← Beranda
Kamu Ingin Menghadapi Sikap Acuh Tak Acuh Remaja? Lakukan 6 Cara Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 16 Oktober 2026 | 03.44 WIB
seseorang yang menghadapi sikap acuh tak acuh dari anak remaja./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Menghadapi remaja yang terkesan acuh tak acuh memang tidak selalu mudah. Hari ini mereka bisa begitu terbuka dan banyak bercerita, tetapi keesokan harinya mereka seolah tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Ketika ditanya, jawabannya hanya singkat. Ketika diberi nasihat, mereka terlihat tidak peduli. Bahkan, terkadang orang tua atau orang terdekat merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sama sekali tidak tertarik mendengarkan.

Situasi seperti ini sering membuat orang dewasa merasa frustrasi.

“Kenapa dia sekarang berubah?”

“Kenapa kalau dinasihati selalu membantah?”

“Kenapa dia seperti tidak peduli dengan keluarga?”

Namun, dalam psikologi, sikap yang terlihat acuh tidak selalu berarti bahwa seorang remaja benar-benar tidak peduli. Perilaku tersebut bisa menjadi cara mereka menunjukkan kebutuhan akan ruang pribadi, mempertahankan kemandirian, menghindari konflik, atau menghadapi emosi yang belum mampu mereka ungkapkan dengan baik.

Masa remaja memang merupakan periode penting dalam perkembangan psikologis. Pada tahap ini, seseorang mulai membangun identitas, mengembangkan kemandirian, mencari penerimaan dari teman sebaya, dan belajar mengelola emosi yang semakin kompleks.

Karena itu, menghadapi sikap acuh tak acuh remaja membutuhkan pendekatan yang berbeda dari sekadar memarahi atau memaksanya untuk berubah.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (15/10), jika kamu sedang menghadapi remaja yang semakin pendiam, cuek, sulit diajak bicara, atau tampak tidak peduli, enam cara berikut dapat membantu.

1. Jangan Langsung Menganggap Sikap Acuh Berarti Tidak Peduli

Kesalahan pertama yang sering dilakukan orang dewasa adalah langsung memberikan label.

Ketika seorang remaja menjawab, “Terserah,” orang tua mungkin berpikir bahwa anak tersebut tidak menghargai mereka.

Ketika ia memilih masuk kamar setelah pulang sekolah, orang tua bisa menganggapnya sedang menjauh.

Ketika ia tidak menjawab panjang saat ditanya tentang masalahnya, orang dewasa mungkin menyimpulkan bahwa ia tidak mau terbuka.

Padahal, perilaku yang sama bisa memiliki banyak alasan.

Seorang remaja mungkin sedang lelah. Ia mungkin mengalami tekanan di sekolah. Bisa jadi sedang menghadapi konflik dengan teman. Mungkin juga ia sedang mencoba memahami perasaannya sendiri.

Dengan kata lain, perilaku yang terlihat sama belum tentu memiliki penyebab yang sama.

Daripada langsung mengatakan:

“Kamu memang sekarang tidak peduli dengan orang tua.”

Lebih baik mencoba mengatakan:

“Sepertinya kamu sedang tidak ingin banyak bicara. Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, aku siap mendengarkan.”

Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa besar.

Kalimat pertama memberikan label.

Kalimat kedua memberikan ruang.

Remaja biasanya lebih mudah terbuka ketika mereka merasa tidak sedang dihakimi.

Karena itu, ketika menghadapi sikap acuh, cobalah melihat perilaku sebagai informasi, bukan sebagai serangan pribadi.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa yang mungkin sedang terjadi di balik perilaku ini?”

Pertanyaan tersebut akan membuat kita lebih tenang sebelum memberikan respons.

2. Berikan Ruang, tetapi Jangan Menghilang

Ketika remaja mulai menjauh, sebagian orang tua melakukan hal yang berlawanan. Mereka semakin sering bertanya.

“Kamu kenapa?”

“Ada masalah?”

“Cerita dong.”

“Kenapa diam terus?”

“Siapa yang membuat kamu seperti ini?”

Pertanyaan tersebut sebenarnya muncul karena kepedulian. Namun jika diberikan terus-menerus, remaja dapat merasa sedang diperiksa atau didesak.

Akibatnya, mereka justru semakin menutup diri.

Di sisi lain, memberikan ruang bukan berarti membiarkan mereka sendirian sepenuhnya.

Pendekatan yang lebih sehat adalah memberikan ruang sekaligus memastikan kehadiran.

Misalnya:

“Kalau kamu belum mau cerita sekarang, tidak apa-apa. Tapi kalau nanti kamu ingin bicara, aku ada di sini.”

Kalimat sederhana seperti ini mengirimkan pesan penting:

“Aku menghormati ruangmu, tetapi kamu tidak sendirian.”

Ini merupakan keseimbangan yang penting dalam hubungan dengan remaja.

Mereka membutuhkan kesempatan untuk belajar mandiri, tetapi pada saat yang sama tetap membutuhkan figur dewasa yang stabil dan dapat diandalkan.

Jadi, jangan memaksa mereka berbicara setiap saat.

Namun, jangan pula menggunakan sikap diam mereka sebagai alasan untuk ikut menjauh.

Tetap hadir melalui hal-hal sederhana.

Tanyakan apakah mereka sudah makan.

Buatkan minuman.

Ajak melakukan aktivitas ringan.

Duduk bersama tanpa harus selalu berbicara.

Terkadang, kedekatan tidak dibangun melalui percakapan panjang, tetapi melalui kehadiran yang konsisten.

3. Dengarkan Lebih Banyak daripada Memberikan Nasihat

Banyak remaja sebenarnya bukan tidak ingin bercerita. Mereka hanya takut apa yang mereka ceritakan akan langsung berubah menjadi ceramah.

Misalnya, seorang remaja mengatakan:

“Aku capek banget sama sekolah.”

Respons pertama orang tua mungkin:

“Makanya jangan sering main HP.”

Atau:

“Semua orang juga capek.”

Atau:

“Kamu harus bersyukur, orang lain malah tidak bisa sekolah.”

Maksudnya mungkin baik.

Namun bagi remaja, respons seperti itu dapat terasa seperti pengalaman mereka sedang dikecilkan.

Cobalah mengganti respons tersebut dengan:

“Kedengarannya kamu benar-benar sedang capek.”

Kemudian diam dan dengarkan.

Jika ia melanjutkan cerita, jangan buru-buru mencari solusi.

Tanyakan:

“Bagian mana yang paling bikin kamu capek?”

Atau:

“Menurutmu, apa yang paling sulit dari semuanya?”

Pendekatan ini membantu remaja merasa bahwa emosinya diterima.

Perlu dipahami bahwa mendengarkan bukan berarti menyetujui semua perilaku mereka.

Kita bisa memahami perasaan seseorang tanpa membenarkan semua tindakannya.

Misalnya, jika seorang remaja marah karena mendapatkan nilai buruk, kita bisa mengatakan:

“Aku paham kamu kecewa. Nilai itu memang penting bagimu.”

Setelah emosinya lebih tenang, barulah membicarakan apa yang dapat dilakukan selanjutnya.

Urutannya penting.

Validasi terlebih dahulu, arahkan kemudian.

4. Hindari Perdebatan Ketika Emosi Sedang Tinggi

Ketika remaja bersikap cuek, membantah, atau menjawab dengan nada tinggi, orang dewasa mungkin terdorong untuk membalas.

Akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Orang tua meninggikan suara.

Remaja ikut meninggikan suara.

Orang tua merasa harus menang.

Remaja merasa harus mempertahankan diri.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Dalam situasi seperti ini, tujuan utama seharusnya bukan memenangkan argumen, tetapi mengembalikan percakapan ke kondisi yang lebih tenang.

Jika emosi sedang tinggi, tidak ada salahnya menghentikan percakapan untuk sementara.

Misalnya:

“Kita sama-sama sedang emosi. Kita berhenti dulu. Nanti kita bicarakan lagi ketika sudah lebih tenang.”

Ini bukan berarti mengalah.

Ini adalah bentuk pengendalian diri.

Orang dewasa juga menjadi model bagi remaja dalam belajar mengatur emosi. Jika orang tua mampu menunjukkan bahwa konflik dapat dihentikan sementara tanpa saling menyerang, remaja mendapatkan contoh bahwa kemarahan tidak harus selalu berakhir dengan pertengkaran.

Ketika suasana sudah lebih tenang, pembicaraan bisa dilanjutkan.

Saat itu, fokuskan pembicaraan pada perilaku, bukan karakter.

Hindari:

“Kamu memang pemalas.”

“Kamu tidak pernah menghargai orang lain.”

“Kamu selalu bikin masalah.”

Lebih baik:

“Tadi ketika kamu berbicara dengan nada seperti itu, aku merasa percakapan kita menjadi sulit. Aku ingin kita mencari cara supaya bisa berbicara tanpa saling menyakiti.”

Perbedaannya adalah satu menyerang identitas, sedangkan yang lain membahas perilaku tertentu.

5. Bangun Hubungan Melalui Aktivitas Sederhana

Tidak semua kedekatan harus dibangun melalui percakapan serius.

Justru, sebagian remaja lebih mudah terbuka ketika mereka tidak merasa sedang diajak melakukan “sesi konseling”.

Misalnya, ajak mereka:

makan bersama,

berjalan-jalan,

berbelanja,

memasak,

menonton film,

bermain olahraga,

mengantar mereka ke suatu tempat,

atau sekadar duduk minum bersama.

Aktivitas sederhana dapat menciptakan kesempatan untuk berbicara secara lebih alami.

Ada kalanya percakapan paling jujur justru muncul ketika seseorang sedang berada di dalam mobil bersama orang tua, bukan ketika duduk berhadapan di ruang keluarga.

Karena itu, jangan selalu menunggu remaja datang dan mengatakan:

“Ayah, Ibu, aku ingin bicara.”

Ciptakan kesempatan agar interaksi positif terjadi secara rutin.

Hubungan yang kuat tidak dibangun hanya ketika terjadi masalah.

Hubungan dibangun melalui banyak interaksi kecil yang terjadi berulang kali.

Ketika seorang remaja merasa hubungan dengan orang tuanya aman, ia akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Jadi, jangan hanya hadir ketika ingin menegur.

Hadir juga ketika tidak ada masalah.

Tertawalah bersama mereka.

Dengarkan musik yang mereka sukai.

Tanyakan pendapat mereka.

Hargai minat mereka meskipun tidak semuanya sesuai dengan selera kita.

Kedekatan sering kali tumbuh dari hal-hal yang tampaknya sepele.

6. Tetap Tegas, tetapi Jangan Kehilangan Empati

Memahami remaja bukan berarti membiarkan semua perilaku mereka.

Ini merupakan hal penting yang sering disalahpahami.

Ada perbedaan antara empati dan permisif.

Empati berarti kita mencoba memahami perasaan mereka.

Permisif berarti kita membiarkan semua perilaku tanpa batas.

Misalnya, seorang remaja boleh merasa marah. Tetapi marah tidak berarti ia boleh menghina atau melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Ia boleh membutuhkan privasi. Namun tetap ada aturan tertentu yang berkaitan dengan keselamatan dan tanggung jawab.

Ia boleh tidak setuju dengan orang tua. Namun perbedaan pendapat tetap dapat disampaikan dengan cara yang menghormati.

Karena itu, batasan tetap diperlukan.

Namun, batasan akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan jelas dan konsisten.

Misalnya:

“Kamu boleh tidak setuju dengan keputusan ini. Aku juga bersedia mendengar alasanmu. Tapi kita tetap tidak boleh saling menghina.”

Pesan seperti ini menunjukkan dua hal sekaligus:

“Perasaanmu penting.”

dan

“Perilakumu tetap memiliki batas.”

Inilah salah satu bentuk pengasuhan yang seimbang.

Jangan Jadikan “Acuh” sebagai Pertarungan Kekuasaan

Ada satu jebakan yang perlu dihindari ketika menghadapi remaja: menjadikan sikap cuek sebagai pertarungan ego.

Orang tua berpikir:

“Kalau dia tidak mau bicara, aku juga tidak akan bicara.”

Atau:

“Pokoknya dia harus menurut.”

Sementara remaja berpikir:

“Aku tidak akan kalah.”

Akhirnya hubungan berubah menjadi pertandingan siapa yang lebih keras kepala.

Padahal, tujuan hubungan antara orang tua dan remaja bukan untuk menentukan siapa yang menang.

Tujuannya adalah menjaga hubungan sekaligus membantu remaja berkembang menjadi individu yang semakin mandiri dan bertanggung jawab.

Karena itu, ketika remaja menunjukkan sikap acuh, cobalah mengurangi pertanyaan:

“Bagaimana caranya membuat dia menurut?”

Dan menggantinya dengan:

“Bagaimana caranya agar dia tetap merasa aman untuk berkomunikasi denganku?”

Perubahan sudut pandang ini dapat membuat respons kita jauh lebih efektif.

Kapan Sikap Acuh Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius?

Sikap pendiam atau ingin memiliki ruang pribadi pada remaja tidak selalu merupakan masalah.

Namun, orang tua atau orang terdekat sebaiknya lebih memperhatikan jika perubahan perilaku berlangsung lama atau disertai perubahan besar lainnya.

Misalnya, remaja yang sebelumnya aktif tiba-tiba menarik diri dari hampir semua orang. Ia kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami perubahan tidur atau pola makan yang signifikan, prestasinya menurun drastis, tampak sangat putus asa, atau menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya sedang mengalami tekanan berat.

Dalam kondisi seperti itu, jangan hanya menganggapnya sebagai “fase remaja” atau “sekadar mencari perhatian”.

Cobalah berbicara dengan tenang dan pertimbangkan bantuan dari psikolog atau profesional kesehatan mental apabila diperlukan.

Mencari bantuan bukan berarti orang tua gagal mendidik anak.

Sebaliknya, meminta bantuan ketika situasi terasa terlalu berat merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab.

Pada Akhirnya, Remaja Tidak Selalu Membutuhkan Nasihat

Ketika seorang remaja bersikap acuh tak acuh, mungkin hal pertama yang ingin kita lakukan adalah memperbaikinya.

Kita ingin mereka lebih sopan.

Lebih terbuka.

Lebih komunikatif.

Lebih bertanggung jawab.

Namun terkadang, sebelum semua itu terjadi, mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau memahami.

Seseorang yang tidak langsung menghakimi.

Seseorang yang tidak memaksa mereka bicara ketika mereka belum siap.

Seseorang yang tetap hadir meskipun mereka sedang menjauh.

Karena di balik sikap cuek, bisa saja terdapat emosi yang belum mampu mereka ungkapkan.

Maka, enam langkah yang dapat dicoba adalah:

Jangan langsung menganggap sikap acuh sebagai tanda tidak peduli.

Berikan ruang tanpa benar-benar meninggalkan mereka.

Dengarkan lebih banyak sebelum memberikan nasihat.

Hindari perdebatan ketika emosi sedang tinggi.

Bangun kedekatan melalui aktivitas sederhana dan konsisten.

Tetap tegas terhadap batasan, tetapi jangan kehilangan empati.

Menghadapi remaja memang membutuhkan kesabaran.

Tidak semua percakapan akan berjalan mulus. Tidak setiap nasihat langsung diterima. Dan tidak setiap hari hubungan akan terasa dekat.

Namun, hubungan yang sehat tidak dibangun dalam satu percakapan.

Ia dibangun sedikit demi sedikit melalui rasa aman, kepercayaan, batasan yang sehat, dan kehadiran yang konsisten.

Jadi, ketika seorang remaja terlihat acuh tak acuh, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkanmu.

Bisa jadi, justru pada masa ketika mereka terlihat paling menjauh, mereka sedang belajar menjadi dirinya sendiri—dan tetap membutuhkan satu hal yang sangat penting:

tahu bahwa ada seseorang yang akan tetap ada ketika mereka akhirnya siap untuk kembali berbicara.

EDITOR: Hanny Suwindari