← Beranda
Angka Kematian Ibu Masih Tinggi, Inovasi Pemantauan Janin Jadi Harapan Baru
Banu AdikaraJumat, 17 April 2026 | 02.31 WIB
ilustrasi ibu hamil. (Freepik/jcomp)

 

JawaPos.com – Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam sektor kesehatan. Dengan rasio sekitar 140 kematian per 100 ribu kelahiran hidup, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.

Kondisi ini tak lepas dari berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan di daerah terpencil, keterlambatan penanganan medis, hingga minimnya pemantauan kondisi ibu dan janin selama kehamilan.

Di sejumlah wilayah, ibu hamil masih harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan pemeriksaan, dengan fasilitas kesehatan yang terbatas.

Dalam konteks tersebut, keterlambatan deteksi risiko menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi. Banyak kasus komplikasi kehamilan yang sebenarnya bisa dicegah jika teridentifikasi lebih awal.

Baca Juga: Jadwal Super League: Persib Ditantang Dewa, Borneo Hadapi PSM

Upaya menekan angka tersebut kini mulai diarahkan pada inovasi teknologi. Salah satunya melalui perangkat pemantauan janin mandiri bernama Detect Me, hasil kolaborasi riset Indonesia-Australia dalam proyek Ultralight. Alat ini memungkinkan ibu hamil memantau kondisi janin dari rumah, dengan data yang langsung terhubung ke tenaga kesehatan.

Jika ditemukan indikasi gangguan, tenaga medis dapat segera melakukan intervensi. Pendekatan ini dinilai dapat memangkas risiko keterlambatan penanganan yang selama ini menjadi persoalan utama.

Namun, penerapan teknologi ini juga menghadapi tantangan sosial.

Baca Juga: Digelar di Ancol, Jakarta Jadi Tuan Rumah FIA Rallycross World Cup 2026

"Ada culture ibu hamil yang terbiasa dilayani, tinggal tidur saja menunggu nakes datang. Sekarang mereka diminta memakai alat sendiri di rumah. Itu saja sudah bikin sebagian dari mereka takut," ujar Restuning Widiasih, peneliti utama proyek Ultralight dalam keterangan tertulis.

Meski demikian, penggunaan alat ini justru memunculkan perubahan positif di lingkungan keluarga. Keterlibatan anggota keluarga, terutama suami, meningkat dalam memantau kondisi kehamilan.

Dari sisi kebijakan, inovasi seperti ini dinilai relevan dengan upaya pemerintah menurunkan angka kematian ibu.

"Inovasi seperti ini menarik untuk masuk ke pasar pemerintah karena efisien. Tapi ada paradoks bisnis: harga murah belum tentu laku," kata Ketua Umum HIPELKI, Randy Teguh.

Ia menambahkan, momentum saat ini dinilai lebih mendukung dibanding sebelumnya.
"Momentumnya sekarang berbeda."

Baca Juga: PSSI Kantongi Calon Lawan Indonesia untuk FIFA Matchday Juni

Meski menawarkan potensi besar, para peneliti menegaskan bahwa teknologi bukan solusi tunggal. Integrasi dengan sistem kesehatan, kesiapan tenaga medis, serta penerimaan masyarakat menjadi faktor penting keberhasilan implementasi.

"Detect Me tidak ada dampaknya kalau tidak ada kolaborasi," tegas Restuning.

Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat memperkuat pendekatan preventif dalam layanan kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah dengan akses terbatas. Dengan deteksi yang lebih dini dan respons yang lebih cepat, risiko kematian ibu dan janin diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

EDITOR: Banu Adikara