Profesor Riset Bidang Epidemiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Masdalina Pane, menyatakan, sekitar 60 hingga 70 persen penyakit menular yang rawan wabah berasal dari hewan.
“Zoonosis itu adalah penyakit infeksi yang menular melalui perantara hewan. Untuk penyakit-penyakit rawan wabah atau epidemic-prone diseases, 60 sampai 70 persen ditularkan melalui hewan,” kata Masdalina Pane saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (15/5).
Baca Juga: Waspada Hantavirus, Pakar UNAIR Ungkap Cara Penularan dari Tikus yang Jarang Disadari
Pengertian Penyakit Zoonosis
Masdalina menjelaskan, zoonosis merupakan penyakit yang awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini dapat berasal dari berbagai hewan seperti unggas, tikus, kelelawar, hingga nyamuk.
Ia mencontohkan, Covid-19 yang pada awalnya diduga berasal dari hewan kelalawar sebelum akhirnya menyebar luas di manusia. Selain itu, flu burung H5N1 juga termasuk penyakit zoonosis yang berasal dari unggas.
“Kalau sudah penularannya dari orang ke orang, risiko untuk mewabahnya menjadi lebih besar,” tuturnya.
Menurut Masdalina, mutasi paling sering terjadi pada virus dibandingkan bakteri. Mutasi tersebut sebenarnya merupakan proses alami virus untuk bertahan hidup dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
“Yang banyak bermutasi itu virus. Sebenarnya mutasi merupakan salah satu upaya virus untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungannya,” jelasnya.
Ia mengatakan perubahan suhu dan kondisi lingkungan dapat membuat virus mengembangkan mekanisme perlindungan diri sehingga lebih mudah bertahan hidup dan berkembang.
Meski sebagian besar terjadi secara alami, Masdalina mengakui ada pula kemungkinan rekayasa di laboratorium berteknologi tinggi seperti Biosafety Level 4 (BSL-4).
Baca Juga: 1 Kasus Hantavirus Muncul di Jatim, Dinkes Perketat Deteksi Dini di RS Rujukan
Keanekaragaman Hayati Indonesia Bisa Jadi Bumerang
Keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat besar bisa menjadi ancaman serius apabila penyakit zoonosis tidak dikendalikan dengan baik. Keberadaan hewan yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia bisa jadi senjata makan tuan.
Profesor Riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Masdalina Pane menyebut bahwa Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara megadiversity ini meniliki jumlah mikroorganisme yang sangat besar dan berpotensi memicu penyakit hingga wabah.
“Indonesia ini salah satu negara yang disebut sebagai megadiversity. Megadiversity itu artinya keanekaragaman hayati atau biodiversity di negara kita itu sangat besar sekali,” kata Masdalina Pane kepada JawaPos.com, Sabtu (16/5).
Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia itu menjelaskan, banyaknya mikroorganisme di Indonesia dapat menjadi keuntungan, tetapi juga berpotensi menjadi ancaman kesehatan apabila mampu menginfeksi manusia.
“Ratusan ribu jenis mikroorganisme yang ada di Indonesia ini bisa menjadi benefit untuk kita, tapi juga bisa menjadi ancaman. Yang bisa sampai ke manusia dan kemudian menimbulkan penyakit serta wabah itu juga jumlahnya ratusan,” tuturnya.
Baca Juga: 1 Warga Jatim Positif Hantavirus pada Januari 2026, Awalnya Didiagnosis Leptospirosis
DBD hingga Rabies Masih Jadi Ancaman
Di tengah banyaknya mikroorganisme itu, Masdalina mengungkapkan sejumlah penyakit zoonosis yang masih menjadi perhatian di Indonesia antara lain demam berdarah dengue (DBD), malaria, flu burung, antraks, hingga rabies.
Menurutnya, DBD masih menjadi penyakit zoonosis paling sering ditemukan karena ditularkan melalui nyamuk. Sementara malaria hingga kini masih ditemukan di sejumlah wilayah timur Indonesia, terutama Papua.
“Demam berdarah itu kan zoonotik, ditularkan melalui nyamuk. Kemudian malaria, walaupun malaria sudah mampu kita eliminasi, sekarang tinggal ada di wilayah timur,” tuturnya.
Selain itu, flu burung juga masih terus dipantau karena memiliki risiko fatalitas tinggi. Menjelang Iduladha, masyarakat juga diminta mewaspadai antraks yang kerap muncul akibat konsumsi hewan sakit.
Masdalina menambahkan beberapa daerah di Indonesia juga masih menjadi kantong rabies, seperti Bali dan sejumlah wilayah di Sumatera Utara.
Baca Juga: BBKK Surabaya Waspadai Penyebaran Hantavirus di Pelabuhan dan Bandara
Fatalitas Penyakit Zoonosis Berbeda-beda
Terkait tingkat fatalitas penyakit zoonosis, Masdalina menyebut bahwa pengukurannya mesti menggunakan case fatality rate atau persentase kematian dari total pasien yang terinfeksi.
Ia mencontohkan, rabies sebagai salah satu penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tertinggi apabila pasien sudah dinyatakan positif terinfeksi.
“Kalau sudah positif terinfeksi rabies itu 100 persen kematiannya,” ungkapnya.
Namun, ia menegaskan tidak semua penyakit zoonosis memiliki fatalitas tinggi. Hantavirus misalnya, memiliki tingkat kematian berbeda tergantung jenis variannya.
“Hantavirus jenis HRFS angka kematiannya 1 sampai 15 persen. Tapi ada varian lain yang fatalitasnya bisa sampai 60 persen,” jelasnya.
Masdalina juga menilai Covid-19 sebenarnya memiliki tingkat virulensi lebih rendah dibanding sejumlah penyakit zoonosis lain meski sempat memicu pandemi global.
“Dibandingkan penyakit-penyakit lain sebenarnya Covid itu virulensinya rendah,” katanya.