← Beranda
6 Alasan Mengapa Perempuan Lebih Menyukai Hidup Melajang Dibandingkan Pria Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 29 September 2026 | 21.43 WIB
seseorang yang menyukai hidup melajang./Magnific/yanalya

JawaPos.com - Dulu, hidup melajang sering dipandang sebagai sesuatu yang sementara. Seseorang dianggap belum menikah karena belum menemukan pasangan yang tepat, belum mapan, atau masih menunggu waktu yang dianggap ideal.

Namun, pandangan tersebut perlahan berubah.

Bagi sebagian perempuan, hidup melajang bukan lagi sekadar "menunggu seseorang datang". Melajang dapat menjadi pilihan hidup yang memberikan ruang untuk berkembang, mengejar tujuan pribadi, menjaga ketenangan emosional, dan menentukan sendiri bagaimana kehidupan ingin dijalani.

Fenomena ini juga menarik perhatian psikologi. Mengapa sebagian perempuan tampaknya lebih nyaman menjalani kehidupan tanpa pasangan dibandingkan sebagian pria? Apakah perempuan memang lebih mampu menikmati kesendirian? Ataukah ada faktor sosial dan psikologis yang membuat pengalaman melajang antara perempuan dan pria berbeda?

Pertanyaan tersebut tidak memiliki satu jawaban sederhana.

Tidak semua perempuan ingin melajang, sebagaimana tidak semua pria merasa membutuhkan pasangan. Preferensi terhadap hubungan romantis dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman masa lalu, usia, kondisi ekonomi, lingkungan sosial, nilai pribadi, dan budaya.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (24/9), ada beberapa penjelasan psikologis yang dapat membantu memahami mengapa sebagian perempuan dapat merasa lebih nyaman dengan kehidupan lajang dibandingkan sebagian pria.

1. Perempuan Lebih Banyak Mendapatkan Dukungan Emosional dari Lingkaran Sosial

Salah satu faktor penting adalah cara seseorang membangun hubungan sosial di luar hubungan romantis.

Dalam banyak budaya, perempuan cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih beragam. Mereka dapat memiliki teman dekat, saudara, keluarga, komunitas, atau kelompok sosial yang menjadi tempat berbagi cerita dan mendapatkan dukungan emosional.

Artinya, ketika seorang perempuan tidak memiliki pasangan, kebutuhan untuk merasa didengar, dipahami, dan ditemani tidak selalu harus dipenuhi melalui hubungan romantis.

Seorang perempuan yang memiliki sahabat dekat, misalnya, mungkin tetap mempunyai tempat untuk membicarakan masalah pekerjaan, konflik keluarga, kecemasan, maupun pengalaman sehari-hari.

Sebaliknya, sebagian pria dibesarkan dengan norma sosial yang membuat mereka kurang terbiasa membicarakan persoalan emosional secara mendalam dengan teman sesama pria.

Dalam situasi tertentu, pasangan romantis akhirnya menjadi salah satu sumber utama dukungan emosional bagi pria tersebut.

Ketika hubungan berakhir, kehilangan pasangan bukan hanya berarti kehilangan hubungan romantis. Ia juga dapat berarti kehilangan orang utama untuk berbicara, berbagi aktivitas, mendapatkan perhatian, atau mencari dukungan.

Karena itu, pengalaman melajang dapat terasa berbeda.

Perempuan yang mempunyai jaringan sosial yang kuat mungkin tetap memiliki sumber kedekatan emosional meskipun tidak sedang menjalin hubungan.

Namun, hal ini bukan berarti perempuan secara otomatis lebih kuat secara emosional atau pria tidak memiliki teman dekat. Ini merupakan kecenderungan sosial yang sangat dipengaruhi oleh budaya dan pola pengasuhan.

2. Kehidupan Melajang Dapat Memberikan Rasa Kebebasan yang Lebih Besar

Dalam psikologi, manusia mempunyai kebutuhan terhadap otonomi—yaitu perasaan bahwa dirinya memiliki kendali terhadap keputusan dan arah hidupnya.

Hubungan romantis yang sehat tentu dapat memberikan kebebasan dan dukungan.

Tetapi hubungan yang tidak sehat dapat membuat seseorang merasa harus terus menyesuaikan diri.

Bagi sebagian perempuan, hidup melajang memberikan kesempatan untuk mengambil keputusan tanpa harus mempertimbangkan kebutuhan pasangan.

Misalnya:

memilih tempat tinggal;
menentukan jadwal sehari-hari;
mengelola uang sendiri;
mengejar pendidikan;
membangun karier;
bepergian;
mengembangkan hobi;
menentukan lingkungan pertemanan;
atau sekadar menikmati waktu sendirian.

Kebebasan tersebut dapat menghasilkan rasa puas yang cukup besar.

Seorang perempuan yang telah membangun kehidupan yang nyaman mungkin tidak melihat pasangan sebagai sesuatu yang "harus ada" agar kehidupannya terasa lengkap.

Justru sebaliknya, ia mungkin memiliki standar tertentu mengenai hubungan yang ingin dijalani.

Jika hubungan tersebut tidak memberikan rasa aman, penghargaan, dan kebahagiaan yang sebanding dengan kebebasan yang harus dikorbankan, ia mungkin memilih tetap melajang.

Ini bukan berarti ia anti terhadap hubungan.

Ia hanya tidak menganggap bahwa memiliki pasangan selalu lebih baik daripada tidak memiliki pasangan.

3. Pengalaman Hubungan Masa Lalu Dapat Membentuk Preferensi untuk Melajang

Pengalaman romantis sebelumnya memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang hubungan.

Seseorang yang pernah mengalami hubungan penuh konflik, manipulasi, perselingkuhan, kontrol berlebihan, atau ketidakstabilan emosional dapat menjadi lebih berhati-hati ketika mempertimbangkan hubungan baru.

Bagi sebagian perempuan, pengalaman tersebut dapat menghasilkan perubahan perspektif.

Sebelumnya mungkin mereka berpikir:

"Saya harus mempunyai pasangan."

Setelah mengalami hubungan yang buruk, perspektifnya dapat berubah menjadi:

"Saya lebih memilih sendiri daripada berada dalam hubungan yang membuat hidup saya tidak tenang."

Ini merupakan bentuk evaluasi ulang terhadap kebutuhan pribadi.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas hubungan sangat penting dalam menentukan kesejahteraan seseorang. Hubungan yang memberikan rasa aman, dukungan, dan penghargaan dapat menjadi sumber kebahagiaan.

Sebaliknya, hubungan yang penuh konflik kronis dapat menjadi sumber stres.

Karena itu, seseorang yang pernah mengalami hubungan buruk mungkin tidak lagi mengejar status "punya pasangan" semata.

Ia mungkin lebih fokus pada kualitas hubungan.

Jika kualitas yang diharapkan tidak ditemukan, hidup sendiri menjadi alternatif yang masuk akal.

4. Kemandirian Ekonomi Mengurangi Tekanan untuk Harus Menikah

Faktor ekonomi juga tidak dapat dipisahkan dari psikologi hubungan.

Ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, ketergantungan terhadap pasangan dapat berkurang.

Bagi perempuan, perubahan sosial dan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir telah membuka lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pendidikan, bekerja, membangun karier, memiliki penghasilan sendiri, dan mengatur kehidupan secara mandiri.

Kemandirian tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang pernikahan.

Jika pada masa lalu pernikahan mungkin dianggap sebagai salah satu jalur utama menuju keamanan ekonomi, perempuan yang mampu memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri mempunyai lebih banyak pilihan.

Ia dapat mempertimbangkan pernikahan berdasarkan faktor seperti:

kecocokan;
kedekatan emosional;
nilai hidup;
rasa aman;
komunikasi;
kesetaraan;
dan kualitas hubungan.

Dengan kata lain, pernikahan tidak lagi harus menjadi solusi terhadap ketidakamanan hidup.

Hal tersebut dapat meningkatkan standar seseorang dalam memilih pasangan.

Bukan karena perempuan menjadi "terlalu mandiri", tetapi karena pilihan yang tersedia menjadi lebih banyak.

Seseorang yang dapat hidup dengan baik tanpa pasangan memiliki posisi yang berbeda ketika mengevaluasi sebuah hubungan.

Ia dapat bertanya:

"Apakah hubungan ini membuat kehidupan saya lebih baik?"

bukan hanya:

"Bagaimana saya bisa mendapatkan pasangan?"

Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting.

5. Perempuan Dapat Menilai Risiko Hubungan dengan Cara yang Berbeda

Hubungan romantis bukan hanya memberikan manfaat emosional. Hubungan juga membawa tanggung jawab dan risiko.

Dalam konteks tertentu, perempuan dapat menghadapi konsekuensi sosial dan biologis yang berbeda dari pria ketika menjalin hubungan jangka panjang, terutama terkait kehamilan, pengasuhan anak, pekerjaan domestik, dan tuntutan sosial terhadap peran perempuan.

Kesadaran terhadap konsekuensi tersebut dapat membuat sebagian perempuan lebih berhati-hati dalam memilih pasangan.

Misalnya, seorang perempuan mungkin tidak hanya mempertimbangkan apakah seorang pria menarik atau menyenangkan.

Ia juga dapat mempertimbangkan:

Apakah dia bertanggung jawab?
Bagaimana cara dia menyelesaikan konflik?
Apakah dia menghargai batasan?
Bagaimana pandangannya terhadap pekerjaan rumah tangga?
Bagaimana sikapnya terhadap karier pasangan?
Apakah dia mampu mengelola keuangan?
Apakah dia dapat menjadi pasangan yang suportif?

Semakin banyak faktor yang dipertimbangkan, semakin selektif proses memilih pasangan.

Dan selektivitas tersebut dapat membuat seseorang lebih bersedia menunggu atau tetap melajang daripada memasuki hubungan yang dianggap berisiko.

Penting untuk ditekankan bahwa ini bukan berarti semua pria kurang bertanggung jawab atau semua perempuan lebih selektif.

Perbedaan individu jauh lebih besar daripada stereotip gender.

Namun, pengalaman sosial yang berbeda dapat memengaruhi cara seseorang menghitung "biaya dan manfaat" dari sebuah hubungan.

6. Standar Kebahagiaan Pribadi Semakin Tidak Bergantung pada Status Hubungan

Alasan terakhir berkaitan dengan perubahan cara orang mendefinisikan kehidupan yang bahagia.

Selama bertahun-tahun, masyarakat sering mengaitkan kedewasaan dengan menikah.

Seseorang dianggap berhasil ketika memiliki pasangan, rumah, dan keluarga.

Tetapi semakin banyak orang melihat kebahagiaan sebagai sesuatu yang lebih luas.

Bagi sebagian perempuan, kehidupan yang memuaskan dapat terdiri dari:

karier + keluarga + persahabatan + hobi + kesehatan + kebebasan + pertumbuhan pribadi.

Pasangan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan tersebut, bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.

Perspektif seperti ini dapat membuat seseorang tidak merasa terburu-buru untuk mencari pasangan.

Ia dapat menikmati hidupnya sekarang sambil tetap terbuka terhadap kemungkinan hubungan di masa depan.

Ini berbeda dengan sikap menutup diri terhadap cinta.

Seseorang dapat mengatakan:

"Saya tidak membutuhkan pasangan untuk merasa berharga, tetapi saya tetap terbuka jika suatu hari bertemu orang yang tepat."

Pola pikir seperti itu memungkinkan seseorang menikmati masa lajang tanpa merasa kehidupannya sedang "menunggu".

Jadi, Apakah Perempuan Memang Lebih Suka Melajang daripada Pria?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati.

Tidak tepat mengatakan bahwa perempuan secara biologis atau psikologis pasti lebih menyukai hidup melajang daripada pria.

Preferensi untuk melajang sangat beragam.

Ada perempuan yang merasa sangat bahagia dalam pernikahan. Ada perempuan yang ingin segera mempunyai pasangan. Ada pula perempuan yang memilih hidup sendiri dalam jangka panjang.

Hal yang sama berlaku bagi pria.

Namun, beberapa kondisi dapat membuat pengalaman melajang berbeda antara perempuan dan pria.

Perempuan yang memiliki jaringan sosial kuat, kemandirian ekonomi, pengalaman hubungan yang membentuk kehati-hatian, serta kehidupan pribadi yang sudah memuaskan mungkin tidak merasa bahwa pasangan adalah kebutuhan utama.

Dalam kondisi tersebut, melajang bukan tanda bahwa seseorang gagal menemukan cinta.

Melajang dapat menjadi pilihan sadar untuk mempertahankan kualitas hidup yang sudah dimiliki.

Melajang Bukan Berarti Kesepian

Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami kehidupan lajang adalah menyamakan "sendiri" dengan "kesepian".

Keduanya berbeda.

Sendiri adalah kondisi objektif ketika seseorang tidak sedang bersama orang lain atau tidak memiliki pasangan.

Kesepian adalah pengalaman subjektif ketika seseorang merasa tidak memiliki kedekatan atau koneksi sosial yang diinginkan.

Seseorang dapat hidup sendiri tetapi merasa sangat bahagia.

Sebaliknya, seseorang dapat menikah tetapi tetap merasa sangat kesepian.

Karena itu, status hubungan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesejahteraan psikologis.

Yang lebih penting adalah kualitas hubungan sosial, rasa memiliki, dukungan emosional, kepuasan hidup, dan kesesuaian antara kehidupan yang dijalani dengan nilai pribadi seseorang.

Ketika Melajang Menjadi Pilihan, Bukan Keterpaksaan

Ada perbedaan penting antara melajang karena pilihan dan melajang karena merasa tidak mempunyai pilihan.

Orang pertama mungkin berkata:

"Saya menikmati kehidupan saya sekarang. Jika bertemu pasangan yang cocok, saya terbuka. Kalau tidak, saya tetap baik-baik saja."

Orang kedua mungkin sebenarnya ingin mempunyai hubungan tetapi mengalami kesulitan menemukan pasangan, mengalami trauma, atau merasa ditolak.

Secara psikologis, pengalaman keduanya tentu berbeda.

Karena itu, kita tidak seharusnya langsung menganggap seseorang yang lama melajang sebagai orang yang "tak laku", "terlalu pemilih", atau "takut berkomitmen".

Ada kemungkinan ia memang sedang menikmati kehidupannya.

Sebaliknya, kita juga tidak seharusnya menganggap semua orang yang memilih melajang benar-benar bahagia dengan kondisi tersebut.

Manusia mempunyai kebutuhan dan pengalaman yang berbeda.

Kesimpulan

Kecenderungan sebagian perempuan untuk merasa nyaman dengan kehidupan melajang dapat dipahami melalui berbagai faktor psikologis dan sosial.

Enam faktor yang dapat berperan adalah:

Memiliki jaringan dukungan emosional di luar hubungan romantis.
Mendapatkan rasa kebebasan dan otonomi dari kehidupan mandiri.
Pengalaman hubungan masa lalu yang membentuk preferensi dan kehati-hatian.
Meningkatnya kemandirian ekonomi.
Pertimbangan terhadap risiko dan konsekuensi hubungan.
Kebahagiaan yang semakin tidak bergantung pada status memiliki pasangan.

Namun, semua faktor tersebut harus dipahami sebagai kemungkinan yang dapat memengaruhi individu, bukan sebagai aturan universal tentang perempuan dan pria.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah:

"Mengapa perempuan memilih melajang?"

Melainkan:

"Kehidupan seperti apa yang membuat seseorang merasa aman, bebas, terhubung, dan bahagia?"

Bagi sebagian orang, jawabannya adalah pernikahan.

Bagi sebagian lainnya, jawabannya adalah hubungan tanpa pernikahan.

Dan bagi sebagian yang lain, jawabannya adalah kehidupan melajang yang penuh dengan persahabatan, keluarga, pekerjaan, hobi, serta tujuan pribadi.

Yang menentukan kualitas kehidupan bukan semata-mata apakah seseorang memiliki pasangan, tetapi apakah kehidupan yang dijalaninya sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan tujuan pribadinya.

EDITOR: Hanny Suwindari