← Beranda
4 Alasan Psikologi Kerja dari Rumah Ternyata Lebih Membuat Stres Dibanding di Kantor
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 25 September 2026 | 20.35 WIB
Alasan psikologi kerja dari rumah ternyata lebih membuat stres dibanding di kantor / foto : Magnific/ magnific

JawaPos.com - Psikologi kerja dari rumah menunjukkan bahwa kondisi ini ternyata dapat memicu stres lebih besar dibanding bekerja di kantor.

Banyak karyawan kantoran menganggap bekerja dari rumah pasti terasa lebih santai dan bebas dari tekanan.

Namun kenyataannya, pekerja jarak jauh kini menghadapi tingkat stres yang justru lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (25/9), berikut empat alasan psikologi kerja dari rumah yang membuat kondisi ini ternyata lebih membuat stres dibanding di kantor.

Baca Juga: Hubungan Terasa Berbeda? Psikologi Ungkap 6 Tanda Pasangan Mulai Tidak Bahagia

1. Sulit membangun kedekatan dengan rekan kerja

Komunikasi antar rekan kerja berjalan sangat berbeda ketika seseorang bekerja dari rumah dibanding di kantor.

Meski tetap ada rapat dan pesan yang harus dijawab, sebagian besar komunikasi tersebut hanya bersifat penting saja.

Bekerja di kantor memberi ruang untuk bercanda sekaligus tetap fokus menyelesaikan pekerjaan bersama rekan kerja.

Kesempatan mengenal rekan kerja secara personal menjadi jauh lebih sulit ketika seseorang bekerja secara jarak jauh.

Sebuah penelitian menemukan bahwa karyawan yang bekerja dari rumah cenderung jarang berkolaborasi dengan departemen lain.

Komunikasi yang terjadi juga lebih banyak lewat pesan tertulis dibanding percakapan langsung dengan rekan kerja.

Kondisi ini dapat menjadi kerugian besar bagi karyawan yang bekerja jauh dari lingkungan kantor.

2. Mengkhawatirkan peluang pengembangan karier

Karyawan yang bekerja dari rumah cenderung memiliki kejelasan lebih rendah terhadap peluang pengembangan kariernya sendiri.

Sebuah survei menemukan bahwa sebagian perusahaan lebih cenderung mempromosikan karyawan yang lebih sering hadir di kantor.

Situasi ini menjadi lebih rumit ketika sebagian karyawan bekerja dari rumah sementara lainnya tetap di kantor.

Beberapa metode pengembangan seperti pelatihan daring memang tidak membedakan karyawan yang bekerja jarak jauh maupun langsung.

Namun keputusan promosi yang ditentukan atasan sering kali menguntungkan karyawan yang bekerja langsung di kantor.

Kehadiran langsung memungkinkan karyawan membangun hubungan lebih kuat dengan atasan maupun pihak manajemen lainnya.

Karyawan yang bekerja dari rumah pun sering merasa khawatir dilupakan dan kehilangan peluang menaiki jenjang karier.

3. Terpaksa menghadapi kendala teknis sendirian

Karyawan yang bekerja di kantor biasanya memiliki tim teknologi informasi yang siap membantu kapan saja dibutuhkan.

Namun karyawan yang bekerja dari rumah sering tidak memiliki akses terhadap dukungan teknis semacam itu.

Kondisi ini membuat mereka harus menyelesaikan sendiri setiap kendala teknis yang muncul selama bekerja.

Situasi ini dapat terasa mengecewakan bagi karyawan yang kurang berpengalaman menghadapi masalah teknologi semacam ini.

Gangguan teknis seperti koneksi internet yang terputus dapat sangat mengganggu jalannya pekerjaan sehari-hari.

Karyawan yang bekerja dari rumah juga cenderung lebih banyak menggunakan teknologi dibanding rekan kerja di kantor.

Ketergantungan pada pesan digital untuk berkomunikasi dengan atasan semakin memperberat tekanan yang mereka rasakan.

4. Menanggung biaya kesehatan yang lebih besar

Bekerja dari rumah ternyata dapat membuat seseorang mengeluarkan biaya kesehatan yang lebih besar dari biasanya.

Kondisi ini bukan disebabkan oleh kebijakan asuransi khusus, melainkan dampak nyata dari cara kerja jarak jauh.

Tingkat ketidakpastian yang tinggi dikaitkan dengan risiko gangguan kecemasan yang lebih besar pada seseorang.

Gangguan kecemasan umum diketahui dapat menggandakan biaya perawatan kesehatan yang harus ditanggung seseorang.

Sebuah analisis menemukan bahwa karyawan jarak jauh memiliki tingkat depresi dan kecemasan lebih tinggi dibanding karyawan kantor.

Risiko kesehatan mental ini nyata terjadi dan dapat menimbulkan biaya kesehatan yang cukup besar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bekerja dari rumah memiliki konsekuensi finansial yang tidak selalu disadari banyak orang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho