← Beranda
Kemenkes Sebut Pemeriksaan PCR Sudah Dilakukan untuk Deteksi Jenis Hantavirus
Tazkia Royyan HikmatiarSenin, 11 Mei 2026 | 23.36 WIB
Ilustrasi Hantavirus. (UK Health Security Agency)

JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan pemeriksaan PCR telah digunakan untuk mendeteksi jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan jenis strain virus sekaligus membedakan antara tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Andi Saguni mengatakan, pemeriksaan PCR menjadi langkah penting untuk mengetahui strain virus apabila ditemukan hasil positif hantavirus.

“Pemeriksaan PCR ini merupakan pemeriksaan yang kita butuhkan karena PCR ini jika memang positif, baik tipe HFRS maupun tipe HPS, itu harus diketahui strain-nya lebih lanjut,” kata Andi dalam konferensi pers, Senin (11/5).

Baca Juga: 11 Tempat Makan Bakmi Jawa Legendaris di Yogyakarta, Dibuat dengan Arang yang Memicu Aroma Khas dan Bikin Ketagihan

Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan PCR di Indonesia sejauh ini menunjukkan kasus hantavirus yang ditemukan termasuk tipe HFRS, berbeda dengan tipe HPS yang ditemukan pada kasus di kapal pesiar MV Hondius.

“Sampai sejauh ini melalui pemeriksaan PCR, jenis daripada Hantavirus tersebut adalah tipe HFRS. Beda dengan HPS yang terjadi di kapal pesiar Hondius tersebut,” tuturnya.

PCR Sudah Terhubung dengan Sistem Nasional

Andi menjelaskan, sistem pemeriksaan PCR untuk hantavirus di Indonesia juga telah terhubung dengan National All Record (NAR) sehingga proses pelaporan dan pemantauan dapat dilakukan secara terintegrasi.

“Testing daripada PCR ini sudah ter-connect atau dilaporkan ke dalam NAR,” katanya.

Menurutnya, penggunaan PCR penting dilakukan untuk memastikan karakteristik virus apabila ditemukan kasus positif hantavirus di Indonesia.

“Kita butuh kepastian bahwa kita harus tahu jenisnya jika positif daripada Hantavirus tersebut, apakah dia HFRS maupun HPS,” tuturnya.

Pengawasan Global Diperketat

Selain pemeriksaan laboratorium, Andi menyebut pengawasan atau surveilans terhadap hantavirus saat ini juga diperketat secara global.

Ia mengatakan pengawasan tidak hanya dilakukan Indonesia, tetapi juga berbagai negara lain termasuk Inggris dan Amerika Serikat dengan koordinasi dari WHO.

“Surveillance tersebut tidak hanya Indonesia saja, tetapi sangat ketat juga dilakukan oleh negara-negara lain dan juga dikoordinir oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyatakan strain hantavirus yang ditemukan di Indonesia didominasi Seoul Virus dan Hantaan Virus yang termasuk kelompok HFRS dengan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, hingga gangguan ginjal.

Sementara strain Andes yang ditemukan pada kasus kapal pesiar MV Hondius termasuk kelompok HPS yang memiliki tingkat kematian lebih tinggi dan dilaporkan dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah