JawaPos.com - Gangguan bipolar adalah salah satu jenis gangguan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem dan fluktuatif.
Seseorang yang mengidap gangguan bipolar dapat mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, dari perasaan sangat bahagia menjadi sangat sedih dan putus asa dalam waktu singkat.
Perubahan mood yang drastis tersebut dapat berdampak pada pola tidur, tingkat energi, aktivitas sehari-hari, perilaku, serta kemampuan berpikir penderita. Gangguan ini dapat diderita seumur hidup, sehingga memengaruhi aktivitas penderitanya.
Penyebab gangguan bipolar belum sepenuhnya diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik, ketidakseimbangan kimia otak (neurotransmitter), dan tekanan dari lingkungan. Riwayat keluarga dengan gangguan atau trauma psikologis juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami bipolar.
Gangguan ini bisa muncul pada akhir masa remaja hingga awal usia dewasa, dan gejalanya dapat bertahan seumur hidup jika tidak ditangani dengan baik.
Gejala dari Gangguan Bipolar
Gejala utama gangguan bipolar adalah adanya perubahan suasana hati yang ekstrem. Perubahan mood ini dapat berlangsung dalam hitungan jam, hari, hingga bulan. Umumnya, penderita bipolar mengalami dua fase utama, yaitu fase mania (hipomania) dan fase depresi.
Dikutip dari Alodokter, pada fase mania seseorang dapat merasa sangat berenergi, bersemangat, berbicara cepat, kesulitan tidur (insomnia), serta cenderung mengambil keputusan impulsif.
Sebaliknya, pada fase depresi penderita akan merasa sedih mendalam, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, mudah lelah, serta bisa muncul pikiran untuk menyakiti diri (self-harm) atau bunuh diri.
Upaya Penanganan terhadap Penderita Bipolar
Gangguan bipolar merupakan kondisi yang dapat kambuh kapan saja. Meski begitu, dengan penanganan yang tepat dan perawatan berkelanjutan, pengidapnya dapat mengendalikan gejala serta menjalani kehidupan yang lebih stabil. Dikutip dari Halodoc, berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan, yakni:
1. Mengonsumsi Obat
Beberapa jenis obat yang biasa digunakan untuk menangani gangguan bipolar meliputi penstabil mood, antipsikotik, dan antidepresan. Pada pengidap bipolar yang sering mengalami gangguan tidur, dokter mungkin juga akan memberikan obat tidur atau obat anti-kecemasan.
Penting untuk tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, karena hal tersebut dapat memicu efek “rebound” atau memperparah gejala bipolar.
2. Melakukan Psikoterapi
Terapi bicara atau psikoterapi biasanya menjadi salah satu komponen penting dalam penanganan gangguan bipolar. Psikoterapi mencakup berbagai metode pengobatan yang bertujuan membantu individu mengenali serta mengubah emosi, pola pikir, dan perilaku yang mengganggu.
Melalui terapi ini, penderita gangguan bipolar dan keluarganya dapat memperoleh dukungan, edukasi, serta arahan untuk menghadapi kondisi tersebut dengan lebih baik.
3. Menjalani Electroconvulsive Therapy (ECT)
ECT atau terapi elektrokonvulsif merupakan prosedur stimulasi otak yang dapat membantu penderita dengan gejala gangguan bipolar yang berat. Prosedur ini tergolong aman karena dilakukan dengan pemberian anestesi terlebih dahulu.
Umumnya, ECT digunakan untuk menangani episode depresi atau mania yang parah, terutama ketika metode pengobatan lain tidak memberikan hasil yang efektif.
4. Melalui Metode Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)
TMS merupakan metode terapi terbaru yang menggunakan gelombang magnetik untuk menstimulasi aktivitas otak. Berdasarkan hasil penelitian, terapi ini terbukti membantu banyak individu dengan berbagai jenis depresi. Namun, efektivitas TMS dalam menangani gangguan bipolar masih memerlukan penelitian lebih lanjut. (*)