JawaPos.com - Setiap orang tentu memiliki kebutuhan, perasaan, dan sudut pandang masing-masing. Namun, ada sebagian orang yang cenderung melihat hampir setiap situasi dari kepentingan dirinya sendiri.
Mereka sulit memahami perspektif orang lain, kurang peka terhadap kebutuhan sekitar, dan sering mengharapkan perhatian lebih.
Psikiater Kathleen Daly menggambarkan sikap mementingkan diri sendiri sebagai kesulitan untuk melihat sesuatu di luar kepentingan pribadi, yang dapat berkaitan dengan rendahnya empati dan perhatian berlebihan terhadap kebutuhan diri sendiri.
Sifat tersebut tidak selalu terlihat melalui tindakan yang terang-terangan. Dalam percakapan sehari-hari, kecenderungan ini terkadang muncul lewat ungkapan tertentu.
Cara seseorang berbicara ketika menghadapi masalah, konflik, atau situasi sosial dapat memberikan gambaran tentang bagaimana ia memandang dirinya dalam hubungannya dengan orang lain.
Dilansir dari YourTango, berikut beberapa kalimat yang kerap muncul dari orang yang merasa berbagai situasi selalu berpusat pada dirinya.
1. "Lalu, aku harus bagaimana?"
Ketika menghadapi masalah, orang yang terlalu berfokus pada dirinya sendiri cenderung segera mencari perhatian dan dukungan dari orang lain.
Bahkan ketika persoalan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya berkaitan dengan orang di sekitarnya, mereka dapat berharap semua orang berhenti sejenak untuk membantu menyelesaikan masalah mereka.
Kalimat seperti, "Lalu, aku harus bagaimana?" dapat menjadi salah satu contohnya. Alih-alih melihat situasi secara lebih luas, perhatian percakapan justru diarahkan kembali kepada dirinya.
Dalam kondisi tertentu, kebutuhan besar akan perhatian juga dapat berkaitan dengan perasaan terisolasi atau kesepian.
Sebuah studi pada 2024 menunjukkan bahwa sebagian orang menggunakan media sosial sebagai cara menghadapi ketidaknyamanan emosional dan keterasingan yang mereka rasakan.
2. "Kamu melakukan ini memang untuk menyakitiku."
Tidak semua tindakan orang lain ditujukan untuk menyakiti seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja membuat keputusan yang mengecewakan orang lain tanpa memiliki niat buruk.
Namun, orang yang cenderung melihat segala sesuatu secara personal mungkin kesulitan menerima kenyataan tersebut.
Ketika merasa tersinggung atau kecewa, mereka bisa langsung berasumsi bahwa tindakan orang lain memang ditujukan kepada mereka.
Kalimat seperti, "Kamu melakukan ini untuk menyakitiku," menunjukkan kecenderungan menempatkan diri sebagai pusat dari suatu kejadian.
Alih-alih mencari penjelasan, mereka langsung menghubungkan tindakan orang lain dengan dirinya.
3. "Aku sudah tahu ini pasti terjadi padaku."
Kalimat tersebut sering muncul ketika seseorang mengalihkan perhatian dari persoalan utama kepada pengalaman pribadinya.
Misalnya, seorang teman terpaksa membatalkan rencana karena harus menghadapi keadaan darurat keluarga.
Orang yang terlalu berpusat pada dirinya mungkin justru mengatakan, "Aku sudah tahu ini pasti terjadi padaku," tanpa terlebih dahulu memahami kondisi temannya.
Psikolog Irene S. Levine, PhD, menjelaskan bahwa sebagian orang memang mengalami kesulitan melihat sesuatu dari sudut pandang di luar dirinya sendiri.
Dalam hubungan yang berlangsung lama, pola seperti ini dapat melelahkan jika empati hanya berjalan satu arah. Salah satu pihak terus berusaha memahami, sementara pihak lainnya selalu mengharapkan untuk dipahami.
4. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Pertanyaan seperti, "Kenapa kamu merahasiakannya dariku?" atau "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" bisa menunjukkan bahwa seseorang terlalu memusatkan perhatian pada posisinya sendiri.
Dalam situasi tertentu, orang lain mungkin memiliki alasan pribadi untuk tidak menceritakan sesuatu. Namun, orang yang terbiasa menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian bisa langsung merasa tersingkir ketika tidak dilibatkan.
Menurut psikolog Sara Konrath, rendahnya empati dapat dipengaruhi berbagai pengalaman, mulai dari pengalaman masa kecil hingga hubungan interpersonal yang tidak sehat.
Pada sebagian orang, perilaku tersebut juga dapat berkaitan dengan rasa tidak aman yang mereka miliki.
5. "Itu mengingatkanku pada saat aku..."
Percakapan seharusnya menjadi ruang untuk saling mendengarkan. Akan tetapi, orang yang terlalu berfokus pada dirinya sendiri terkadang sulit mempertahankan perhatian ketika orang lain sedang bercerita.
Ketika mendengar pengalaman seseorang, mereka mungkin langsung berkata, "Itu mengingatkanku pada saat aku..." lalu mengarahkan percakapan kepada pengalaman pribadi.
Berbagi pengalaman sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Masalah muncul ketika kebiasaan tersebut terus dilakukan sehingga cerita orang lain tidak pernah benar-benar mendapat ruang.
Orang dengan pola seperti ini bisa terlihat seperti sedang menunggu kesempatan untuk berbicara daripada benar-benar mendengarkan. Akibatnya, orang di sekitarnya dapat merasa tidak didengar atau kurang dihargai.
6. "Terima kasih atas undangannya."
Kalimat ini sebenarnya dapat menjadi ungkapan yang sopan. Namun, ketika disampaikan dengan nada menyindir karena tidak diundang ke sebuah acara, maknanya dapat berubah.
Seseorang mungkin berkata, "Terima kasih atas undangannya," atau, "Kenapa aku tidak diundang?" dengan tujuan membuat orang lain merasa bersalah.
Orang yang terbiasa berpikir bahwa dirinya harus selalu dilibatkan dapat menganggap ketidakhadiran dalam suatu acara sebagai bentuk penolakan pribadi. Padahal, tidak semua pertemuan sosial harus melibatkan setiap orang.
Jika pola tersebut terus terjadi, hubungan dengan orang lain justru dapat menjadi renggang karena muncul tuntutan untuk selalu dilibatkan.
7. "Jelas, aku tidak sepenting itu bagimu."
Ungkapan seperti ini sering digunakan ketika seseorang merasa diabaikan atau tidak mendapatkan perhatian yang diharapkannya.
Psikolog Pamela B. Rutledge menjelaskan bahwa perilaku mencari perhatian, termasuk melalui media sosial, tidak selalu dilakukan dengan niat buruk.
Dalam sejumlah kasus, seseorang mungkin hanya sedang berusaha mendapatkan dukungan, perhatian, atau rasa iba.
Namun, kalimat seperti, "Jelas, aku tidak sepenting itu bagimu," dapat membuat persoalan menjadi lebih berat apabila digunakan untuk menimbulkan rasa bersalah.
Alih-alih menjelaskan perasaan secara terbuka, seseorang justru membuat orang lain merasa bertanggung jawab atas emosinya. Hal ini dapat membuat komunikasi menjadi kurang sehat.
8. "Kamu marah padaku?"
Orang yang terlalu sensitif terhadap perubahan sikap orang lain terkadang cepat menghubungkan suasana hati seseorang dengan dirinya sendiri.
Ketika melihat teman atau pasangan sedang diam, lelah, atau memiliki suasana hati yang buruk, mereka mungkin langsung bertanya, "Kamu marah padaku?"
Pertanyaan tersebut tentu tidak selalu berarti seseorang bersikap egois. Bisa saja itu merupakan bentuk kekhawatiran yang wajar.
Namun, jika hampir setiap perubahan emosi orang lain selalu dianggap berkaitan dengan dirinya, pola tersebut dapat membuat hubungan menjadi melelahkan.
Pada sebagian orang, perilaku semacam ini juga dapat berkaitan dengan rasa takut ditolak atau ditinggalkan, yang sering dibahas dalam konteks keterikatan cemas.
9. "Wah, aku tidak menyangka kamu seperti ini."
Alih-alih mengungkapkan kekecewaan secara langsung, seseorang terkadang menggunakan kalimat bernada menyindir untuk membuat orang lain merasa bersalah.
"Wah, aku tidak menyangka kamu seperti ini," merupakan salah satu contohnya.
Kalimat tersebut dapat menjadi bentuk komunikasi tidak langsung. Orang yang mengucapkannya mungkin sebenarnya ingin menyampaikan kebutuhan atau kekecewaan, tetapi memilih membuat lawan bicara merasa bersalah.
Dalam hubungan yang sehat, perasaan tidak nyaman sebaiknya disampaikan secara terbuka dan spesifik.
Dengan begitu, kedua pihak memiliki kesempatan untuk memahami masalah tanpa harus saling menebak atau menggunakan sindiran.