JawaPos.com – Cara memanaskan kembali masakan hewan kurban tidak boleh dilakukan sembarangan karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri jika dilakukan berulang kali. Kebiasaan memanaskan masakan ini sering dilakukan saat perayaan Idul Adha.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Jovita Amelia, M.Sc, Sp.GK mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan cara penyimpanan dan pemanasan ulang makanan berbahan daging kurban jika akan dimakan keesokan hari.
“Makanan yang akan disimpan sebaiknya disimpan di pendingin dan untuk menghabiskan disarankan dipanaskan hingga cukup panas untuk menghilangkan bakteri,” ujar dr. Jovita saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (28/5).
Ia menegaskan, makanan olahan daging tidak disarankan dipanaskan berulang kali karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri yang berbahaya bagi kesehatan.
Baca Juga: Gerebek Titik Rawan Jakpus: Sita Sabu dan Ribuan Pil Tramadol, 11 Orang Diamankan
“Tidak disarankan memanaskan berkali-kali karena risiko kontaminasi bakteri,” tambahnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat memperhatikan kebersihan dan cara memasak daging kurban sejak awal, yakni dengan mencuci bersih dan memasak hingga benar-benar matang.
Batas Aman Konsumsi Daging Kurban, Jangan Tiap Hari!
Namun begitu, dr. Jovita menekankan pentingnya membatasi konsumsi daging merah agar tetap aman bagi tubuh. Apalagi saat pembagian daging kurban.
“Daging merah tidak disarankan terlalu banyak karena kaitannya dengan berbagai masalah kesehatan, di antaranya kanker. Jadi yang disarankan 350–500 gram per minggu,” tuturnya.
Ia menjelaskan, konsumsi daging merah idealnya dibatasi sekitar dua hingga tiga porsi per minggu. Kebiasaan mengonsumsi daging setiap hari sebaiknya dihindari.
“Tidak disarankan konsumsi daging merah setiap hari. Yang disarankan pembatasan 2–3 porsi daging merah per minggu,” jelasnya.
Cara Aman Konsumsi Daging Kurban
Menurutnya, daging kurban tetap aman dikonsumsi selama diolah dengan benar, yakni dicuci bersih dan dimasak hingga matang. Selain itu, porsi konsumsi juga perlu diperhatikan agar tidak berlebihan.
“Dicuci bersih dan dimasak hingga matang,” katanya.
Waspadai Olahan Tinggi Garam
dr. Jovita juga mengingatkan bahwa risiko kesehatan seperti hipertensi lebih banyak dipicu oleh olahan daging yang tinggi garam, bukan dagingnya secara langsung. Garam berlebih bisa berasal dari penyedap, saus, hingga kaldu blok.
“Yang perlu diperhatikan oleh penderita hipertensi adalah konsumsi garam yang tidak boleh berlebihan,” ujarnya.
Ia menyarankan agar masyarakat mengurangi penggunaan garam dan memilih bagian daging yang tidak terlalu berlemak untuk menekan risiko kolesterol.
“Dicuci bersih, dimasak matang dan hindari pemakaian garam berlebihan. Jika memungkinkan hindari bagian yang berlemak,” pungkasnya.