiri berjalan dari kejauhan tanpa bisa benar-benar terlibat di dalamnya.
Melanjutkan pola menekan ekspresi diri ini tanpa disadari bisa membawa seseorang ke dalam keputusasaan yang semakin dalam dan semakin sulit untuk keluar darinya.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Sederhana yang Dapat Mengurangi Beban Pikiran Saat Depresi Melanda Tanpa Sebab