JawaPos.com – Dunia kini tengah diminta waspada dengan penyebaran dan penularan Hantavirus yang dibawa hewan pengerat tikus. Meski penularan antar manusia masih tergolong rendah, masyarakat diminta tetap mewaspadai gejala hantavirus jika habis kontak dengan tikus.
Diungkapkan dr. Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission. Yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
“Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," jelas dr. Rio baru-baru ini.
Baca Juga: Long Weekend 14–17 Mei 2026, KAI Operasikan 270 Perjalanan LRT Jabodebek per Hari
Jika terinfeksi, papar dr. Rio, dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia. Pertama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), biasanya menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Lalu kedua, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Untuk itu, masyarakat diminta lebih waspada dan memeriksakan diri secepatnya ketika menemui gejala terinfeksi hantavirus. Secara klinis, gejala Hantavirus terbagi ke dalam dua tahap perkembangan.
Gejala Awal
Menurut dr. Rio, pada tahap awal, gejala yang dirasakan penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala hebat, nyeri otot (terutama di bagian punggung dan paha), serta tubuh yang terasa sangat lemas. Gejala ini sering kali disertai gangguan pencernaan seperti nyeri perut, muntah, hingga diare.
Gejala Lanjutan
Jika kondisi memburuk, pasien akan mengalami gangguan pernapasan serius, mulai dari batuk-batuk hingga sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Selain itu, dapat terjadi sindrom jaundice (kuning), penurunan tekanan darah secara drastis (syok) hingga gangguan fungsi ginjal.
"Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," tambah dr. Rio.
Pencegahan di Rumah
Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi partikel kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Untuk meminimalkan risiko, perhatikan beberapa kondisi lingkungan rumah.
Dikatakan dr. Rio, lingkungan tempat tinggal atau area kerja yang menjadi sarang tikus adalah zona risiko utama. Lalu jika ada ruang yang tertutup lama lalu ingin dibersihkan, usahakan pakai alat pelindung. Sebab, tanpa alat pelindung diri sangat berbahaya, karena debu yang mengandung virus dapat terhirup dengan mudah.
Lakukan pula penutupan lubang di dalam dan di luar rumah untuk mencegah hewan pengerat masuk ke dalam rumah/tempat kerja. Lantas, gunakan metode pel basah di seluruh area untuk memastikan partikel berbahaya tidak terhirup.