← Beranda
Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 7 Mei 2026 | 00.01 WIB
Ilustrasi Hantavirus. (UK Health Security Agency)

JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terdapat dua tambahan kasus suspek Hantavirus di Indonesia pada Minggu ke -16 2026. Masing-masing di Jakarta Utara, DKI Jakarta dan Kulon Progo, DI Yogyakarta. Kedua kasus tersebut saat ini masih dalam tahap pemeriksaan laboratorium.

"Saat ini ada 2 kasus suspek hantavirus di Indonesia," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (6/5).

Secara kumulatif, ia menerangkan bahwa sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat sebanyak 251 kasus suspek penyakit virus Hanta. Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, 221 kasus negatif, empat kasus masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimennya.

Baca Juga: Menlu Rubio Klaim Operasi Serangan AS ke Iran Resmi Berakhir, Tapi Ancaman di Selat Hormuz Masih Membara

Aji menegaskan, tidak terdapat penambahan kasus konfirmasi pada pekan ini. Total kasus terkonfirmasi sejak 2024 hingga 2026 tetap sebanyak 23 kasus yang tersebar di sembilan provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Rinciannya, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus positif, Jawa Barat lima kasus, sementara Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, NTT, dan Jawa Timur masing-masing satu kasus.

Aji menyebutkan, faktor risiko utama penularan penyakit ini adalah kontak dengan hewan pengerat seperti tikus atau celurut yang terinfeksi.

Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran virus ini, antara lain pemantauan situasi melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta koordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, dilakukan pemantauan pelaku perjalanan dari negara terjangkit, komunikasi risiko terkait penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta penyediaan pedoman pencegahan dan media edukasi.

Langkah lainnya mencakup penerbitan surat edaran kewaspadaan, deteksi dini melalui surveilans sentinel dan pemantauan hewan pembawa penyakit, serta pengendalian populasi rodensia sebagai reservoir virus.

Pengertian Virus Hanta dan Gejalanya

Penyakit virus Hanta disebabkan oleh Orthohantavirus yang termasuk dalam famili Hantaviridae. Terdapat sekitar 50 strain virus ini, dan 24 di antaranya diketahui dapat menginfeksi manusia.

Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan hewan reservoir yang terinfeksi, seperti tikus, celurut, tikus tanah, dan kelelawar. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan, paparan urin, feses, atau saliva, serta melalui inhalasi partikel aerosol yang terkontaminasi.

Penularan antar manusia sangat jarang terjadi dan hanya pernah dilaporkan pada tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di Amerika Selatan.

Gejala klinis Hantavirus terbagi menjadi dua bentuk utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, hingga gangguan ginjal, dengan tingkat kematian sekitar 5–15 persen.

Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang memiliki gejala demam, nyeri badan, batuk, dan sesak napas, dengan tingkat kematian lebih tinggi hingga 60 persen.

Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan RT-PCR dari sampel darah, sementara hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk penyakit ini.

Kasus Penyebaran Hantavirus di Kapal Pesiar

Kasus Hantavirus juga dilaporkan terjadi pada kapal pesiar berbendera Belanda yang berlayar di Samudera Atlantik. Otoritas kesehatan Inggris melaporkan klaster penyakit pernapasan akut berat (SARI) pada 2 Mei 2026.

Dari hasil pemeriksaan, satu kasus terkonfirmasi Hantavirus tipe HPS, sementara lima lainnya berstatus suspek. Hingga 4 Mei 2026, dilaporkan tiga kematian terkait kejadian tersebut.

Kapal tersebut membawa 147 orang dari 23 negara dan berlayar dari Ushuaia, Argentina, melintasi Atlantik Selatan dengan sejumlah persinggahan di wilayah terpencil, termasuk Antartika dan beberapa pulau di sekitarnya.

Sumber penularan masih dalam investigasi, namun diduga berkaitan dengan paparan hewan pengerat yang terinfeksi, baik sebelum keberangkatan maupun selama perjalanan.

Penularan Manusia ke Manusia Belum Terbukti

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa Hantavirus dapat menular dari manusia ke manusia.

“Belum bisa disebut seperti itu (menular dari manusia ke manusia),” ujarnya saat dihubungi, Rabu (6/5).

Menurutnya, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari tikus sebagai inang utama. Penularan ke manusia umumnya terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi urin, kotoran, atau saliva tikus.

Ia menjelaskan, kasus di kapal pesiar masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut karena kemungkinan paparan bisa terjadi sebelum atau selama perjalanan.

“Potensi itu ada, tapi laporannya sangat terbatas. Sejarah penularan antar manusia itu kecil,” tegasnya.

Wiku menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap faktor lingkungan, khususnya potensi paparan dari hewan pengerat, sebagai langkah utama pencegahan penyakit ini.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah