JawaPos.com - Komunikasi yang baik bukan hanya tentang kemampuan berbicara.
Ada orang yang sangat pandai menjelaskan sesuatu, tetapi setiap percakapan dengannya terasa melelahkan. Ada juga orang yang tidak banyak bicara, tetapi ketika berbicara, kita merasa dipahami, dihargai, dan aman untuk menjadi diri sendiri.
Perbedaannya sering kali bukan pada kecerdasan intelektual, melainkan pada kecerdasan emosional dalam berkomunikasi.
Dalam psikologi, kemampuan mengenali emosi diri, memahami emosi orang lain, mengelola respons, dan menyesuaikan perilaku dengan situasi merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional. Kemampuan ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang membangun hubungan, menyelesaikan konflik, memberikan kritik, bahkan menghadapi percakapan yang sulit.
Menjadi komunikator yang cerdas secara emosional bukan berarti selalu lembut, selalu setuju, atau tidak pernah marah.
Justru sebaliknya.
Orang yang cerdas secara emosional mampu mengatakan hal yang sulit tanpa sengaja melukai, menetapkan batas tanpa merendahkan, menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menyerang, dan mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (5/10), jika kamu ingin mengembangkan kemampuan tersebut, berikut 7 cara yang bisa mulai kamu praktikkan.
1. Belajarlah Mengenali Emosimu Sebelum Merespons
Salah satu kesalahan komunikasi yang paling umum adalah merespons ketika emosi sedang mengambil alih.
Seseorang mengkritik kita.
Kita langsung membalas.
Pasangan mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai.
Kita langsung defensif.
Teman melakukan sesuatu yang mengecewakan.
Kita langsung mengirim pesan panjang.
Masalahnya, ketika emosi sedang tinggi, kemampuan kita untuk berpikir secara fleksibel dan mempertimbangkan konsekuensi dapat ikut terganggu.
Karena itu, komunikator yang cerdas secara emosional biasanya memiliki satu kebiasaan penting:
mereka memberi jeda sebelum bereaksi.
Bukan berarti mereka menekan emosi.
Mereka justru mengenalinya.
Misalnya, daripada langsung berkata:
"Kamu memang selalu egois."
cobalah berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
"Sebenarnya apa yang sedang aku rasakan?"
Mungkin jawabannya bukan sekadar marah.
Bisa jadi kamu merasa:
tidak dihargai,
kecewa,
takut ditinggalkan,
malu,
tidak dianggap,
frustrasi,
atau merasa tidak aman.
Ini penting karena emosi yang tidak dikenali sering kali muncul dalam bentuk komunikasi yang kasar atau defensif.
Ketika kamu tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan, cara menyampaikannya juga menjadi lebih jelas.
Daripada:
"Kamu nggak pernah peduli sama aku."
kamu bisa mengatakan:
"Aku merasa kecewa karena ketika aku sedang bercerita tadi, aku merasa tidak benar-benar didengarkan."
Pesannya berbeda.
Yang pertama menyerang karakter.
Yang kedua menjelaskan pengalaman emosional.
Latihan sederhananya
Sebelum merespons percakapan yang membuatmu terpicu, tanyakan tiga hal:
Apa yang terjadi?
Apa yang aku rasakan?
Apa yang sebenarnya aku butuhkan?
Jeda beberapa detik saja terkadang sudah cukup untuk mengubah arah sebuah percakapan.
2. Dengarkan untuk Memahami, Bukan untuk Membalas
Banyak orang sebenarnya tidak sedang mendengarkan ketika orang lain berbicara.
Mereka sedang menunggu giliran untuk menjawab.
Ketika seseorang bercerita, kita mungkin sudah sibuk memikirkan:
"Aku harus menjawab apa?"
"Aku punya pengalaman yang lebih parah."
"Dia salah. Aku harus menjelaskan kenapa."
"Nanti aku akan membalas perkataannya."
Secara fisik kita terlihat diam.
Tetapi secara mental, kita sudah sibuk mempersiapkan respons.
Komunikator yang cerdas secara emosional mengembangkan kemampuan yang berbeda:
active listening atau mendengarkan secara aktif.
Mendengarkan aktif berarti memberikan perhatian pada apa yang dikatakan, bagaimana cara seseorang mengatakannya, dan emosi yang mungkin berada di balik kata-kata tersebut.
Misalnya seseorang berkata:
"Aku capek. Rasanya semua pekerjaan di rumah selalu aku yang kerjakan."
Respons yang kurang efektif:
"Aku juga capek."
Secara fakta, mungkin benar.
Tetapi respons tersebut tidak menunjukkan bahwa kita memahami perasaannya.
Respons yang lebih baik:
"Kamu merasa terbebani karena merasa tanggung jawabnya terlalu banyak di kamu, ya?"
Kalimat tersebut tidak berarti kita otomatis setuju.
Kita hanya menunjukkan bahwa kita berusaha memahami.
Dan ini adalah perbedaan penting:
memahami seseorang tidak selalu berarti menyetujui pendapatnya.
Kamu bisa memahami mengapa seseorang marah tanpa menganggap perilaku kasarnya benar.
Kamu bisa memahami rasa kecewa seseorang tanpa menyetujui semua kesimpulannya.
Kamu bisa memahami perspektif seseorang sambil tetap memiliki batasan sendiri.
3. Belajar Memvalidasi Perasaan Tanpa Harus Selalu Setuju
Salah satu keterampilan komunikasi yang sangat kuat adalah validasi emosional.
Sayangnya, banyak orang salah memahami validasi.
Mereka mengira jika kita mengatakan:
"Aku mengerti kamu kecewa."
berarti kita mengakui bahwa orang tersebut benar.
Padahal tidak selalu demikian.
Validasi pada dasarnya berarti mengakui bahwa perasaan seseorang memiliki alasan untuk muncul dari sudut pandang pengalaman mereka.
Contohnya:
Temanmu kecewa karena kamu membatalkan rencana secara mendadak.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku bisa mengerti kenapa kamu kecewa. Kalau aku sudah menyiapkan waktu untuk bertemu lalu tiba-tiba dibatalkan, mungkin aku juga akan merasa kesal."
Kamu belum mengatakan bahwa pembatalanmu salah atau benar.
Kamu hanya menunjukkan bahwa emosinya dapat dipahami.
Setelah itu, kamu tetap bisa menjelaskan:
"Tapi aku memang punya alasan mendadak yang membuatku harus membatalkannya."
Ini jauh lebih efektif dibanding:
"Kamu lebay banget."
atau:
"Cuma begitu saja kok marah."
Kalimat seperti "kamu lebay", "terlalu sensitif", atau "jangan baper" sering kali membuat orang merasa emosinya tidak diterima.
Dan ketika seseorang merasa tidak dipahami, percakapan biasanya menjadi lebih defensif.
Karena itu, cobalah mengganti respons seperti:
"Kamu terlalu sensitif."
menjadi:
"Aku bisa melihat kalau hal itu benar-benar membuatmu kecewa."
Kemudian jika diperlukan, barulah masuk ke pembahasan mengenai fakta, tanggung jawab, atau solusi.
4. Pisahkan Orang dari Masalahnya
Ketika konflik terjadi, manusia mudah mengubah masalah menjadi serangan terhadap karakter.
Misalnya:
"Kamu nggak bertanggung jawab."
"Kamu memang egois."
"Kamu selalu seperti ini."
"Kamu nggak pernah bisa diajak kerja sama."
Perhatikan bahwa pembicaraan tersebut tidak lagi fokus pada perilaku tertentu.
Ia berubah menjadi penilaian terhadap identitas seseorang.
Ini berbahaya karena ketika seseorang merasa identitasnya diserang, ia cenderung mempertahankan diri daripada menyelesaikan masalah.
Karena itu, salah satu prinsip komunikasi yang lebih sehat adalah:
kritik perilakunya, bukan menyerang identitas orangnya.
Alih-alih:
"Kamu malas."
katakan:
"Pekerjaan ini belum selesai sesuai kesepakatan kita."
Alih-alih:
"Kamu nggak menghargai aku."
katakan:
"Ketika kamu memotong pembicaraanku beberapa kali, aku merasa pendapatku tidak didengarkan."
Alih-alih:
"Kamu selalu bikin masalah."
katakan:
"Keputusan tadi membuat pekerjaan kita menjadi lebih sulit."
Perbedaannya terlihat sederhana.
Namun dampaknya besar.
Kalimat pertama menyerang siapa seseorang.
Kalimat kedua membicarakan apa yang terjadi.
Dan sesuatu yang terjadi jauh lebih mudah dibicarakan dan diperbaiki daripada label terhadap kepribadian.
5. Jangan Takut Mengatakan "Aku Tidak Tahu" atau "Aku Salah"
Kecerdasan emosional juga terlihat dari kemampuan seseorang menghadapi kesalahan.
Orang yang tidak nyaman dengan dirinya sendiri biasanya merasa harus selalu terlihat benar.
Ketika melakukan kesalahan, mereka mencari alasan.
"Aku melakukan itu karena kamu..."
"Kalau kamu nggak melakukan X, aku juga nggak akan melakukan Y."
"Semua orang juga melakukan hal yang sama."
Sebaliknya, komunikator yang matang secara emosional mampu berkata:
"Aku salah."
Atau:
"Aku tadi terlalu defensif."
Atau:
"Aku belum tahu jawabannya."
Atau bahkan:
"Aku perlu memikirkan ini dulu sebelum memberikan respons."
Kalimat-kalimat tersebut bukan tanda kelemahan.
Justru menunjukkan adanya rasa aman terhadap diri sendiri.
Kamu tidak perlu mempertahankan citra sebagai orang yang selalu benar.
Dalam hubungan yang sehat, kemampuan meminta maaf sering kali jauh lebih berharga daripada kemampuan memenangkan argumen.
Tetapi meminta maaf juga perlu dilakukan dengan benar.
Bukan:
"Maaf kalau kamu tersinggung."
Kalimat itu terdengar seperti tanggung jawabnya berada pada perasaan orang lain.
Lebih baik:
"Aku sadar caraku berbicara tadi terlalu keras. Itu salahku. Aku minta maaf."
Kemudian, jika memungkinkan:
"Lain kali aku akan mencoba menyampaikannya tanpa meninggikan suara."
Itulah yang membuat permintaan maaf menjadi bermakna: mengakui perilaku, bukan sekadar ingin mengakhiri konflik.
6. Belajar Menyesuaikan Cara Berbicara dengan Kondisi Emosional Orang Lain
Komunikasi yang cerdas secara emosional bukan hanya tentang apa yang kita katakan.
Tetapi juga tentang kapan, bagaimana, dan kepada siapa kita mengatakannya.
Pesan yang sama dapat menghasilkan respons berbeda tergantung situasi.
Bayangkan seseorang baru saja mengalami kegagalan besar.
Jika kamu langsung mengatakan:
"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan."
Mungkin niatmu baik.
Tetapi orang tersebut mungkin merasa emosinya disepelekan.
Dalam situasi seperti itu, mungkin lebih tepat mengatakan:
"Aku tahu ini berat buat kamu. Kalau kamu mau cerita, aku dengarkan."
Setelah emosinya lebih stabil, barulah pembicaraan tentang solusi mungkin lebih efektif.
Ini bukan berarti kita harus berjalan di atas kulit telur atau takut berbicara jujur.
Justru kecerdasan emosional berarti memahami bahwa waktu dan cara penyampaian dapat memengaruhi bagaimana sebuah pesan diterima.
Orang yang sama bisa memberikan kritik yang benar tetapi tetap gagal berkomunikasi karena memilih waktu yang buruk, nada yang salah, atau tempat yang tidak tepat.
Karena itu, sebelum menyampaikan sesuatu yang penting, tanyakan:
Apakah ini waktu yang tepat?
Apakah orang ini sedang cukup tenang untuk mendengarkan?
Apakah cara penyampaianku membantu masalah atau justru memperburuknya?
Tiga pertanyaan sederhana ini bisa menyelamatkan banyak percakapan.
7. Berani Menetapkan Batas Tanpa Menjadi Agresif
Ada anggapan bahwa orang yang cerdas secara emosional harus selalu sabar, pengertian, dan lembut.
Tidak.
Kecerdasan emosional juga berarti mengetahui batas diri sendiri.
Kamu boleh mengatakan tidak.
Kamu boleh menolak.
Kamu boleh menghentikan percakapan.
Kamu boleh mengatakan bahwa sebuah perilaku tidak dapat diterima.
Namun cara menyampaikannya tetap penting.
Ada perbedaan antara agresif dan tegas.
Agresif:
"Kalau kamu ngomong seperti itu lagi, lihat saja nanti."
Tegas:
"Aku bersedia membicarakan masalah ini, tetapi aku tidak mau melanjutkan percakapan jika kita saling membentak."
Agresif:
"Terserah kamu. Aku nggak peduli."
Tegas:
"Aku menghargai keputusanmu, tetapi aku tidak bisa ikut dalam keputusan tersebut."
Agresif mencoba menguasai orang lain.
Tegas menjelaskan posisi diri sendiri.
Inilah yang sering disebut sebagai assertive communication atau komunikasi asertif.
Orang yang asertif tidak perlu merendahkan orang lain untuk mempertahankan dirinya.
Ia bisa berkata:
"Aku tidak setuju."
tanpa berkata:
"Kamu bodoh."
Ia bisa berkata:
"Aku butuh waktu."
tanpa berkata:
"Jangan ganggu aku."
Ia bisa berkata:
"Aku tidak nyaman dengan cara kamu berbicara kepadaku."
tanpa harus membalas dengan penghinaan.
Dengan kata lain:
kamu bisa memiliki batas tanpa kehilangan rasa hormat.
Mengapa 7 Kebiasaan Ini Sangat Penting?
Karena komunikasi pada dasarnya bukan sekadar proses memindahkan informasi.
Komunikasi juga berkaitan dengan regulasi emosi, rasa aman, kepercayaan, dan hubungan interpersonal.
Dua orang bisa membicarakan fakta yang sama, tetapi menghasilkan hubungan yang sangat berbeda tergantung bagaimana mereka mengelola emosi selama percakapan.
Komunikator yang cerdas secara emosional biasanya memiliki beberapa karakteristik:
mereka mampu menunda reaksi impulsif,
mereka mau mendengarkan perspektif lain,
mereka mampu mengakui emosi tanpa harus selalu setuju,
mereka dapat mengakui kesalahan,
mereka mampu menyampaikan kritik secara spesifik,
mereka memahami pentingnya konteks dan timing,
dan mereka dapat menetapkan batas tanpa menyerang.
Yang menarik, semua kemampuan ini bukan sesuatu yang harus kamu miliki sejak lahir.
Kemampuan tersebut dapat dilatih.
Mulailah dari Satu Percakapan Hari Ini
Kamu tidak perlu tiba-tiba menjadi komunikator yang sempurna.
Mulailah dari satu perubahan kecil.
Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang membuatmu tersinggung, jangan langsung membalas.
Tarik napas.
Berhenti beberapa detik.
Tanyakan:
"Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan?"
Kemudian dengarkan apa yang dikatakan orang tersebut.
Jika perlu, katakan:
"Aku ingin memahami maksudmu dulu."
Jika kamu merasa tersinggung:
"Aku merasa kurang nyaman mendengar itu. Bisa jelaskan maksudmu?"
Jika kamu menyadari bahwa kamu salah:
"Aku pikir-pikir lagi, sepertinya aku memang salah dalam hal ini."
Jika kamu tidak setuju:
"Aku memahami sudut pandangmu, tetapi aku melihatnya secara berbeda."
Dan jika seseorang melewati batas:
"Aku bersedia membicarakannya, tetapi bukan dengan cara seperti ini."
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa.
Tetapi jika dilakukan secara konsisten, cara kamu berkomunikasi akan berubah secara signifikan.
Penutup: Komunikator Hebat Bukan yang Selalu Punya Jawaban
Pada akhirnya, menjadi komunikator yang cerdas secara emosional bukan berarti menjadi orang yang selalu tahu harus berkata apa.
Bukan pula berarti kamu tidak pernah marah, kecewa, tersinggung, atau salah bicara.
Kita semua tetap manusia.
Kita akan kehilangan kesabaran.
Kita akan salah memahami seseorang.
Kita akan mengatakan sesuatu yang kemudian kita sesali.
Yang membedakan adalah apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.
Apakah kita terus mempertahankan ego?
Atau kita mampu berhenti dan berkata:
"Tunggu. Mungkin aku perlu memahami ini lebih baik."
Komunikasi yang matang bukan tentang memenangkan setiap percakapan.
Ini tentang menciptakan ruang di mana dua orang dapat berbicara tanpa harus saling menghancurkan.
Jadi, jika kamu ingin menjadi komunikator yang cerdas secara emosional, ingat tujuh hal ini:
Kenali emosimu.
Dengarkan untuk memahami.
Validasi tanpa harus selalu setuju.
Pisahkan orang dari masalah.
Berani mengakui kesalahan.
Pilih waktu dan cara penyampaian.
Dan tetapkan batas dengan tegas namun tetap menghormati.
Karena pada akhirnya, kecerdasan dalam berkomunikasi bukan hanya terlihat dari seberapa pintar kamu berbicara, tetapi dari seberapa aman, dipahami, dan dihargai orang lain ketika berbicara denganmu.