← Beranda
Dompet Sulit Tebal? 8 Kebiasaan Buruk Ini Bisa Jadi Penyebab Keuangan Tak Kunjung Maju
Mohammad Maulana Iqbal• Sabtu, 26 September 2026 | 06.31 WIB
Kebiasaan buruk jadikan hidup pas-pasan di kelas menengah bawah kata psikologi finansial.

JawaPos.com - Kondisi finansial seseorang tidak selalu ditentukan oleh besarnya pendapatan. Cara berpikir dan kebiasaan dalam menggunakan uang juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam membangun kondisi ekonomi yang lebih stabil.

Tanpa disadari, sejumlah kebiasaan sehari-hari justru dapat menghambat perkembangan finansial. Mulai dari enggan membuat anggaran hingga menggunakan kartu kredit secara berlebihan, semuanya dapat menjadi masalah apabila dilakukan terus-menerus.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat delapan kebiasaan yang dalam pembahasan psikologi finansial disebut dapat membuat seseorang kesulitan meningkatkan kondisi ekonominya.

Baca Juga: Tanpa Disadari, 10 Kebiasaan Minta Maaf Ini Bisa Mengikis Harga Diri

1. Terlalu Nyaman dengan Kondisi Sekarang

Kenyamanan memang penting, tetapi bisa menjadi penghambat ketika seseorang berhenti berusaha mengembangkan kemampuan. Rutinitas yang stabil terkadang membuat seseorang enggan mencoba peluang baru.

Misalnya, tidak meningkatkan keterampilan, menolak pekerjaan sampingan, atau menghindari pelatihan yang sebenarnya dapat membuka kesempatan lebih besar. Dalam jangka panjang, terlalu nyaman mempertahankan keadaan saat ini bisa membuat perkembangan pendapatan berjalan lambat.

2. Tidak Memiliki Anggaran Keuangan

Sebagian orang menganggap membuat anggaran sebagai bentuk pembatasan terhadap diri sendiri. Padahal, anggaran justru membantu seseorang mengetahui ke mana saja pendapatannya digunakan.

Tanpa pencatatan yang jelas, pengeluaran kecil dapat menumpuk tanpa terasa. Dengan membuat rencana keuangan, seseorang dapat membedakan kebutuhan, keinginan, tabungan, serta kewajiban secara lebih teratur.

3. Berbelanja untuk Meredakan Stres

Belanja terkadang dijadikan cara untuk memperbaiki suasana hati setelah menjalani hari yang melelahkan. Membeli sesuatu sesekali tentu tidak otomatis menjadi masalah.

Namun, apabila belanja terus digunakan sebagai pelarian ketika sedang sedih, stres, atau kecewa, kebiasaan tersebut dapat mengganggu kondisi keuangan. Sebelum membeli sesuatu karena emosi, cobalah bertanya apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya memberikan kesenangan sementara.

4. Selalu Mengiyakan Ajakan Sosial

Acara makan bersama, perayaan ulang tahun, liburan singkat, hingga kegiatan bersama teman bisa menjadi sumber pengeluaran yang cukup besar apabila terlalu sering diikuti.

Menjaga hubungan sosial memang penting, tetapi tidak berarti setiap ajakan harus diterima. Memilih kegiatan yang benar-benar penting dan sesuai kemampuan finansial dapat membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial dan kondisi rekening.

5. Hanya Mengandalkan Penghasilan Aktif

Banyak orang mendapatkan seluruh pendapatannya dengan menukar waktu dan tenaga untuk bekerja. Model tersebut tentu merupakan sumber penghasilan utama bagi banyak orang, tetapi ketergantungan sepenuhnya pada pendapatan aktif memiliki keterbatasan.

Karena itu, sebagian orang mulai membangun sumber penghasilan tambahan, misalnya melalui karya digital, royalti, investasi, atau aset yang dapat menghasilkan pendapatan. Pilihannya tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan, risiko, dan kondisi masing-masing.

6. Menganggap Pengeluaran Kecil Tidak Berarti

Kalimat seperti "cuma sedikit" sering membuat seseorang mengabaikan pengeluaran kecil. Padahal, nominal yang tampak ringan jika dilakukan berulang kali dapat berubah menjadi jumlah yang cukup besar dalam sebulan.

Kopi harian, makanan ringan, biaya layanan, atau pembelian impulsif mungkin terlihat sepele secara individual. Namun, apabila dikumpulkan, seluruh pengeluaran tersebut dapat mengurangi jumlah uang yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk tabungan atau kebutuhan lain.

7. Menggunakan Kartu Kredit Secara Berlebihan

Kartu kredit dapat menjadi alat pembayaran yang bermanfaat jika digunakan secara terukur. Masalah muncul ketika limit kartu dianggap sebagai tambahan pendapatan.

Kemudahan melakukan pembayaran dengan kartu dapat membuat seseorang kurang menyadari jumlah pengeluaran sebenarnya. Jika transaksi terus dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar, saldo utang dapat meningkat dan membebani keuangan.

8. Terbiasa Membayar Tagihan Kartu Kredit dalam Jumlah Minimum

Membayar jumlah minimum memang dapat membuat tagihan terasa lebih ringan dalam jangka pendek. Namun, saldo yang belum dibayar dapat terus dikenai bunga sesuai ketentuan kartu kredit yang digunakan.

Akibatnya, pelunasan utang bisa berlangsung jauh lebih lama. Karena itu, penting memahami bunga, biaya, dan ketentuan kartu kredit serta mengupayakan pembayaran lebih besar ketika kondisi keuangan memungkinkan.

Pada akhirnya, membangun kondisi finansial yang lebih sehat bukan hanya mengenai mendapatkan penghasilan lebih besar. Mengendalikan pengeluaran, membuat perencanaan, memahami utang, dan mengevaluasi kebiasaan sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam mengelola keuangan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho