← Beranda
Ingin Mengenali Teman yang Buruk Lewat Kata-katanya? Perhatikan 6 Kata Ini dari Mulutnya
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 13 Oktober 2026 | 03.33 WIB
seseorang yang mengenali temannya buruk./Magnific/margosharubchinskiy

JawaPos.com - Tidak semua teman yang buruk akan menunjukkan dirinya dengan cara yang terang-terangan.

Kadang, mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yang benar-benar kasar. Mereka masih tertawa bersama kita, masih mengajak pergi, masih menyapa seperti biasa, bahkan mungkin terlihat sangat perhatian di depan orang lain.

Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Setiap kali berbicara dengannya, kita merasa semakin kecil. Kita mulai meragukan diri sendiri. Kita merasa bersalah karena memiliki batasan. Kita takut menceritakan kabar baik karena khawatir akan mendapatkan komentar yang meremehkan.

Menariknya, pola seperti ini sering kali bisa terlihat dari kata-kata yang berulang kali keluar dari mulut seseorang.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (7/10), dalam psikologi, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi. Cara seseorang berbicara juga dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana ia memandang orang lain, bagaimana ia merespons batasan, bagaimana ia mengelola konflik, dan bagaimana ia memperlakukan hubungan.

Tentu saja, kita tidak boleh menilai seseorang hanya berdasarkan satu kata.

Seseorang bisa mengatakan sesuatu yang salah karena sedang lelah, marah, bercanda, atau tidak menyadari dampak ucapannya. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang, konteksnya, dan bagaimana ia bersikap ketika kita menyampaikan keberatan.

Jika kamu ingin lebih peka terhadap kualitas sebuah pertemanan, setidaknya ada enam kata atau ungkapan yang patut kamu perhatikan.

1. “Cuma…”

Kata pertama yang perlu diperhatikan adalah “cuma.”

Sekilas, kata ini terdengar sederhana.

Namun, dalam percakapan tertentu, “cuma” dapat digunakan untuk mengecilkan perasaan, pencapaian, atau masalah orang lain.

Misalnya:

“Kamu marah cuma gara-gara begitu?”

Atau:

“Itu kan cuma bercanda.”

Atau:

“Kamu cuma terlalu sensitif.”

Masalahnya bukan pada kata “cuma” itu sendiri.

Masalahnya muncul ketika kata tersebut terus digunakan untuk menghapus atau mengecilkan pengalaman orang lain.

Bayangkan kamu sedang menceritakan sesuatu yang membuatmu kecewa. Alih-alih mendengarkan, temanmu langsung berkata bahwa masalah itu “cuma” hal kecil.

Lama-kelamaan, kamu bisa mulai berpikir:

“Jangan-jangan aku memang terlalu sensitif.”

“Jangan-jangan perasaanku tidak masuk akal.”

“Lebih baik aku tidak bercerita.”

Padahal, setiap orang memiliki pengalaman emosional yang berbeda.

Sesuatu yang terlihat kecil bagi orang lain belum tentu kecil bagi kita.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang mungkin tidak selalu setuju dengan perasaan kita. Namun, ia masih bisa mengatakan:

“Aku mungkin melihatnya berbeda, tapi aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu.”

Perbedaan pendapat tidak otomatis membuat sebuah hubungan menjadi buruk.

Yang patut diwaspadai adalah ketika seseorang secara konsisten membuatmu merasa bahwa emosimu tidak valid.

Teman yang baik tidak harus selalu membenarkanmu.

Tetapi teman yang baik biasanya tidak membuatmu merasa bodoh hanya karena memiliki perasaan.

2. “Harusnya…”

Kata kedua adalah “harusnya.”

Contohnya:

“Harusnya kamu begini.”

“Harusnya kamu tahu.”

“Harusnya kamu bisa.”

“Harusnya kamu tidak melakukan itu.”

Sekali lagi, kata ini tidak selalu buruk.

Ada situasi ketika seseorang memang memberikan nasihat yang tulus. Misalnya, teman mengingatkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, ada perbedaan antara memberikan masukan dan terus-menerus merasa berhak mengatur kehidupan orang lain.

Teman yang buruk dapat menggunakan kata “harusnya” sebagai alat untuk membuat dirinya berada di posisi yang lebih tinggi.

Ia seolah-olah selalu tahu apa yang terbaik untukmu.

Kamu memilih pekerjaan tertentu?

“Harusnya kamu ambil pekerjaan yang lain.”

Kamu memilih pasangan?

“Harusnya kamu dengarkan aku.”

Kamu ingin beristirahat?

“Harusnya kamu lebih produktif.”

Kamu menolak ajakannya?

“Harusnya sebagai teman kamu mau.”

Jika pola seperti ini terus muncul, perhatikan satu hal:

Apakah teman tersebut menghormati keputusanmu ketika kamu sudah menjelaskan pilihanmu?

Inilah yang lebih penting daripada kata “harusnya” itu sendiri.

Dalam pertemanan yang sehat, nasihat dapat diberikan tanpa memaksa.

Seseorang bisa berkata:

“Kalau menurutku, mungkin pilihan ini lebih baik. Tapi keputusan tetap ada di kamu.”

Ada ruang untuk berbeda.

Ada ruang untuk memilih.

Ada ruang untuk berkata tidak.

Karena persahabatan bukan hubungan antara seorang pengendali dan seseorang yang harus selalu mengikuti.

3. “Tapi…”

Kata ketiga adalah “tapi.”

Sebenarnya, “tapi” merupakan kata yang sangat normal dalam percakapan.

Namun, perhatikan bagaimana kata tersebut digunakan.

Kamu berkata:

“Aku akhirnya mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan.”

Temanmu menjawab:

“Bagus sih, tapi gajinya kecil.”

Kamu berkata:

“Aku senang akhirnya bisa membeli rumah.”

Jawabannya:

“Lumayan, tapi lokasinya jauh.”

Kamu bercerita:

“Aku berhasil menyelesaikan sesuatu yang selama ini sulit.”

Jawabannya:

“Iya, tapi sebenarnya tidak terlalu sulit.”

Jika hal tersebut terjadi sekali, tidak berarti apa-apa.

Namun, jika setiap kabar baik darimu selalu diikuti oleh “tapi”, ada pola yang menarik untuk diperhatikan.

Apakah orang tersebut kesulitan ikut merasa senang atas keberhasilanmu?

Dalam psikologi sosial, respons seseorang terhadap kabar baik orang lain dapat memberikan petunjuk tentang kualitas hubungan. Hubungan yang sehat biasanya memiliki ruang untuk merayakan keberhasilan satu sama lain, bukan hanya membicarakan kekurangan.

Teman yang baik tidak harus memuji secara berlebihan.

Tetapi mereka setidaknya mampu mengatakan:

“Wah, selamat!”

“Aku ikut senang.”

“Kamu pasti bangga dengan dirimu sendiri.”

Sebaliknya, jika setiap pencapaianmu selalu dicari kekurangannya, kamu mungkin mulai merasa tidak nyaman membagikan kabar baik.

Dan itu bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut tidak memberikan rasa aman secara emosional.

Ada satu pertanyaan sederhana yang bisa kamu tanyakan kepada dirimu sendiri:

“Ketika sesuatu yang baik terjadi dalam hidupku, apakah aku merasa nyaman menceritakannya kepada orang ini?”

Jika jawabannya semakin sering “tidak”, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

4. “Kamu…”

Kata keempat sebenarnya sangat sederhana:

“Kamu.”

Bukan karena kata tersebut buruk.

Melainkan karena perhatikan apa yang biasanya muncul setelahnya.

Teman yang suka menyalahkan orang lain sering menggunakan struktur kalimat yang berfokus pada kesalahan:

“Kamu memang selalu begitu.”

“Kamu yang bikin masalah.”

“Kamu terlalu sensitif.”

“Kamu tidak pernah mengerti.”

“Kamu memang susah dinasihati.”

Perhatikan kata-kata seperti “selalu,” “tidak pernah,” “memang,” dan bentuk penilaian terhadap karakter.

Ada perbedaan besar antara:

“Kemarin aku merasa sedih ketika kamu membatalkan janji tanpa memberi tahu.”

dan:

“Kamu memang selalu mengecewakan orang.”

Kalimat pertama membicarakan perilaku tertentu.

Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.

Dalam konflik yang sehat, orang biasanya membicarakan masalah yang spesifik.

“Aku tidak suka ketika kamu melakukan X.”

Dalam konflik yang tidak sehat, pembicaraan bisa berubah menjadi:

“Kamu memang orang seperti itu.”

Ketika seseorang terus menyerang karakter kita daripada membahas perilaku tertentu, konflik akan menjadi lebih sulit diselesaikan.

Sebab, bagaimana seseorang bisa memperbaiki sesuatu yang dianggap sebagai “seluruh kepribadiannya”?

Jika kamu melakukan kesalahan, teman yang sehat bisa mengatakan:

“Kemarin tindakanmu membuatku kecewa.”

Teman yang tidak sehat mungkin mengatakan:

“Kamu memang orang yang mengecewakan.”

Perbedaannya tampak kecil.

Tetapi dampak psikologisnya bisa sangat berbeda.

5. “Bercanda…”

Kata kelima yang patut diperhatikan adalah “bercanda.”

Ini mungkin salah satu kata yang paling sering digunakan setelah seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Misalnya:

“Dasar bodoh. Bercanda!”

“Kamu memang jelek kalau pakai baju itu. Bercanda!”

“Tidak ada yang tahan sama kamu. Bercanda!”

Ketika kamu terlihat tersinggung, jawabannya:

“Ah, jangan baper. Aku kan cuma bercanda.”

Humor sebenarnya bisa menjadi bagian yang sangat sehat dalam sebuah persahabatan.

Teman-teman memang sering saling menggoda.

Namun, humor yang sehat biasanya mempertimbangkan batasan dan respons orang yang menjadi sasaran candaan.

Jika seseorang sudah tahu bahwa candaan tertentu membuatmu tidak nyaman tetapi terus mengulanginya, masalahnya bukan lagi sekadar humor.

Masalahnya adalah penghormatan terhadap batasan.

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah kamu mengatakan, “Aku tidak nyaman kalau kamu bercanda seperti itu.”

Teman yang peduli mungkin akan menjawab:

“Oh, maaf. Aku tidak sadar kalau itu membuatmu tidak nyaman.”

Kemudian ia berusaha mengubah perilakunya.

Sebaliknya, seseorang yang tidak menghargai batasan mungkin malah menyerang balik:

“Kamu terlalu sensitif.”

“Bercanda saja tidak boleh.”

“Teman kok baperan.”

Di sinilah kita bisa melihat perbedaan antara humor dan penghinaan yang dibungkus sebagai humor.

Bukan semua candaan adalah masalah.

Tetapi candaan yang terus dilakukan setelah batasan disampaikan layak mendapatkan perhatian.

6. “Tenang…”

Kata terakhir yang mungkin perlu kamu perhatikan adalah “tenang.”

Sekali lagi, kata ini sebenarnya tidak buruk.

Bahkan dalam banyak situasi, seseorang berkata “tenang” karena memang ingin membantu.

Namun, konteksnya penting.

Ada perbedaan antara:

“Tenang, aku di sini. Ceritakan saja pelan-pelan.”

dan:

“Tenang, kamu lebay banget.”

Yang pertama memberikan rasa aman.

Yang kedua dapat digunakan untuk menghentikan pembicaraan mengenai perasaanmu.

Kadang-kadang seseorang tidak ingin mendengarkan masalah kita. Ia ingin percakapan tersebut segera selesai.

Ketika kamu mulai membicarakan sesuatu yang serius, ia mengatakan:

“Udah, tenang.”

“Jangan dipikirin.”

“Biasa saja.”

“Jangan drama.”

Akibatnya, kamu belajar untuk menyimpan semuanya sendiri.

Padahal, manusia tidak selalu membutuhkan solusi.

Kadang kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Teman yang baik tidak selalu bisa menyelesaikan masalah kita.

Tetapi kehadirannya dapat membuat kita merasa bahwa kita tidak sendirian.

Bukan Satu Kata, Melainkan Polanya

Ada satu hal penting yang perlu diingat.

Jangan menggunakan artikel seperti ini untuk menghakimi seseorang hanya karena ia pernah mengatakan salah satu kata di atas.

Tidak ada kata ajaib yang bisa membuktikan bahwa seseorang adalah teman buruk.

Orang bisa berkata “cuma”, “harusnya”, “tapi”, atau “bercanda” tanpa memiliki niat buruk.

Yang jauh lebih penting adalah:

Seberapa sering pola itu terjadi?

Bagaimana konteksnya?

Apa dampaknya kepadamu?

Dan yang paling penting:

Bagaimana reaksinya ketika kamu menyampaikan keberatan?

Inilah salah satu cara paling sederhana untuk memahami kualitas sebuah hubungan.

Coba katakan dengan tenang:

“Aku kurang nyaman kalau kamu bercanda seperti itu.”

Kemudian lihat apa yang terjadi.

Jika dia mendengarkan, mencoba memahami, meminta maaf, dan berusaha memperbaiki perilakunya, itu merupakan sinyal yang berbeda.

Namun jika dia justru menertawakanmu, menyalahkanmu, memutarbalikkan keadaan, atau mengatakan bahwa semua masalah ada di kepalamu, kamu mungkin perlu mengevaluasi kembali hubungan tersebut.

Teman yang Baik Tidak Harus Selalu Setuju denganmu

Ada kesalahpahaman bahwa teman yang baik adalah teman yang selalu mendukung apa pun yang kita lakukan.

Tidak juga.

Teman yang baik bisa mengkritik.

Bisa berbeda pendapat.

Bisa mengatakan bahwa kita salah.

Bahkan terkadang teman yang benar-benar peduli justru mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar.

Namun, ada perbedaan antara kritik yang membangun dan merendahkan seseorang.

Kritik yang sehat biasanya berbicara tentang perilaku:

“Menurutku keputusan itu bisa merugikanmu karena alasan ini.”

Sedangkan kritik yang destruktif menyerang identitas:

“Kamu memang tidak pernah bisa membuat keputusan yang benar.”

Yang pertama memberikan ruang untuk berpikir.

Yang kedua membuat kita merasa tidak berharga.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah dia pernah mengkritikku?”

Tanyakan:

“Bagaimana cara dia mengkritikku?”

Perhatikan Bagaimana Perasaanmu Setelah Bertemu Dengannya

Salah satu cara terbaik untuk mengevaluasi sebuah pertemanan bukan hanya dengan mengingat kata-katanya.

Perhatikan juga bagaimana perasaanmu setelah menghabiskan waktu bersamanya.

Apakah kamu merasa lebih ringan?

Apakah kamu bisa menjadi diri sendiri?

Apakah kamu merasa aman untuk mengatakan “tidak”?

Apakah kamu bisa membagikan keberhasilan tanpa takut diremehkan?

Apakah kamu bisa menceritakan masalah tanpa takut dihakimi?

Atau justru kamu sering pulang dengan pikiran:

“Kenapa tadi aku cerita sebanyak itu?”

“Kenapa aku merasa bersalah?”

“Kenapa aku selalu merasa kurang?”

“Kenapa aku harus berhati-hati setiap kali berbicara?”

Perasaan tersebut bukan bukti mutlak bahwa temanmu buruk.

Namun, itu adalah sinyal yang layak diperhatikan.

Hubungan yang sehat tidak berarti selalu menyenangkan.

Akan ada konflik.

Akan ada kesalahpahaman.

Akan ada hari ketika seseorang mengatakan sesuatu yang salah.

Tetapi secara umum, hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kedua orang untuk menjadi manusia: melakukan kesalahan, meminta maaf, menetapkan batasan, dan memperbaiki diri.

Jangan Takut Menjauh dari Hubungan yang Terus Mengurasmu

Banyak orang bertahan dalam pertemanan yang tidak sehat hanya karena mereka sudah terlalu lama mengenal orang tersebut.

“Kan kami sudah berteman sejak sekolah.”

“Dia sudah tahu banyak tentang hidupku.”

“Kalau aku menjauh, nanti aku dianggap jahat.”

“Takut tidak punya teman lagi.”

Padahal, lamanya sebuah hubungan tidak selalu menentukan kualitasnya.

Ada orang yang baru kita kenal beberapa bulan tetapi mampu menghargai kita dengan sangat baik.

Ada pula orang yang sudah bertahun-tahun bersama kita tetapi membuat kita terus-menerus meragukan diri sendiri.

Kamu tidak harus membenci seseorang untuk menjaga jarak.

Kamu juga tidak harus membuat pengumuman besar bahwa hubungan pertemanan telah berakhir.

Kadang, menjaga jarak bisa dilakukan perlahan.

Kurangi interaksi.

Tetapkan batasan.

Berhenti menceritakan hal-hal yang terlalu pribadi.

Dan lihat apakah hubungan tersebut menjadi lebih sehat ketika batasan mulai diterapkan.

Jika tidak, mungkin memang sudah waktunya menerima bahwa tidak semua pertemanan harus dipertahankan selamanya.

Pada Akhirnya, Dengarkan Bukan Hanya Kata-katanya, tetapi Polanya

Kata-kata memang bisa memberikan petunjuk.

“Cuma.”

“Harusnya.”

“Tapi.”

“Kamu…”

“Bercanda.”

“Tenang.”

Namun, jangan berhenti pada kata-kata.

Lihat pola di baliknya.

Apakah dia menghargai perasaanmu?

Apakah dia menghormati batasanmu?

Apakah dia bisa meminta maaf?

Apakah dia mampu ikut bahagia ketika kamu berhasil?

Apakah dia bisa menerima bahwa kamu memiliki pilihan sendiri?

Dan ketika terjadi konflik, apakah dia berusaha mencari solusi atau justru mencari siapa yang harus disalahkan?

Karena pada akhirnya, teman yang baik bukanlah orang yang tidak pernah mengatakan sesuatu yang salah.

Teman yang baik adalah orang yang ketika menyadari bahwa kata-katanya menyakitimu, ia bersedia berhenti, mendengarkan, dan memperbaiki diri.

Jadi, jika suatu hari kamu merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam sebuah pertemanan, jangan buru-buru menyalahkan dirimu sendiri.

Perhatikan kata-katanya.

Perhatikan perilakunya.

Perhatikan bagaimana dia memperlakukan batasanmu.

Dan yang paling penting, perhatikan bagaimana hubungan itu membuatmu merasa tentang dirimu sendiri.

Karena terkadang, tanda bahwa sebuah pertemanan tidak lagi sehat bukanlah ketika seseorang mengatakan sesuatu yang sangat kasar.

Melainkan ketika, sedikit demi sedikit, kamu mulai kehilangan kepercayaan pada dirimu sendiri setiap kali selesai berbicara dengannya.

EDITOR: Hanny Suwindari