JawaPos.com - Rasa manis menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari.
Namun, di balik kenikmatan itu, banyak yang mulai mempertanyakan, seberapa aman sebenarnya pemanis yang kita konsumsi setiap hari?
Gula, madu, dan stevia kini menjadi bahan perbincangan karena ketiganya sama-sama digunakan untuk menambah cita rasa manis, tetapi memiliki karakter yang berbeda.
Di satu sisi, ada yang percaya gula adalah sumber masalah kesehatan, sementara di sisi lain, madu dan stevia dipuji sebagai pilihan yang lebih baik.
Meski begitu, sebelum menilai mana yang terbaik, penting untuk memahami lebih dulu bagaimana karakter ketiganya.
Dilansir dari laman RBC Ukraine pada Jumat (10/10), gula merupakan musuh utama bagi kesehatan, terutama berat badan dan gigi, menurut ahli.
Hal ini terjadi karena tubuh dengan mudah mengubah kelebihan gula menjadi lemak yang disimpan di dalam tubuh. Selain itu, konsumsi gula berlebih juga dapat meningkatkan risiko gigi berlubang.
Karena alasan inilah, membatasi gula dalam pola makan bukan hanya sekadar mengikuti tren hidup sehat, tetapi sudah menjadi kebutuhan untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Apakah mengganti gula dengan bahan lain seperti madu bisa menjadi solusi yang lebih baik?
Banyak orang menganggap madu sebagai pengganti gula yang lebih sehat dan alami. Padahal, menurut ahli gizi, anggapan ini tidak sepenuhnya benar.
Dari sisi kandungan kimia, madu memiliki struktur yang hampir sama dengan gula biasa, yakni terdiri dari glukosa dan fruktosa.
Walaupun madu mengandung sedikit vitamin dan mineral, manfaat tersebut tidak cukup besar untuk menutupi kandungan gulanya yang tinggi.
Dengan kata lain, mengganti gula dengan madu tidak memberikan perbedaan besar terhadap jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh.
Inilah mengapa para ahli menekankan agar masyarakat tetap berhati-hati, karena kelebihan madu juga bisa berdampak negatif seperti halnya gula.
Selain madu, banyak orang kini beralih ke pemanis buatan karena dianggap lebih aman dan rendah kalori. Sayangnya, penelitian terbaru justru menemukan bahwa pemanis buatan tidak sepenuhnya baik untuk tubuh.
Ahli gizi bernama Shvets menjelaskan ada dua dampak utama dari penggunaan pemanis buatan.
Pertama, pemanis buatan dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik dalam usus, yang berperan penting dalam menjaga sistem pencernaan dan daya tahan tubuh.
Kedua, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis pemanis buatan dapat memengaruhi fungsi otak, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, meskipun banyak produk yang mengklaim “bebas gula”, bukan berarti produk tersebut sepenuhnya aman.
Salah satu alternatif yang dinilai lebih baik adalah stevia, yaitu pemanis alami yang berasal dari tanaman. Stevia tidak mengandung kalori dan lebih aman dibandingkan pemanis buatan sintetis.
Namun, para ahli tetap menyarankan agar penelitian lebih lanjut dilakukan untuk memastikan keamanan stevia bila digunakan dalam jangka panjang.
Lalu, berapa batas aman konsumsi gula per hari?
Ahli gizi menyarankan agar konsumsi gula dibatasi sekitar 25 gram per hari, termasuk gula yang berasal dari madu. Jumlah ini dianggap masih aman dan tidak perlu dihindari sepenuhnya asalkan tetap dikontrol.
Sebagai gambaran, 25 gram gula setara dengan sekitar satu sendok makan penuh atau lima sendok teh datar, sesuai dengan anjuran dari WHO.
Sebagian orang mungkin memilih untuk sama sekali tidak mengonsumsi gula, dan hal itu tidak salah. Namun, ahli menegaskan bahwa berhenti mengonsumsi gula tidak otomatis membuat seseorang menjadi sepenuhnya sehat.
Pola makan sehat sejatinya adalah keseimbangan antara berbagai jenis makanan bergizi, bukan hanya menghapus satu jenis bahan dari menu harian.
Dengan begitu, yang paling penting bukanlah sepenuhnya menghindari gula, melainkan mengatur jumlahnya dengan bijak.
Dengan pola makan seimbang dan kesadaran terhadap apa yang dikonsumsi, tubuh akan tetap sehat tanpa harus kehilangan kenikmatan rasa manis dalam hidup.