JawaPos.com – Kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti, terutama saat malam hari, kini semakin umum terjadi. Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yakni aktivitas terus-menerus membaca berita atau konten negatif di internet.
Sekilas terlihat seperti mencari informasi biasa, namun tanpa disadari, doomscrolling dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan mental dan fisik. Terlebih jika dilakukan menjelang waktu tidur, kebiasaan ini dapat mengganggu ritme tubuh dan kualitas istirahat.
Melansir dari platform kesehatan Hello Sehat dan Rumah Sakit Pusat Pertamina, paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan tidur. Berikut dampak nyata doomscrolling yang sering kali tidak disadari.
1. Meningkatkan Stres secara Signifikan
Doomscrolling membuat otak terus dibanjiri informasi negatif, mulai dari berita bencana hingga konflik sosial. Kondisi ini memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol.
Akibatnya, tubuh berada dalam kondisi siaga berlebihan atau hyperarousal, meski sebenarnya tidak ada ancaman langsung. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat membuat seseorang lebih mudah cemas dan sulit rileks.
2. Memperburuk Gangguan Mental
Bagi individu yang sudah memiliki masalah kesehatan mental, doomscrolling dapat memperparah kondisi tersebut. Beberapa studi menunjukkan kaitannya dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan seperti gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Paparan konten negatif yang berulang membuat pikiran terjebak dalam siklus overthinking yang sulit dihentikan.
3. Menurunkan Kualitas Tidur
Salah satu dampak paling nyata adalah terganggunya kualitas tidur. Kebiasaan membuka ponsel sebelum tidur sering membuat seseorang sulit berhenti scrolling.
Selain itu, paparan cahaya biru dari layar gadget menghambat produksi hormon melatonin, yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, waktu tidur menjadi lebih pendek dan kualitas istirahat menurun.
4. Memicu Gaya Hidup Sedentari
Doomscrolling biasanya dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dalam waktu lama. Hal ini membuat aktivitas fisik berkurang secara drastis.
Gaya hidup sedentari dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti nyeri leher, sakit punggung, hingga gangguan metabolisme jika terjadi dalam jangka panjang.
5. Meningkatkan Risiko Penyakit Fisik
Kombinasi antara stres tinggi dan kurang gerak dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Kondisi ini sering tidak disadari karena dampaknya muncul secara perlahan, namun dapat berbahaya jika terus dibiarkan.
6. Memicu FOMO dan Kecemasan Sosial
Salah satu faktor yang membuat seseorang terus doomscrolling adalah FOMO (Fear of Missing Out). Rasa takut tertinggal informasi membuat seseorang terus membuka media sosial, bahkan hingga larut malam.
Alih-alih mendapatkan informasi yang menenangkan, kebiasaan ini justru meningkatkan kecemasan dan tekanan sosial.
7. Memperparah Rasa Kesepian
Ironisnya, meski terhubung dengan banyak informasi, doomscrolling justru dapat memperkuat rasa kesepian. Ponsel menjadi pelarian dari rasa hampa, bukan solusi.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengurangi interaksi sosial nyata dan memperburuk kondisi mental seseorang.
8. Mengganggu Ritme Hidup Sehat
Tanpa disadari, doomscrolling bisa merusak rutinitas harian. Waktu tidur berkurang, bangun menjadi lebih siang, dan produktivitas menurun.
Kondisi ini dapat menciptakan siklus tidak sehat yang berulang, di mana tubuh sulit kembali ke pola hidup yang seimbang.
Baca Juga: Doomscrolling, Kebiasaan Buruk yang Merusak Kesehatan Mental, Simak Tips dari Psikolog Unair Berikut