← Beranda
9 Ucapan Trauma Masa Kecil yang Terbawa dari Orang Tua Kritis hingga Dewasa Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Minggu, 27 September 2026 | 20.18 WIB
Ucapan trauma masa kecil yang terbawa dari orang tua kritis hingga dewasa menurut psikologi / foto : Magnific/ karlyukav

JawaPos.com - Trauma masa kecil akibat orang tua kritis sering muncul lewat ucapan tertentu dalam hubungan romantis di masa dewasa.

Tumbuh bersama orang tua yang terlalu kritis dapat membentuk cara seseorang berkomunikasi dalam hubungan romantisnya kelak menurut psikologi.

Ketika orang tua tidak menciptakan ruang aman untuk memproses emosi, dampaknya dapat terbawa hingga usia dewasa.

Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (27/9), berikut sembilan ucapan trauma masa kecil yang biasa muncul dari orang yang dibesarkan oleh orang tua kritis dalam hubungan dewasanya.

Baca Juga: 9 Ciri Khas Orang yang Tumbuh sebagai Anak Tunggal Menurut Psikologi

1. Menanyakan apakah pasangan sedang marah

Terus-menerus memastikan keadaan dan meminta maaf berlebihan menjadi kebiasaan umum bagi orang dengan kelekatan cemas.

Kebiasaan ini berasal dari masa kecil ketika mereka harus menyembunyikan perasaan demi menghindari kritik orang tua.

Pertanyaan ini menjadi cara memeriksa apakah suasana hati pasangan berkaitan dengan kekecewaan terhadap dirinya.

2. Menyatakan segala sesuatu adalah kesalahannya

Mengambil kesalahan menjadi satu-satunya cara yang dipelajari untuk menghindari hukuman semasa kecil dahulu.

Mereka belajar bahwa perasaannya sendiri kurang penting dibanding menjaga suasana tetap tenang di rumah.

Kebiasaan mengambil kesalahan ini justru menyulitkan komunikasi terbuka dalam hubungan asmara yang dijalani.

3. Menganggap dirinya pasangan yang buruk

Keraguan dan kritik terhadap diri sendiri tetap melekat meski mereka telah menjalani kehidupan mandiri.

Mereka terbiasa meyakini bahwa emosi dan kesalahan yang dilakukan merupakan bentuk kegagalan diri sendiri.

Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi kelekatan cemas yang membutuhkan validasi terus-menerus dari pasangan.

4. Menyatakan sesuatu tidak berjalan sesuai rencana

Untuk mengatasi rasa takut ditolak, sebagian dari mereka tumbuh menjadi perfeksionis yang berusaha mengendalikan segalanya.

Mereka mencoba merencanakan segala hal demi merasa aman, meski justru menambah tekanan pada hubungan.

Ketika situasi tidak sesuai rencana, mereka sering menutup diri karena kesulitan menghadapi ketidakpastian tersebut.

5. Berjanji akan menjadi lebih baik

Kritik dalam bentuk apa pun terasa sangat menakutkan, terutama ketika muncul dalam hubungan asmara.

Saat konflik muncul, mereka kembali ke pola masa kecil dengan memohon maaf secara berlebihan.

Sebagian bersikap defensif, sementara yang lain berusaha keras menebus kesalahan yang bahkan bukan tanggung jawabnya.

6. Menegaskan dirinya tidak sedang marah

Ketika pasangan menyadari emosi yang sedang dirasakan, mereka cenderung tidak nyaman membuka diri sepenuhnya.

Mereka menyembunyikan perasaan sesungguhnya karena takut dihakimi atau ditolak akibat emosi yang ditunjukkan.

Kebiasaan menyembunyikan perasaan ini justru menciptakan jarak dengan pasangan meski terlihat baik-baik saja.

7. Menyatakan enggan membahas suatu hal

Orang tua yang kritis dan mengendalikan menghambat kemampuan anak mengelola emosinya sejak usia dini.

Sebagian tumbuh menjadi pribadi yang mudah kewalahan menghadapi konflik karena terbiasa menekan perasaannya.

Sebagian lainnya menjadi lebih terkontrol dan menghindari perdebatan demi menjaga rasa aman yang keliru.

8. Menanyakan apakah dirinya melakukan kesalahan

Kesalahan kecil yang berujung hukuman besar membuat mereka menjadi lebih waspada dalam kehidupan dewasa.

Mereka terus meminta maaf dan mempertanyakan diri karena selalu bersiap menghadapi kemarahan atau kesalahan.

Kelekatan cemas ini membuat mereka membutuhkan persetujuan orang lain demi merasa aman secara emosional.

9. Merasa telah mengucapkan sesuatu yang salah

Meragukan ucapan sendiri dapat terjadi berulang kali meski tidak ada tanda kesalahan yang jelas.

Pemicunya bisa berupa tatapan tidak pasti dari pasangan atau perasaan sedang dinilai oleh orang lain.

Harga diri mereka sangat dipengaruhi reaksi orang lain, menciptakan siklus keraguan dan kecemasan berkelanjutan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho