JawaPos.com - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak memandang status sosial dan ekonomi seseorang. Setiap orang sangat berisiko mengalami KDRT dan Hampir di seluruh belahan bumi ini terjadi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan status sosioekonomi rendah memiliki risiko lebih besar untuk mengalami KDRT. Seorang perempuan berisiko enam kali lebih besar mengalami KDRT dibandingkan laki-laki.
Dalam sebuah penelitian yang telah diwartakan rsupsoeradji.id, di Indonesia dilaporkan terdapat 259 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2017. Angka itu terus meningkat setiap tahunnya.
KDRT secara jelas dapat menimbulkan dampak dan kerugian yang besar. Dampak KDRT pada korban bervariasi. Mulai dari dampak ringan hingga berat. Dampak berat bisa berupa cacat atau kematian. Berikut beberapa dampak KDRT pada wanita dan anak-anak.
Dampak pada kesehatan fisik dan mental
KDRT dapat berupa kekerasan fisik yang menyebabkan luka seperti memar, sakit kepala, hingga patah tulang. Berdasarkan penelitian di Amerika, perempuan berisiko tinggi mengalami tekanan darah tinggi atau edema, pendarahan vagina, mual, muntah atau dehidrasi, infeksi ginjal, atau infeksi saluran kemih sebelum atau selama kehamilan.
Secara umum, perempuan dengan riwayat KDRT memiliki kualitas hidup yang lebih rendah, karena adanya gangguan fisik, hambatan hubungan sosial, serta gangguan psikologis dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami KDRT.
Secara psikologis, perempuan dengan riwayat KDRT akan mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Mereka sering merasa tidak berharga, tidak ada harapan, tidak termotivasi, dan tidak mempercayai orang lain.
Gangguan psikologis ini dapat menyebabkan risiko bunuh diri dan peningkatan konsumsi alkohol serta obat-obatan terlarang.
Dampak pada kesehatan reproduksi dan kehamilan
Kekerasan yang dilakukan oleh pasangan memiliki dampak terhadap kesehatan reproduksi. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan riwayat KDRT memiliki peningkatan risiko kesehatan ibu, termasuk keguguran, bayi lahir mati, dan komplikasi selama kehamilan.
Hasil ini sejalan dengan penelitian di Seattle, yang menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat KDRT memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, prematur, atau kematian bayi. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi atau gangguan kesehatan akibat KDRT itu sendiri.
Pencegahan kekerasan dalam lingkup rumah tangga
Dampak besar dari kekerasan dalam rumah tangga dapat diminimalisir dengan berbagai upaya pencegahan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut beberapa kiat untuk mencegah KDRT.
1. Mengamalkan ajaran agama
Semua agama mengajarkan kebaikan dan menentang kekerasan. Ketika agama menjadi pondasi dalam keluarga, KDRT dapat dihindari.
2. Komunikasi
Komunikasi dalam keluarga harus dibangun dengan baik setiap hari. Keterbukaan satu sama lain menciptakan rasa saling memahami dan percaya yang dapat menjadi pondasi dalam penyelesaian masalah.
3. Pendidikan sejak dini
Anak-anak diajarkan untuk tidak memukul, tidak berkata kasar, dan cara mengatasi rasa marah. Pendidikan sejak dini diharapkan dapat membentuk karakter yang baik hingga dewasa.
4. Mediasi
Jika ada masalah serius yang tidak dapat ditangani, mintalah mediasi kepada pihak ketiga yang dipercaya oleh kedua belah pihak.
5. Penyuluhan tentang KDRT
Pemerintah perlu mensosialisasikan Undang-undang penghapusan KDRT kepada masyarakat luas sehingga masyarakat dapat memahami dampak dan cara menghindari KDRT.(*)