← Beranda
Menkes Budi Tegaskan Penularan Hantavirus Sangat Sulit, Beda dengan Covid-19
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 12 Mei 2026 | 21.59 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi I

JawaPos.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa tingkat penularan hantavirus dengan Covid-19 berbeda. Penularan hantavirus menurutnya sangat sulit dibanding dengan Covid-19.

"Beda dengan Covid-19, virus ini (hantavirus) menularnya sangat susah. Sampai sekarang penularannya terbukti terjadi melalui tikus," ujarnya kepada wartawan, Selasa (12/5).

Ia menerangkan, peristiwa penularan hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius bisa jadi karena kebersihan kapal yang tidak terjaga sehingga ada tikus yang menyebarkan virus tersebut.

Baca Juga: Viral Merokok dan Main Game Saat Rapat, Ini Profil Lengkap Anggota DPRD Jember Achmad Syahri As Siddiqi

"Nah tikus ini kan kalau dia terkena Hantavirus, dia bisa ngeluarin kotoran, dia bisa ngeluarin apa buang air kecil, kemudian kalau dia gigit kita, di situ penularannya terjadi. Jadi bukan seperti Covid yang kita ngomong kemudian langsung menular," tuturnya.

Namun begitu, Budi megakui bahwa ada varian hantavirus yang menyebar dari manusia ke manusia, yaitu varian Andes yang telah ditemukan di Amerika Selatan.

"Hanya di Amerika Selatan ada satu varian yang benar-benar kalau kita setiap hari ketemu ya, seperti keluarga yang tidur satu ranjang, itu bisa tertular. Tapi sebagian besar 99 persen penularannya terjadi melalui tikus," tegasnya.

Kebersihan Lingkungan Jadi Kunci

Untuk mencegah terjadinya penularan hantavirus, Budi menegaskan bahwa kebersihan lingkungan mesti dijaga dengan baik.

"Jadi pesannya, cara yang paling baik menghindari adalah pastikan rumah kita, restoran kita, tempat kerja kita bersih dari tikus," ucapnya.

Budi juga meminta masyarakat tak perlu terlalu khawatir karena varian hantavirus yang ada di Indonesia sejauh ini fatalitasnya tak setinggi seperti kasus di Kapal MV Hondius.

"Yang kita lakukan adalah surveillance-nya diperbaiki, kemudian kalau ada yang ketahuan kena, seperti selama ini tiap tahun ada yang kena ya sepuluhan, di bawah sepuluh, kadang-kadang juga naik jadi 25, itu bisa dikirim ke rumah sakit. Rumah sakit sudah tahu cara mengobatinya," tandasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah