← Beranda
Pentingnya Pemenuhan Lemak saat MPASI, Ada Hubungannya dengan Otak
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 3 Juni 2026 | 22.41 WIB
Ilustrasi MPASI. (freepik)

JawaPos.com – Lemak kerap dianggap sebagai asupan yang harus dihindari karena dikaitkan dengan obesitas dan penyakit jantung. Namun, dokter spesialis anak mengingatkan bahwa anggapan tersebut tidak berlaku bagi bayi dan anak di bawah usia dua tahun yang sedang menjalani masa pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., menegaskan bahwa lemak justru menjadi komponen penting dalam menu MPASI karena berperan besar dalam pertumbuhan dan perkembangan otak anak.

“Bagi orang dewasa, gula, garam, lemak (GGL) harus dibatasi. Namun, ini tidak berlaku untuk anak-anak di bawah dua tahun, terutama sekali lemak. Lemak itu penting sekali untuk anak. Lemak wajib ada di tiap menu MPASI anak,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (3/6).

Baca Juga: Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT

Menurut dr. Ian, lemak termasuk salah satu dari tiga makronutrisi utama selain karbohidrat dan protein yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh anak. Ia menjelaskan, kebutuhan lemak anak di bawah dua tahun mencapai sekitar 39 persen dari total kebutuhan kalori harian, sementara anak di atas dua tahun membutuhkan sekitar 34 persen.

Ia memaparkan bahwa berdasarkan sumbernya, lemak terbagi menjadi lemak hewani dan nabati. Sementara berdasarkan sifatnya, ada lemak jenuh (saturated fat) dan lemak tak jenuh (unsaturated fat). Lemak tak jenuh seperti DHA, omega-3, dan omega-6 diketahui penting untuk mendukung perkembangan otak serta kesehatan saluran cerna anak.

“Otak anak dibentuk dalam dua tahun pertama, dan salah satu pembentuk utama otak adalah lemak. Kalau anak tidak mendapat lemak yang cukup, perkembangan otaknya jadi tidak optimal,” jelasnya.

Bukan hanya lemak tak jenuh, dr. Ian juga menilai lemak jenuh memiliki fungsi penting bagi anak, terutama sebagai sumber kalori untuk membantu penambahan berat badan. Hal ini berbeda dengan orang dewasa yang dianjurkan membatasi konsumsi lemak jenuh.

“Untuk orang dewasa memang perlu dihindari. Tapi bagi anak, lemak jenuh justru sangat penting untuk menyumbang kalori utama. Bila anak kurang nutrisi, berat badannya kurang, berikanlah lemak jenuh,” katanya.

Ia menjelaskan, satu gram lemak mengandung sekitar 9 kilokalori, lebih tinggi dibanding karbohidrat dan protein yang masing-masing hanya mengandung 4 kilokalori. Karena itu, lemak menjadi salah satu sumber energi penting dalam MPASI.

Sumber lemak jenuh dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan seperti susu, butter, keju, daging, ayam, hingga santan. Cara pemberiannya pun beragam, mulai dari dimasak langsung sebagai menu MPASI hingga dijadikan topping pada bubur atau nasi.

dr. Ian mengingatkan orang tua untuk lebih cermat memilih sumber lemak bagi anak. Menurutnya, lemak jenuh asli biasanya memadat dan berwarna putih pada suhu ruang, kemudian mencair saat dipanaskan.

“Jadi jangan salah, pilih lemak jenuh asli, bukan lemak rasa daging,” tegasnya.

Pesan serupa disampaikan CEO Bumboo, Jeffrey Sutanto. Ia menilai tantangan seperti Gerakan Tutup Mulut (GTM) dan picky eater pada anak membuat orang tua perlu memastikan setiap suapan yang dikonsumsi anak tetap padat gizi dan kalori.

“Walaupun yang masuk cuma 3–4 suap, pastikan harus padat gizi dan padat kalori. Salah satu sumber kalori adalah lemak hewani,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Barefood Indonesia juga memperkenalkan Bumboo Fat Oil sebagai pelengkap menu MPASI yang terdiri dari varian lemak sapi, lemak ayam, dan minyak zaitun. Produk ini diklaim menggunakan lemak asli tanpa pengawet dan perisa, serta dirancang untuk membantu meningkatkan selera makan anak melalui aroma alami.

Jeffrey pun mengingatkan bahwa keputusan memilih asupan bagi anak akan berdampak pada tumbuh kembang mereka di masa depan.

“Mungkin 20–30 tahun lagi, kita sudah tidak ingat produk apa yang diberikan ke anak. Tetapi tubuh mereka nanti adalah hasil dari produk yang diberikan saat ini,” pungkasnya.

 

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah