← Beranda
7 Fakta Psikologis Tentang Kesehatan Mental Gen Z yang Sulit Diabaikan
Rabbany WanadrianiJumat, 5 Juni 2026 | 21.00 WIB
ilustrasi Generasi Z. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Generasi Z merujuk pada mereka yang lahir antara tahun 1997 dan 2012.

Generasi ini telah menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan pesat dunia digital, melalui platform media sosial dan Kecerdasan Buatan alias AI.

Satu topik yang selalu menjadi perhatian Generasi Z adalah kesejahteraan mental mereka.

Gen Z dikenal karena mendobrak norma-norma sosial dan menghancurkan prasangka serta stereotip yang tidak adil terkait masalah kesehatan mental.

Melansir English jagran, berikut tujuh fakta psikologis tentang kesehatan mental Generasi Z.

1. Berita menimbulkan stres

Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu dengan berita daripada jenis media lainnya.

Mayoritas menganggap diri mereka selalu terhubung dengan berita, semua itu berkat media sosial yang telah menjadi lebih dari sekadar platform untuk memposting dan menyukai konten.

2. Terlalu banyak informasi

Selain menyebabkan kecemasan, konsumsi media berita menyebabkan kesulitan berkonsentrasi dan perhatian yang terpecah-pecah sehingga Gen Z mengalami depresi akibat kelebihan informasi.

3. Stigma terhadap bersuara

Menurut data UNICEF, sekitar 40 persen anggota Generasi Z mengalami stigma untuk membicarakan kesehatan mental mereka di sekolah atau tempat kerja.

Oleh karena itu, banyak anak muda menyembunyikan masalah mereka karena stigma, alih-alih mencari bantuan dan mencegah masalah lebih lanjut.

4. Kesadaran akan sumber daya masih rendah

Beberapa Generasi Z mengatakan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mendapatkan bantuan untuk kesehatan mental mereka.

Kurangnya kesadaran akan layanan konseling, nomor telepon bantuan, atau program di tempat kerja mencegah kaum muda menggunakan sumber daya yang tersedia meskipun bersedia melakukannya.

5. Gerakan, kesadaran diri, dan interaksi sosial

Aktivitas yang berkaitan dengan gerakan, kesadaran diri, dan interaksi sosial dinilai paling bermanfaat untuk kesehatan mental Generasi Z.

Aktivitas-aktivitas tersebut bantu mengurangi ketegangan fisiologis, meningkatkan emosi positif, dan menciptakan rasa kebersamaan.

6. Tekanan teman sebaya

Pengaruh teman sebaya sangat kuat. Ketika teman-teman menormalisasi pencarian bantuan atau berbagi strategi mengatasi masalah, individu lebih cenderung mengadopsinya.

Dengan cara yang sama, teman sebaya juga dapat menormalisasi risiko mengatasi masalah yang tidak sehat. Jadi, berhati-hatilah.

7. Teknologi bak pedang bermata dua

Teknologi dapat memberikan dukungan melalui aplikasi kesehatan mental, sesi terapi daring, dan berbagai forum.

Sementara itu juga dapat menyebabkan stres melalui tekanan media sosial, perbandingan terus-menerus dengan orang lain, dan penyebaran informasi yang salah.

EDITOR: Hanny Suwindari