← Beranda
Hati-Hati! Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain Bisa Memicu 8 Kebiasaan Buruk
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 25 September 2026 | 05.48 WIB
seseorang yang membandingkan hidupnya dengan orang lain secara online. (Freepik/freepik)

JawaPos.com – Media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Berbagai unggahan tentang kesuksesan, gaya hidup, hubungan, hingga perjalanan orang lain dapat dengan mudah terlihat hanya melalui layar ponsel.

Tanpa disadari, kebiasaan melihat kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat membuat seseorang mulai menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan rasa tidak puas, minder, cemas, hingga kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial umumnya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Foto liburan, pencapaian karier, hubungan harmonis, atau gaya hidup mewah belum tentu menggambarkan keseluruhan realitas yang mereka jalani.

Dilansir dari Geediting, terlalu sering melakukan perbandingan sosial di dunia maya dapat memunculkan sejumlah kebiasaan yang kurang baik. Berikut delapan di antaranya:

1. Sering Menganggap Remeh Pencapaian Sendiri

Ketika melihat orang lain memamerkan keberhasilan, seseorang bisa tanpa sadar menganggap apa yang telah dicapainya tidak seberapa. Prestasi yang sebenarnya patut diapresiasi justru terasa biasa karena terus dibandingkan dengan pencapaian orang lain.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat seseorang sulit menghargai proses dan keberhasilan kecil dalam hidupnya sendiri.

2. Bergantung pada Pengakuan Orang Lain

Perbandingan di media sosial juga dapat membuat seseorang mengukur harga dirinya berdasarkan respons dari orang lain. Jumlah likes, komentar, atau pujian kemudian dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan dan kebahagiaan.

Padahal, penilaian dari lingkungan bukan satu-satunya ukuran nilai diri. Terlalu bergantung pada validasi eksternal justru dapat membuat suasana hati mudah berubah mengikuti respons yang diterima.

3. Terus Merasa Ketinggalan

Melihat teman atau orang lain mencapai sesuatu lebih dahulu dapat memunculkan perasaan bahwa diri sendiri sedang tertinggal. Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah FOMO atau fear of missing out.

Seseorang bisa merasa harus segera mencapai hal yang sama, mulai dari karier, pernikahan, perjalanan, hingga pencapaian finansial. Padahal, setiap orang memiliki waktu dan perjalanan hidup yang berbeda.

4. Menetapkan Standar yang Terlalu Tinggi

Media sosial sering menampilkan sisi terbaik seseorang. Jika hal tersebut dijadikan patokan kehidupan, seseorang dapat menetapkan standar yang sulit dicapai.

Keinginan untuk selalu terlihat sempurna dapat berkembang menjadi perfeksionisme yang tidak realistis. Akibatnya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, rasa kecewa dan frustrasi semakin mudah muncul.

5. Melupakan Tujuan Hidup Sendiri

Terlalu fokus pada pencapaian orang lain dapat membuat seseorang lupa terhadap apa yang sebenarnya ingin dicapai. Ia mungkin mulai mengikuti tren atau mengejar sesuatu hanya karena melihat orang lain berhasil melakukannya.

Pada akhirnya, keputusan yang dibuat bukan lagi berdasarkan kebutuhan dan tujuan pribadi, melainkan karena tekanan dari lingkungan maupun apa yang terlihat di media sosial.

6. Mudah Merasa Iri

Perbandingan yang dilakukan berulang kali juga dapat memunculkan rasa iri. Melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses atau bahagia bisa membuat seseorang sulit menikmati keadaan dirinya sendiri.

Jika dibiarkan, rasa iri yang terus dipelihara dapat memengaruhi cara seseorang memandang orang lain dan membuat persaingan menjadi tidak sehat.

7. Membentuk Kehidupan Palsu di Media Sosial

Keinginan untuk terlihat setara dengan orang lain terkadang mendorong seseorang menciptakan citra tertentu di dunia maya. Mereka bisa saja menampilkan kehidupan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi sehari-hari.

Kesenjangan antara kehidupan nyata dan citra yang ditampilkan dapat menciptakan tekanan tersendiri. Semakin jauh perbedaannya, semakin besar pula usaha yang dibutuhkan untuk mempertahankan gambaran tersebut.

8. Mengabaikan Kesehatan Mental

Berbagai kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kondisi psikologis. Perasaan minder, stres, kecemasan, terlalu banyak berpikir, hingga gangguan tidur dapat muncul ketika seseorang terus-menerus merasa hidupnya tidak sebaik orang lain.

Karena itu, penting untuk menyadari bahwa media sosial bukan gambaran lengkap kehidupan seseorang. Membatasi paparan terhadap konten yang memicu perbandingan dan kembali fokus pada tujuan pribadi dapat membantu menciptakan pola penggunaan media sosial yang lebih sehat.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho