← Beranda
Apa Itu Norovirus? Virus Penyebab Wabah di Kapal Pesiar yang Picu Muntah dan Diare, Ternyata Sudah Ditemukan Sejak 1968
Rian AlfiantoSabtu, 9 Mei 2026 | 22.58 WIB
Ilustrasi Norovirus. (TravelAge West)

JawaPos.com - Norovirus kembali menjadi perhatian dunia setelah wabah di kapal pesiar Caribbean Princess membuat lebih dari 100 penumpang dan kru mengalami muntah serta diare selama pelayaran.

Virus ini dikenal sangat mudah menular dan menjadi salah satu penyebab utama wabah gangguan pencernaan di kapal pesiar, sekolah, rumah sakit, hingga tempat umum lainnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melaporkan sebanyak 102 penumpang dan 13 kru kapal Caribbean Princess jatuh sakit dalam pelayaran yang berlangsung dari 28 April hingga 11 Mei 2026. Gejala yang muncul didominasi muntah, diare, mual, dan kram perut.

Baca Juga: Kapolri Ganti Kapolda Jabar, Ini Profil Irjen Pipit Rismanto yang Pernah Jadi Dirtipidter Bareskrim Polri

Lalu, apa sebenarnya norovirus dan mengapa virus ini begitu cepat menyebar?

Norovirus merupakan virus penyebab gastroenteritis akut atau peradangan pada lambung dan usus. Penyakit ini kerap disebut 'stomach flu' atau flu perut, meski sebenarnya tidak berhubungan dengan virus influenza.

Virus ini dapat menyerang siapa saja dan hanya membutuhkan jumlah partikel virus yang sangat kecil untuk menyebabkan infeksi. Penularannya bisa terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, menyentuh permukaan yang terpapar virus, hingga kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Gejala biasanya muncul dalam waktu 12 hingga 48 jam setelah terpapar. Penderita umumnya mengalami muntah hebat, diare cair, sakit perut, mual, hingga demam ringan dan nyeri tubuh. Kondisi tersebut biasanya berlangsung selama satu hingga tiga hari, tetapi risiko dehidrasi dapat menjadi berbahaya terutama pada anak-anak dan lansia.

Baca Juga: PSSI Sesalkan Kericuhan Suporter Persipura Jayapura Kontra Adhyaksa FC, Yunus Nusi Singgung Indonesia Dipantau FIFA

CDC menyebut penderita paling menular saat gejala berlangsung dan setidaknya dua hari setelah sembuh. Dalam beberapa kasus, virus bahkan masih dapat bertahan lebih lama di tubuh maupun permukaan benda.

Karena penyebarannya sangat cepat, langkah pencegahan menjadi kunci utama. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir minimal 20 detik dinilai jauh lebih efektif dibanding hand sanitizer biasa.

Permukaan yang terkontaminasi juga dianjurkan dibersihkan menggunakan cairan berbahan pemutih atau bleach.
Hingga kini belum ada obat khusus maupun vaksin untuk norovirus. Penanganan umumnya dilakukan dengan memperbanyak konsumsi cairan untuk mencegah dehidrasi sampai tubuh pulih dengan sendirinya.

Dalam kasus wabah di Caribbean Princess, pihak Princess Cruises mengaku langsung meningkatkan prosedur sanitasi, mengisolasi penumpang dan kru yang sakit, serta melakukan disinfeksi menyeluruh di seluruh area kapal.

Menurut pakar industri kapal pesiar Stewart Chiron, wabah norovirus di kapal biasanya bermula dari penumpang yang sudah terinfeksi sebelum naik ke kapal dan tanpa sadar menyebarkan virus ke orang lain di ruang tertutup.

Meski sering dikaitkan dengan kapal pesiar, kasus norovirus sebenarnya jauh lebih banyak terjadi di masyarakat umum. Kapal pesiar hanya menjadi lokasi yang lebih mudah memicu penyebaran karena tingginya interaksi antarpenumpang dalam satu area terbatas.

Sejak Kapan Norovirus Ditemukan?

Baca Juga: Berikut Daftar Rotasi dan Mutasi Perwira Tinggi di Lingkungan Polda Metro Jaya pada Mei 2026

Norovirus pertama kali tercatat dalam wabah besar pada 1968 di sebuah sekolah dasar di Norwalk, Ohio, Amerika Serikat. Saat itu sekitar 50 persen siswa mengalami muntah dan diare parah secara bersamaan.

Virus tersebut awalnya dikenal dengan nama 'Norwalk virus' sesuai lokasi wabah pertama terjadi. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1972, para peneliti berhasil mengidentifikasi partikel virus menggunakan mikroskop elektron.

Sebelum resmi dinamai norovirus, virus ini sempat dikenal sebagai 'Norwalk-like virus'. Kini, norovirus diakui sebagai salah satu penyebab paling umum gastroenteritis akut di dunia dan menjadi sumber jutaan kasus infeksi setiap tahun.

EDITOR: Bintang Pradewo