JawaPos.com - Hantavirus menjadi sorotan karena dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia dengan tingkat kematian yang tinggi, terutama di kawasan Amerika. Virus ini ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyerang paru-paru, jantung, hingga ginjal.
Meski kasusnya relatif jarang, infeksi hantavirus tetap menjadi perhatian kesehatan global karena gejalanya sering menyerupai flu biasa hingga COVID-19, tetapi bisa berkembang cepat menjadi kondisi mematikan.
Melansir laman resmi WHO, berikut fakta-fakta penting mengenai hantavirus yang perlu diketahui masyarakat.
Baca Juga: Ada yang Pilih Boikot! Gejolak Suporter Persis Solo Jelang Duel Panas Kontra Persebaya Surabaya
1. Hantavirus Berasal dari Tikus dan Hewan Pengerat
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis, yaitu virus yang menular dari hewan ke manusia. Virus ini secara alami hidup pada berbagai jenis tikus dan hewan pengerat lainnya tanpa membuat hewan tersebut sakit.
Manusia bisa tertular ketika menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi virus. Risiko penularan meningkat saat membersihkan ruangan tertutup yang lama tidak dipakai, gudang, loteng, area pertanian, atau tempat dengan infestasi tikus.
Selain itu, gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan, meski kasusnya lebih jarang terjadi.
2. Bisa Menyebabkan Penyakit Mematikan
Infeksi hantavirus dapat memicu dua jenis penyakit utama, tergantung wilayah dan jenis virusnya.
Di kawasan Amerika Utara dan Selatan, hantavirus dapat menyebabkan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), penyakit serius yang menyerang paru-paru dan jantung. Tingkat kematian penyakit ini dilaporkan bisa mencapai 50 persen.
Sementara di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu penyakit yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Meski jumlah kasus global tergolong rendah, tingkat fatalitasnya membuat penyakit ini tetap dianggap berbahaya oleh otoritas kesehatan dunia.
3. Gejalanya Mirip Flu hingga COVID-19
Baca Juga: Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama Muncul di Dakwaan Kasus Suap Blueray Cargo, DJBC Buka Suara
Salah satu tantangan terbesar hantavirus adalah gejala awalnya sering menyerupai penyakit umum lain seperti influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, hingga demam berdarah.
Gejala awal biasanya muncul dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah paparan virus, antara lain:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Mual dan muntah
- Nyeri perut
- Tubuh lemas
Pada kasus berat, penderita bisa mengalami batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah rendah, hingga gagal ginjal.
Karena itu, riwayat paparan tikus atau lingkungan kotor menjadi petunjuk penting dalam diagnosis.
4. Penularan Antar Manusia Sangat Jarang
Secara umum, hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Namun, ada pengecualian pada jenis Andes virus yang ditemukan di Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chile.
Penularan antar manusia pada Andes virus dilaporkan terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan, misalnya di lingkungan keluarga atau pasangan intim. Meski demikian, kasusnya tetap tergolong langka.
Di Asia dan Eropa, hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia untuk hantavirus.
5. Belum Ada Obat Khusus atau Vaksin
Baca Juga: Swiss Konfirmasi Kasus Hantavirus, Dibawa Penumpang Kapal Pesiar Mewah MV Hondius
Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin resmi untuk mengatasi hantavirus.
Penanganan medis berfokus pada perawatan suportif, seperti pemantauan ketat fungsi paru, jantung, dan ginjal.
Pasien dengan kondisi berat biasanya membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Dokter menilai penanganan sejak dini menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien.
6. Tingkat Kematian Berbeda di Tiap Wilayah
WHO mencatat infeksi hantavirus terjadi sekitar 10 ribu hingga lebih dari 100 ribu kasus setiap tahun di dunia.
Baca Juga: IDF Akan Sanksi Tentara yang Masukkan Rokok ke Patung Bunda Maria di Lebanon
Di Asia dan Eropa, tingkat kematian akibat HFRS berkisar di bawah 1 persen hingga 15 persen. Namun di kawasan Amerika, tingkat kematian HCPS jauh lebih tinggi, yakni sekitar 20 hingga 50 persen.
Amerika Serikat sendiri melaporkan kurang dari 1.000 kasus sejak penyakit ini dikenali, sedangkan negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina, Brasil, Chile, dan Paraguay melaporkan kasus dalam jumlah kecil setiap tahun.
7. Cara Pencegahan Utama adalah Menghindari Tikus
WHO menegaskan pencegahan hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan. Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain:
- Menjaga rumah dan tempat kerja tetap bersih
- Menutup celah masuk tikus
- Menyimpan makanan dengan aman
- Tidak menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering
- Membasahi area terkontaminasi sebelum dibersihkan
- Rajin mencuci tangan
- Membersihkan area yang diduga terkontaminasi tikus juga disarankan menggunakan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pengendalian hantavirus membutuhkan pendekatan One Health, yakni keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
WHO saat ini bekerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat sistem deteksi dini, kapasitas laboratorium, edukasi masyarakat, hingga respons wabah guna mencegah penyebaran hantavirus lebih luas.