← Beranda
Tren 'Harm Reduction' Tembakau Disorot: Pakar Ingatkan Risiko Rokok Tetap Tinggi, Berhenti Tetap Jadi Pilihan Utama
Dony Lesmana Eko PutraSelasa, 5 Mei 2026 | 05.09 WIB
Ilustrasi berhenti merokok. /sehatnegeriku.kemkes.go.id

JawaPos.com - Upaya menjaga kesehatan di tengah tekanan kerja yang tinggi kembali menjadi sorotan, terutama terkait kebiasaan merokok yang masih banyak dijadikan cara instan meredakan stres.

Di tengah kondisi ini, pendekatan tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau mulai banyak dibahas dalam ranah kesehatan.

Sejumlah akademisi dan tenaga medis menilai pendekatan ini bisa menjadi bagian dari strategi pengendalian risiko, namun bukan pengganti utama dari upaya berhenti merokok secara total.

Kolonel Laut (K) Dr. drg. Yun Mukmin A., Sp.Ort. menilai, selama ini upaya menekan angka perokok kerap hanya berupa imbauan yang kurang efektif. Padahal, diperlukan strategi berbasis bukti ilmiah yang lebih aplikatif.

“Kalau hanya sekadar imbauan, biasanya kurang mengena. Maka itu, perlu strategi yang lebih jitu agar prevalensi perokok bisa ditekan,” ujarnya di Jakarta, Senin (4/5).

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Amaliya, dalam penelitiannya menemukan bahwa kebiasaan merokok cenderung tinggi di lingkungan dengan tingkat stres tinggi. Banyak individu menganggap rokok sebagai cara untuk meningkatkan fokus atau meredakan tekanan.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa rokok konvensional tetap memiliki risiko kesehatan yang besar karena melibatkan proses pembakaran yang menghasilkan berbagai zat beracun.

“Merokok memang sering dianggap membantu mengurangi stres, tetapi risikonya terhadap kesehatan tetap tinggi,” jelasnya.

Harm Reduction Bukan Pengganti Berhenti Merokok

Prof. Amaliya menekankan bahwa pendekatan THR bersifat pelengkap (complementary), bukan pengganti dari program berhenti merokok yang masih menjadi standar utama (gold standard) dalam dunia kesehatan.

Menurutnya, berhenti merokok sepenuhnya tetap merupakan pilihan terbaik. Namun, ia juga mengakui bahwa tidak semua perokok mampu melakukannya secara instan.

Dalam konteks ini, pendekatan pengurangan risiko dinilai dapat menjadi opsi transisi bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti, dengan tujuan menurunkan paparan zat berbahaya.

Dijelaskan juga, secara ilmiah, risiko terbesar dari rokok berasal dari proses pembakaran yang menghasilkan TAR dan berbagai zat toksik lainnya. Oleh karena itu, pendekatan THR berfokus pada upaya mengurangi paparan zat berbahaya tersebut.

Prof. Amaliya mengungkapkan, beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan kondisi kesehatan mulut pada individu yang beralih dari rokok konvensional ke produk tanpa pembakaran.

Salah satunya adalah perbaikan aliran darah di gusi dan fungsi indera pengecap dalam beberapa bulan.

Namun, temuan ini tetap harus dilihat secara hati-hati dan tidak diartikan sebagai produk tersebut bebas risiko.

Baik Prof. Amaliya maupun Dr. Yun Mukmin sepakat bahwa edukasi mengenai bahaya rokok harus tetap menjadi prioritas dalam program kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit sistemik dan kanker rongga mulut.

Dr. Yun Mukmin menegaskan bahwa zat berbahaya utama berasal dari proses pembakaran tembakau. Oleh karena itu, memahami sumber risiko menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan.
Kesimpulan: Risiko Tetap Ada, Berhenti Tetap Terbaik

Pendekatan tobacco harm reduction membuka ruang diskusi baru dalam pengendalian kebiasaan merokok. Namun, para ahli menegaskan bahwa strategi ini bukan solusi utama.

Berhenti merokok sepenuhnya tetap menjadi langkah paling aman bagi kesehatan. Sementara itu, pendekatan alternatif hanya dapat dipertimbangkan secara hati-hati dalam konteks tertentu, terutama bagi mereka yang belum berhasil berhenti dan membutuhkan dukungan bertahap.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan, pilihan terbaik tetap kembali pada upaya mengurangi risiko secara menyeluruh, dimulai dari menghentikan kebiasaan merokok.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra