← Beranda
Ingin Melindungi Diri dan Tak Tertipu Disinformasi Berbasis AI? Pelajari 7 Hal Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 15 Oktober 2026 | 06.34 WIB
seseorang yang tak tertipu oleh disinformasi ai./Magnific/primagefactory

JawaPos.com - Kita hidup di zaman ketika melihat belum tentu berarti benar.

Sebuah foto bisa dibuat oleh AI. Suara seseorang bisa ditiru. Wajah seorang tokoh dapat ditempelkan ke tubuh orang lain. Video yang tampak begitu nyata bisa berisi percakapan yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Masalahnya, kemampuan teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengenali manipulasi.

Di sinilah psikologi menjadi penting.

Untuk menghadapi disinformasi berbasis AI, kita tidak cukup hanya belajar membedakan gambar asli dan gambar palsu. Kita juga perlu memahami mengapa otak kita mudah percaya, kapan emosi membuat penilaian menjadi buruk, dan bagaimana kebiasaan berpikir tertentu dapat dimanfaatkan oleh pembuat disinformasi.

Dengan kata lain, pertahanan terbaik bukan hanya teknologi.

Pertahanan terbaik juga adalah memahami cara kerja pikiran sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (7/10), terdapat tujuh hal dari psikologi yang penting dipelajari jika Anda ingin lebih sulit ditipu oleh disinformasi berbasis AI.

1. Pahami bahwa otak tidak selalu mencari kebenaran—otak mencari jalan yang efisien

Banyak orang mengira manusia mengambil keputusan dengan cara mengumpulkan fakta, membandingkannya, lalu menarik kesimpulan secara rasional.

Dalam kehidupan nyata, prosesnya tidak sesederhana itu.

Otak harus memproses begitu banyak informasi setiap hari. Karena itu, manusia menggunakan berbagai jalan pintas mental atau heuristik untuk membuat penilaian dengan cepat.

Dalam kondisi normal, mekanisme ini sangat berguna.

Bayangkan Anda membaca sebuah berita yang judulnya berbunyi:

"Pakar memperingatkan bahwa teknologi tertentu sangat berbahaya."

Otak Anda mungkin langsung bertanya: siapa pakarnya? Apa penelitiannya? Apa buktinya?

Namun bisa juga terjadi sebaliknya.

Jika berita tersebut sesuai dengan apa yang selama ini Anda yakini, Anda mungkin langsung merasa, "Nah, benar kan?"

Di sinilah masalahnya.

Kita sering kali tidak memproses informasi hanya berdasarkan apakah informasi itu benar, tetapi juga berdasarkan seberapa mudah informasi tersebut terasa masuk akal.

Informasi yang sederhana, familiar, dan mudah dipahami sering terasa lebih benar dibandingkan informasi yang rumit dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Disinformasi memanfaatkan kecenderungan ini.

Konten palsu yang dibuat dengan AI dapat dirancang agar:

mudah dipahami,
terlihat profesional,
menggunakan bahasa yang meyakinkan,
memiliki visual yang menarik,
menyertakan angka atau istilah ilmiah,
dan memberikan kesan bahwa informasi tersebut sudah diverifikasi.

Padahal, tampilan yang meyakinkan bukan bukti kebenaran.

Apa yang harus dilakukan?

Biasakan memisahkan dua pertanyaan:

"Apakah ini terasa benar?"

dan

"Apa bukti bahwa ini benar?"

Keduanya berbeda.

Perasaan yakin bukan bukti.

Tampilan profesional bukan bukti.

Jumlah orang yang membagikan sebuah informasi juga bukan bukti.

Bahkan sebuah video pun bukan otomatis bukti bahwa peristiwa di dalamnya benar-benar terjadi.

Ketika sebuah konten terasa sangat meyakinkan, justru jadikan rasa yakin tersebut sebagai alasan untuk berhenti sejenak.

2. Kenali confirmation bias: kita lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan keyakinan kita

Salah satu kelemahan terbesar manusia ketika menghadapi informasi adalah confirmation bias.

Secara sederhana, confirmation bias adalah kecenderungan untuk lebih memperhatikan, menerima, atau mengingat informasi yang sesuai dengan keyakinan sebelumnya.

Misalnya, seseorang sudah yakin bahwa suatu tokoh publik adalah orang yang buruk.

Kemudian muncul video yang tampaknya memperlihatkan tokoh tersebut mengatakan sesuatu yang kontroversial.

Tanpa melakukan pemeriksaan, orang tersebut mungkin langsung percaya.

Sebaliknya, jika muncul informasi yang membela tokoh tersebut, ia mungkin menjadi jauh lebih skeptis.

Masalahnya bukan hanya bahwa seseorang mempunyai pendapat.

Masalahnya adalah standar pembuktiannya bisa berubah tergantung apakah informasi tersebut mendukung atau menyerang keyakinannya.

AI membuat persoalan ini semakin serius.

Dengan teknologi generatif, seseorang dapat membuat konten yang sangat sesuai dengan keyakinan kelompok tertentu.

Bayangkan sebuah sistem yang menghasilkan:

video yang memperkuat ketakutan kelompok A,
gambar yang mempermalukan kelompok B,
kutipan palsu yang menyerang tokoh C,
atau narasi yang membuat sebuah kelompok merasa selalu menjadi korban.

Konten semacam itu sangat efektif bukan karena selalu berkualitas tinggi, tetapi karena menekan tombol psikologis yang sudah ada di dalam diri audiens.

Cara melawannya

Cobalah melakukan eksperimen sederhana ketika menemukan informasi yang sangat sesuai dengan pendapat Anda.

Tanyakan:

"Kalau informasi ini bertentangan dengan keyakinan saya, apakah saya akan memeriksanya dengan standar yang sama?"

Kemudian cari sumber yang memiliki posisi berbeda.

Bukan untuk memaksa diri menerima semua pendapat, tetapi untuk menguji apakah kesimpulan Anda benar-benar didasarkan pada bukti.

Salah satu kebiasaan intelektual yang sangat berguna adalah:

Jangan hanya mencari bukti yang membenarkan kesimpulan. Cari juga bukti yang berpotensi membantahnya.

Jika kesimpulan Anda tetap bertahan setelah diuji, tingkat kepercayaan Anda menjadi lebih beralasan.

3. Waspadai emosi: semakin marah, takut, atau terkejut, semakin mudah kita bereaksi tanpa memeriksa

Disinformasi yang efektif biasanya tidak membosankan.

Ia dirancang untuk membuat orang bereaksi.

Marah.

Takut.

Panik.

Jijik.

Tersinggung.

Terkejut.

Merasa dipermalukan.

Atau merasa mendapatkan sebuah "rahasia besar" yang tidak diketahui orang lain.

Mengapa?

Karena emosi memiliki pengaruh besar terhadap perhatian dan pengambilan keputusan.

Ketika kita melihat sesuatu yang sangat emosional, kita cenderung memberikan perhatian lebih besar.

Masalahnya muncul ketika perhatian berubah menjadi impuls.

Misalnya Anda menerima video yang tampaknya memperlihatkan seseorang melakukan tindakan mengerikan.

Anda langsung marah.

Kemudian muncul dorongan:

"Sebarkan supaya semua orang tahu!"

Di titik itulah pembuat disinformasi mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Anda tidak perlu diperintah untuk menjadi penyebar.

Emosi Anda melakukannya untuk mereka.

Gunakan aturan "jeda emosional"

Jika sebuah konten membuat Anda ingin segera:

membagikannya,
menghina seseorang,
memperingatkan keluarga,
menyerang kelompok tertentu,
atau menulis komentar panjang,

berhentilah sebentar.

Jangan langsung melakukan apa pun.

Tanyakan:

"Apa yang sedang saya rasakan?"

Jika jawabannya adalah marah, takut, panik, atau sangat terkejut, berikan jarak sebelum mengambil keputusan.

Bukan berarti emosi Anda salah.

Justru emosi adalah sinyal penting.

Tetapi emosi seharusnya menjadi alasan untuk memeriksa informasi, bukan alasan untuk melewati pemeriksaan.

4. Pelajari efek pengulangan: sesuatu bisa terasa benar hanya karena kita sering melihatnya

Ada fenomena psikologis yang dikenal sebagai illusory truth effect.

Secara sederhana, pengulangan sebuah pernyataan dapat membuat pernyataan tersebut terasa semakin familiar dan, dalam kondisi tertentu, semakin benar.

Bayangkan Anda melihat sebuah klaim satu kali.

Anda mungkin meragukannya.

Kemudian beberapa hari kemudian Anda melihat klaim yang sama di media sosial.

Lalu muncul lagi di grup chat.

Kemudian seseorang membicarakannya dalam video.

Setelah itu sebuah akun besar mengunggahnya.

Akhirnya Anda berpikir:

"Saya sudah sering mendengar ini. Mungkin memang benar."

Padahal jumlah pengulangan bukan ukuran kebenaran.

Di era AI, masalah ini bisa menjadi semakin besar karena konten dapat dibuat dalam jumlah yang sangat besar.

Satu klaim palsu dapat dikemas menjadi:

artikel,
video pendek,
gambar,
meme,
podcast,
komentar,
transkrip,
infografik,
dan berbagai unggahan media sosial.

Seseorang yang melihat klaim tersebut berkali-kali dapat memperoleh ilusi bahwa klaim itu sudah "terbukti".

Padahal ia hanya mengalami paparan berulang.

Cara melawannya

Ketika Anda merasa:

"Saya sudah sering dengar ini."

jangan menjadikannya sebagai bukti.

Ganti pertanyaan tersebut menjadi:

"Di mana sumber pertama informasi ini?"

Kemudian cari sumber primer.

Siapa yang pertama kali mengatakan?

Apakah ada dokumen?

Apakah ada penelitian?

Apakah ada rekaman lengkap?

Apakah ada pernyataan resmi?

Apakah sumber independen lain mengonfirmasi?

Dengan demikian, Anda memindahkan dasar keyakinan dari familiaritas menuju bukti.

5. Jangan tertipu oleh "social proof": banyak orang percaya tidak berarti informasi itu benar

Manusia adalah makhluk sosial.

Kita sering menggunakan perilaku orang lain sebagai petunjuk untuk menentukan apa yang harus kita percaya.

Jika semua orang terlihat panik, kita mungkin ikut panik.

Jika ribuan orang membagikan sesuatu, kita mungkin menganggap sesuatu tersebut benar.

Jika sebuah video memiliki jutaan penayangan, kita mungkin merasa bahwa video itu pasti penting.

Ini disebut sebagai bentuk social proof.

Dalam banyak situasi kehidupan, mengikuti orang lain memang berguna.

Namun dalam lingkungan digital, indikator sosial dapat dimanipulasi.

Jumlah:

likes,
views,
shares,
komentar,
followers,

tidak otomatis menunjukkan kebenaran.

Bahkan komentar yang terlihat seperti kesaksian pribadi pun dapat dipalsukan, dibuat oleh bot, atau dihasilkan menggunakan AI.

Masalahnya menjadi semakin kompleks karena manusia cenderung menganggap sebuah pendapat lebih kredibel ketika melihat banyak orang lain tampak menyetujuinya.

Latih diri untuk memisahkan popularitas dari kredibilitas

Tanyakan tiga hal:

1. Berapa banyak orang yang percaya?

Ini pertanyaan tentang popularitas.

2. Siapa yang mengatakan?

Ini pertanyaan tentang sumber.

3. Apa bukti yang diberikan?

Ini pertanyaan tentang kredibilitas.

Pertanyaan ketiga jauh lebih penting daripada jumlah likes.

Sebuah klaim tidak menjadi benar karena satu juta orang menyukainya.

Dan sebuah klaim tidak otomatis menjadi salah hanya karena hanya sedikit orang yang mempercayainya.

Kebenaran tidak ditentukan oleh sistem voting.

6. Sadari bahwa "deepfake terlihat nyata" bukan berarti "deepfake benar"

Salah satu tantangan terbesar AI adalah kemampuan menghasilkan media yang semakin realistis.

Foto dapat dibuat sangat meyakinkan.

Suara dapat ditiru.

Video dapat dimanipulasi.

Ekspresi wajah dapat dibuat tampak natural.

Akibatnya, manusia menghadapi masalah baru:

Indra kita tidak selalu dapat menjadi alat verifikasi yang cukup.

Dulu kita sering berpikir:

"Saya percaya karena saya melihatnya sendiri."

Sekarang prinsip tersebut semakin berbahaya.

Anda bisa melihat sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Anda bisa mendengar seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak pernah ia katakan.

Anda bisa melihat foto sebuah peristiwa yang sebenarnya tidak pernah berlangsung.

Karena itu, kemampuan penting di era AI bukan sekadar media literacy, tetapi juga epistemic humility—kesadaran bahwa persepsi kita sendiri memiliki keterbatasan.

Jangan bertanya hanya: "Apakah ini terlihat asli?"

Pertanyaan yang lebih baik adalah:

"Bagaimana saya tahu bahwa ini asli?"

Ini perubahan kecil dalam cara berpikir, tetapi dampaknya besar.

Perhatikan konteks.

Cari versi asli.

Cari rekaman lengkap.

Periksa tanggal.

Periksa siapa yang pertama mengunggah.

Bandingkan dengan sumber lain.

Cari laporan dari organisasi atau sumber yang kredibel dan independen.

Jika sebuah video memperlihatkan peristiwa besar tetapi hanya muncul dari satu akun anonim, itu adalah alasan untuk berhati-hati.

Bukan bukti bahwa videonya palsu.

Tetapi juga bukan alasan untuk langsung mempercayainya.

7. Latih "slow thinking": jangan membuat keputusan penting berdasarkan kesan pertama

Mungkin salah satu keterampilan paling penting untuk bertahan dari disinformasi adalah kemampuan untuk berhenti sejenak.

Dalam psikologi kognitif populer, kita sering membedakan antara pemrosesan yang cepat dan intuitif dengan pemrosesan yang lebih lambat dan analitis.

Pemrosesan cepat membantu kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Kita tidak mungkin memeriksa secara mendalam setiap informasi kecil yang kita temui.

Namun masalah muncul ketika kita menggunakan mode cepat untuk persoalan yang membutuhkan pemeriksaan.

Misalnya:

"Video ini viral, berarti benar."

"Saya mengenal wajahnya, berarti itu benar-benar dia."

"Teman saya mengirimkannya, berarti aman."

"Banyak komentar yang bilang benar, berarti benar."

Semua kesimpulan tersebut terasa mudah.

Tetapi kemudahan bukanlah jaminan kebenaran.

Gunakan "protokol 30 detik"

Anda tidak harus melakukan investigasi satu jam setiap kali menerima pesan WhatsApp.

Untuk klaim yang terlihat penting, lakukan pemeriksaan singkat:

Berhenti.

Jangan langsung membagikan.

Identifikasi klaimnya.

Apa sebenarnya yang dikatakan konten tersebut?

Cari sumber.

Siapa yang pertama kali mempublikasikannya?

Periksa tanggal dan konteks.

Apakah konten lama sedang digunakan untuk menggambarkan kejadian baru?

Cari konfirmasi.

Apakah sumber independen lain mengatakan hal yang sama?

Periksa emosi Anda.

Apakah Anda ingin mempercayainya karena memang ada bukti, atau karena informasi itu membuat Anda marah, takut, atau merasa dibenarkan?

Jika masih ragu, jangan sebarkan.

Kalimat sederhana seperti:

"Saya belum bisa memastikan kebenarannya."

bukan tanda kebodohan.

Justru itu tanda kehati-hatian.

Mengapa memahami psikologi lebih penting daripada sekadar belajar "ciri-ciri AI"?

Banyak panduan tentang deepfake mengajarkan kita untuk mencari tanda-tanda seperti:

gerakan wajah yang aneh,
tangan yang tidak natural,
suara yang terdengar sedikit berbeda,
pencahayaan yang tidak konsisten,
atau artefak visual.

Pengetahuan tersebut tetap berguna.

Namun ada masalah.

Teknologi berubah.

Tanda-tanda yang terlihat jelas hari ini mungkin menjadi jauh lebih sulit dikenali besok.

Karena itu, kita tidak boleh hanya mengandalkan kemampuan mata atau telinga.

Kita membutuhkan pertahanan yang lebih fundamental:

cara berpikir.

Jika seseorang memahami confirmation bias, ia akan lebih berhati-hati terhadap informasi yang terlalu sesuai dengan keyakinannya.

Jika seseorang memahami pengaruh emosi, ia akan lebih berhati-hati ketika sebuah konten membuatnya marah atau panik.

Jika seseorang memahami illusory truth effect, ia tidak akan menganggap sesuatu benar hanya karena sering melihatnya.

Jika seseorang memahami social proof, ia tidak akan menjadikan jumlah likes sebagai bukti.

Jika seseorang memahami keterbatasan persepsi, ia tidak akan menganggap "saya melihatnya sendiri" sebagai akhir dari proses verifikasi.

Dan jika seseorang membiasakan slow thinking, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk menghentikan reaksi impulsif sebelum berubah menjadi tindakan.

Jangan berusaha menjadi manusia yang tidak pernah tertipu

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Tidak ada manusia yang kebal terhadap disinformasi.

Bahkan orang yang cerdas, berpendidikan, dan terbiasa menggunakan internet tetap dapat tertipu.

Mengapa?

Karena disinformasi tidak selalu menyerang kekurangan pengetahuan.

Sering kali ia menyerang kelemahan psikologis yang dimiliki semua manusia.

Kita ingin merasa benar.

Kita ingin memahami dunia dengan cepat.

Kita ingin mempercayai kelompok kita.

Kita ingin informasi yang mengonfirmasi keyakinan kita.

Kita ingin memperingatkan orang lain ketika merasa ada bahaya.

Kita mudah terpengaruh oleh sesuatu yang berulang.

Dan kita cenderung memperhatikan apa yang mengejutkan.

Semua itu manusiawi.

Karena itu, tujuan literasi digital bukan membuat kita menjadi orang yang selalu benar.

Tujuannya adalah membuat kita lebih sulit dimanipulasi dan lebih cepat menyadari ketika kita mungkin salah.

Tujuh pertanyaan yang sebaiknya Anda biasakan

Mulai sekarang, ketika menemukan konten yang mencurigakan, coba tanyakan:

1. "Apa yang sebenarnya diklaim oleh informasi ini?"

Jangan langsung menerima framing dari pembuat konten.

2. "Apa yang membuat saya ingin mempercayainya?"

Apakah karena bukti, atau karena informasi tersebut sesuai dengan keyakinan saya?

3. "Emosi apa yang sedang muncul?"

Marah? Takut? Panik? Senang? Merasa superior?

4. "Siapa sumber pertamanya?"

Jangan hanya melihat akun yang membagikan ulang.

5. "Apakah saya sudah melihat informasi ini terlalu sering?"

Familiar bukan berarti benar.

6. "Apakah ada sumber independen yang mengonfirmasi?"

Satu sumber bisa salah atau sengaja menyesatkan.

7. "Jika ternyata saya salah, apakah saya siap mengakuinya?"

Pertanyaan terakhir ini mungkin yang paling sulit.

Tetapi juga yang paling penting.

Pada akhirnya, pertahanan terbaik adalah kerendahan hati intelektual

Di masa lalu, kita mungkin berpikir bahwa tantangan terbesar internet adalah menemukan informasi.

Sekarang masalahnya berbeda.

Kita memiliki terlalu banyak informasi.

Tantangannya adalah menentukan:

mana yang layak dipercaya.

AI akan membuat masalah ini semakin kompleks.

Kita mungkin akan melihat gambar yang semakin realistis, suara yang semakin meyakinkan, video yang semakin sulit dibedakan dari rekaman asli, dan teks yang semakin profesional.

Karena itu, masa depan literasi digital tidak hanya membutuhkan teknologi pendeteksi AI.

Kita membutuhkan manusia yang mampu berkata:

"Saya belum tahu."

"Saya ingin memeriksanya dulu."

"Saya mungkin bias."

"Informasi ini sesuai dengan keyakinan saya, jadi saya harus lebih berhati-hati."

Dan yang paling penting:

"Saya tidak harus langsung bereaksi hanya karena sesuatu terlihat nyata."

Di tengah banjir konten yang dibuat dan dimanipulasi oleh AI, kemampuan untuk berhenti, berpikir, memeriksa, dan meragukan kesimpulan sendiri mungkin menjadi salah satu bentuk perlindungan diri yang paling berharga.

Sebab di era ketika mesin semakin pandai membuat sesuatu terlihat nyata, manusia harus semakin pandai membedakan antara apa yang tampak benar, apa yang terasa benar, dan apa yang benar-benar memiliki bukti.

EDITOR: Hanny Suwindari