← Beranda
IDAI Sebut Indonesia Masih Punya Tantangan Diagnosis Kasus Malaria Knowlesi, PCR Harus Jadi Standar
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 14 Mei 2026 | 23.04 WIB
ilustrasi nyamuk menggigit manusia. (Freepik)

JawaPos.com – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengenali dan mendiagnosis kasus malaria knowlesi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut pemeriksaan malaria di fasilitas kesehatan saat ini umumnya masih mengandalkan mikroskop dan rapid test.

Dokter dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, dr Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan pemeriksaan malaria dengan mengandalkan mikroskop dan rapid test dinilai belum optimal mendeteksi malaria knowlesi.

“Masalah kita adalah tantangan dalam mengenali knowlesi. Biasanya diagnosis malaria di puskesmas atau dinas kesehatan hanya menggunakan mikroskop,” ujar Dr Inke dalam pemaparannya kepada wartawan, Kamis (14/5).

Baca Juga: Kenali Gejala Malaria Knowlesi, Bisa Sebabkan Demam hingga Gagal Ginjal

Padahal, dr. Inke menjelaskan bahwa pemeriksaan mikroskopis sering kali hanya dapat menunjukkan adanya parasit malaria tanpa mampu membedakan apakah infeksi berasal dari malaria manusia atau malaria yang berasal dari monyet seperti malaria knowlesi.

Akibatnya, banyak kasus malaria knowlesi tidak teridentifikasi secara spesifik dan tercatat sebagai malaria biasa.

Selain pemeriksaan mikroskop, rapid diagnostic test atau rapid test juga banyak digunakan di layanan kesehatan saat ini. Namun, dr. Inka menyebut bahwa alat tersebut memiliki sensitivitas rendah terhadap malaria knowlesi.

“Rapid test ini sangat spesifik untuk malaria yang ditularkan manusia dan sensitivitasnya sangat rendah untuk knowlesi. Jadi sering hasilnya negatif padahal sebenarnya terinfeksi,” jelasnya.

PCR Jadi Standar Emas Diagnosis

dr. Inke menjelaskan pemeriksaan yang menjadi gold standard untuk memastikan malaria knowlesi adalah polymerase chain reaction (PCR). Namun pemeriksaan tersebut belum menjadi standar diagnosis malaria di Indonesia.

Ia mencontohkan Malaysia yang kini mewajibkan pemeriksaan PCR untuk setiap kasus malaria karena jumlah kasus malaria manusia di negara tersebut sudah sangat menurun.

Dengan pemeriksaan PCR, jenis parasit malaria dapat diidentifikasi secara lebih akurat sehingga kasus malaria knowlesi lebih mudah dikenali.

Menurut dr. Inke, keterbatasan diagnosis membuat banyak kasus malaria knowlesi terlambat dikenali sehingga pasien terlambat mendapatkan terapi antimalaria.

Padahal, infeksi malaria knowlesi dapat berkembang cepat menjadi berat karena jumlah parasit di dalam tubuh meningkat dalam waktu singkat.

“Kasusnya jadi sering terlewat, terjadi keterlambatan pemberian obat malaria atau artemisinin combination therapy (ACT), dan infeksinya menjadi berat bahkan ada kemungkinan sampai meninggal,” paparnya.

Oleh karena itu, dr. Inke mengimbau pasien agar segera mendapatkan pengobatan maksimal dalam 48 jam setelah diagnosis untuk mencegah komplikasi berat. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengobati sendiri dengan antibiotik karena malaria tidak dapat disembuhkan menggunakan antibiotik.

Jadi Tantangan Target Eliminasi Malaria 2030

Jika penegakan diagnosis kasus malaria ini belum memenuhi gold standar, dr. Inke menilai malaria knowlesi berpotensi menjadi tantangan besar bagi target eliminasi malaria Indonesia pada 2030.

Ia mencontohkan Malaysia yang belum mendapatkan sertifikasi bebas malaria dari WHO meskipun kasus malaria manusia sudah sangat rendah. Hal itu karena masih terdapat kasus malaria knowlesi yang berasal dari hewan.

“Nah, jika kita berhasil menurunkan kasus malaria pada manusia tetapi tidak berhasil mengontrol malaria yang berasal dari hewan, maka ini juga akan menjadi tantangan terbesar untuk mencapai eliminasi malaria di Indonesia,” katanya.

Surveilans Zoonosis Dinilai Belum Terintegrasi

Selain diagnosis, Indonesia juga dinilai masih memiliki tantangan dalam sistem surveilans zoonotik yang belum terintegrasi antara pemantauan manusia, hewan liar, dan vektor nyamuk.

Padahal ketiga komponen tersebut diperlukan untuk memetakan wilayah dengan risiko tinggi penularan malaria knowlesi.

dr. Inke menambahkan, banyak daerah endemis malaria di Indonesia juga belum memiliki akses pemeriksaan PCR maupun kemampuan mikroskopis yang memadai.

Di sisi lain, wilayah dengan risiko tinggi malaria knowlesi umumnya berada di kawasan hutan dan pinggiran hutan yang jauh dari pusat layanan kesehatan sehingga masyarakat sering terlambat mendapatkan diagnosis dan pengobatan.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah