← Beranda
Jangan Tertipu Klaim Kemasan! Ini 5 Tips Memilih Susu Formula yang Lebih Sehat untuk Anak
Rian AlfiantoSelasa, 14 April 2026 | 21.14 WIB
Ilustrasi orang tua perlu lebih cermat saat memilih susu formula bagi anak. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Tingginya kasus gigi berlubang pada anak di Indonesia menjadi alarm bagi orang tua untuk lebih cermat dalam memilih asupan harian si kecil. Termasuk susu formula.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 93 persen anak Indonesia mengalami karies gigi, angka yang mengkhawatirkan dan erat kaitannya dengan pola konsumsi. Termasuk asupan gula tersembunyi.

Di tengah kondisi ini, memilih susu formula tidak bisa lagi hanya mengandalkan klaim di bagian depan kemasan seperti tinggi kalsium atau dukung imunitas. Orang tua perlu lebih kritis membaca label dan memahami kandungan sebenarnya.

Baca Juga: Data Center Lokal Kian Krusial di Era Ekonomi Digital, ISC Perkuat Infrastruktur Keamanan di Jakarta

Tips penting yang bisa jadi panduan

1. Jangan Terpaku pada Klaim Depan Kemasan

Banyak produk menampilkan klaim menarik, namun itu bukan gambaran utuh dari kualitasnya. Menurut dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), orang tua perlu melihat komposisi secara menyeluruh.

”Orang tua sebaiknya tidak berhenti pada klaim di kemasan. Yang wajib dipahami justru komposisi produknya secara utuh,” ujar dr. Reza melalui keterangannya.

Baca Juga: 6 Tips Melindungi Lutut Anda Selama 10 Tahun ke Depan, Apa Saja?

2. Perhatikan Bahan Utama di Daftar Komposisi

Komposisi ditulis berdasarkan jumlah terbanyak. Jika susu segar berada di urutan pertama, ini menandakan bahan utama yang lebih alami.

Susu merupakan sumber penting energi, protein, kalsium, hingga mikronutrien yang mendukung tumbuh kembang anak.

3. Waspadai Kandungan Gula dan Karbohidrat Olahan

Beberapa bahan yang perlu diperhatikan antara lain sukrosa (gula tambahan), maltodextrin, dan sirup jagung. Bahan-bahan ini dapat meningkatkan asupan gula harian anak.

Maltodextrin, misalnya, cepat diubah menjadi gula dalam tubuh. Jika dikonsumsi berlebihan, bisa berkontribusi pada risiko karies gigi hingga gangguan metabolik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menekankan pentingnya pembatasan gula pada anak sejak dini.

Baca Juga: Alarm BRIN: Wabah Pes Belum Hilang, Indonesia Masih Berisiko

4. Cek Adanya Perisa Tambahan

Bahan seperti vanilin sering digunakan untuk memperkuat rasa. Meski tidak berbahaya dalam batas tertentu, paparan rasa manis sejak dini bisa membentuk preferensi anak terhadap makanan manis.

Ini yang sering tidak disadari orang tua, rasa enak belum tentu berarti lebih sehat.

5. Pahami Proses Produksi Susu

Selain kandungan, proses produksi juga berpengaruh pada kualitas nutrisi. Pemanasan berulang dalam proses produksi dapat mengubah struktur protein dan menurunkan kadar asam amino penting seperti lysine.

Baca Juga: Sudah Sikat Gigi tapi Bau Mulut Tetap Menempel? Jangan Lupa Bersihkan Lidah Anda dengan Cara Ini!

Semakin sederhana dan terjaga prosesnya, semakin besar peluang nutrisi tetap optimal.

ASI Tetap yang Utama

Dalam konteks gizi anak, Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi pilihan terbaik karena kandungan nutrisinya paling ideal dan mudah diserap, serta mengandung antibodi alami.

Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, susu formula bisa menjadi alternatif, dengan catatan dipilih secara cermat.

Jadi Orang Tua yang Lebih Kritis

Memilih susu formula bukan sekadar soal merek atau popularitas, melainkan soal kualitas asupan harian anak.

Baca Juga: Kanker Payudara Masih Jadi Ancaman, Deteksi Dini Jadi Kunci Utama Pencegahan

”Ini tentang memahami apa yang benar-benar masuk ke tubuh anak setiap hari… agar dapat membantu membentuk generasi yang lebih sehat ke depannya,” ucap dr. Reza.

Dengan memahami label, kandungan, dan proses produksi, orang tua bisa mengambil keputusan yang lebih bijak demi kesehatan jangka panjang anak.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah