JawaPos.com – Banyak perempuan penderita vaginismus mengalami trauma dan gangguan psikis setelah mengidap penyakit tersebut. Kondisi itu dipicu stigma, penghakiman, hingga cara pandang masyarakat yang dinilai masih merendahkan perempuan.
Dokter yang menangani kasus vaginismus, dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, mengatakan bahwa fakta yang ditemukan dari observasi terhadap ratusan pasien menunjukkan kondisi psikologis bukan penyebab utama vaginismus.
Menurutnya, justru pasien vaginismus mengalami tekanan mental setelah bertahun-tahun hidup dengan penyakit tersebut.
“Yang terjadi justru bukan gangguan psikis menyebabkan vaginismus. Malah terbalik. Justru karena dia mengalami vaginismus, dia juga mengalami banyak kesengsaraan, dia jadi mengalami gangguan psikis,” ujar dr. Robbi saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (13/5).
Ia juga menyebut trauma bukan faktor utama penyebab vaginismus sebagaimana anggapan yang selama ini beredar di masyarakat.
“Bukan trauma menyebabkan vaginismus, malah terbalik. Justru karena pasien mengalami vaginismus, dia menjadi mengalami trauma selama bertahun-tahun,” katanya.
Asumsi Keliru tentang Vaginismus
dr. Robbi menilai masih banyak masyarakat yang salah memahami vaginismus. Penderita kerap dianggap tidak mau melayani pasangan, tidak rileks, atau sengaja menolak hubungan seksual.
Padahal menurutnya, kondisi tersebut merupakan penyakit medis berupa kekakuan otot vagina yang membuat penetrasi sulit atau bahkan tidak bisa dilakukan.
Ia menyebut stigma itu membuat banyak pasien semakin tertekan karena bukannya mendapat dukungan, mereka justru disalahkan oleh lingkungan sekitar.
Cara Pandang terhadap Perempuan Dinilai Bermasalah
Lebih jauh, dr. Robbi menilai persoalan vaginismus tidak hanya berkaitan dengan kurangnya edukasi atau awareness, tetapi juga dipengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan.
Menurutnya, perempuan masih sering diposisikan hanya sebagai objek seksual maupun alat reproduksi.
“Perempuan hanya dianggap barang untuk dimasukkan penis, perempuan itu jadi hanya dianggap orang yang harus beranak-pinak, orang untuk memuaskan hasrat seks,” ucapnya.
Ia mengatakan pola pikir tersebut membuat penderita vaginismus lebih mudah dihakimi ketika mengalami kendala dalam hubungan seksual.
Stigma Datang dari Lingkungan hingga Tenaga Medis
dr. Robbi juga mengungkapkan perlakuan menyudutkan terhadap pasien vaginismus tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga dari sesama perempuan dan tenaga kesehatan.
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa persoalan stigma terhadap vaginismus masih sangat besar.
“Awareness itu penting tapi sepertinya kalau dilihat fenomenanya secara keseluruhan, ini bukan hanya soal awareness, tapi soal cara pandang society terhadap perempuan itu sendiri,” katanya.
Karena itu, ia menilai penderita vaginismus membutuhkan lingkungan yang suportif dan tidak menghakimi agar berani mencari pertolongan medis dan menjalani pengobatan dengan nyaman.