JawaPos.com - Hubungan yang sehat tidak selalu dibangun melalui hal-hal besar.
Bukan selalu tentang makan malam romantis, hadiah mahal, liburan bersama, atau kata-kata cinta yang panjang. Dalam kehidupan sehari-hari, justru hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali sering kali memiliki pengaruh jauh lebih besar terhadap kualitas hubungan.
Cara kamu menyambut pasangan ketika ia pulang. Cara kamu mendengarkan ketika ia bercerita. Cara kamu meminta maaf. Bahkan cara kamu memandang pasangan ketika sedang berbicara.
Semua itu mungkin terlihat kecil.
Namun, secara psikologis, hubungan dibentuk oleh ribuan interaksi kecil yang terjadi dari waktu ke waktu.
Karena itu, jika akhir-akhir ini hubunganmu terasa hambar, jauh, penuh salah paham, atau sekadar tidak sehangat dulu, kamu tidak selalu harus melakukan perubahan yang besar. Terkadang, perubahan bisa dimulai dari tujuh kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (24/9), terdapat beberapa hal sederhana yang bisa kamu mulai.
1. Biasakan memberikan perhatian penuh ketika pasangan berbicara
Kamu mungkin merasa sudah mendengarkan pasangan.
Tetapi mendengar dan benar-benar hadir untuk mendengarkan adalah dua hal yang berbeda.
Ada kalanya pasangan sedang bercerita, tetapi perhatianmu terbagi antara ponsel, televisi, pekerjaan, atau pikiranmu sendiri. Secara fisik kamu berada di sana, tetapi secara emosional kamu tidak benar-benar hadir.
Padahal, merasa didengarkan merupakan bagian penting dari rasa dekat dalam hubungan.
Ketika pasangan berbicara, cobalah berhenti sejenak dari aktivitas yang sedang kamu lakukan. Letakkan ponsel. Tatap wajahnya. Dengarkan sampai selesai sebelum buru-buru memberikan nasihat atau membela diri.
Dan yang tidak kalah penting, jangan selalu merasa bahwa setiap masalah harus segera kamu selesaikan.
Kadang-kadang seseorang bercerita bukan karena ingin mendapatkan solusi.
Ia hanya ingin merasa bahwa perasaannya dipahami.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."
Atau:
"Kalau aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan merasa berat."
Kalimat sederhana seperti itu bisa membuat pasangan merasa bahwa pengalaman emosionalnya tidak dianggap sepele.
Mendengarkan bukan berarti selalu setuju.
Mendengarkan berarti memberikan ruang kepada pasangan untuk merasa didengar.
Dan sering kali, kedekatan emosional dimulai dari sana.
2. Ucapkan terima kasih untuk hal-hal yang sering dianggap biasa
Dalam hubungan yang sudah berjalan lama, kita mudah terbiasa dengan kebaikan pasangan.
Ia membuatkan kopi.
Ia mengingatkanmu membawa payung.
Ia menjemputmu.
Ia memasak.
Ia membersihkan rumah.
Ia mengirim pesan untuk memastikan kamu sudah sampai.
Awalnya semua itu mungkin terasa istimewa.
Tetapi setelah dilakukan berulang kali, kita mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang memang seharusnya dilakukan.
Di sinilah masalah kecil sering dimulai.
Ketika usaha pasangan tidak lagi dihargai, hubungan perlahan bisa terasa seperti kewajiban daripada pilihan untuk saling merawat.
Karena itu, cobalah mengembalikan kebiasaan sederhana untuk mengapresiasi pasangan.
Tidak perlu menunggu sesuatu yang luar biasa.
Katakan:
"Terima kasih sudah melakukan itu."
"Aku menghargai kamu sudah meluangkan waktu untukku."
"Aku tahu kamu sedang capek, tapi kamu tetap membantu. Terima kasih."
Apresiasi yang spesifik biasanya terasa lebih bermakna daripada pujian yang terlalu umum.
Daripada hanya berkata, "Kamu baik," kamu bisa mengatakan:
"Aku suka caramu tetap mengingat hal kecil yang penting buatku."
Perbedaannya memang kecil.
Tetapi pesan emosionalnya jauh lebih jelas.
Pasangan merasa bahwa keberadaannya diperhatikan, bukan sekadar dimanfaatkan.
Dan ketika seseorang merasa dihargai dalam hubungan, ia cenderung memiliki lebih banyak alasan untuk terus memberikan perhatian dan kebaikan.
3. Jangan biarkan semua percakapan hanya berisi masalah
Coba perhatikan percakapanmu dengan pasangan selama beberapa hari terakhir.
Berapa banyak pembicaraan yang berisi tagihan, pekerjaan, anak, rumah, jadwal, kesalahan, dan masalah?
Dan berapa banyak yang benar-benar membicarakan kalian berdua?
Dalam hubungan jangka panjang, percakapan praktis memang tidak bisa dihindari.
Tetapi jika hampir semua komunikasi hanya digunakan untuk menyelesaikan urusan, hubungan bisa kehilangan sisi emosionalnya.
Karena itu, buatlah ruang untuk percakapan yang tidak memiliki tujuan praktis.
Tanyakan:
"Hari ini bagian paling menyenangkan dari harimu apa?"
"Ada sesuatu yang akhir-akhir ini sedang kamu pikirkan?"
"Kalau kita bisa pergi berdua akhir pekan ini, kamu ingin ke mana?"
Atau bahkan pertanyaan sederhana:
"Kamu benar-benar baik-baik saja akhir-akhir ini?"
Pertanyaan semacam ini membuka pintu untuk mengenal pasangan kembali.
Dan jangan menganggap bahwa karena kamu sudah lama bersama seseorang, berarti kamu sudah mengetahui semuanya tentang dirinya.
Manusia terus berubah.
Apa yang ia sukai bisa berubah. Impiannya bisa berkembang. Kekhawatirannya bisa berganti. Cara pandangnya terhadap kehidupan juga bisa berubah.
Hubungan yang sehat membutuhkan rasa ingin tahu yang terus hidup.
Jangan hanya bertanya, "Kita sudah bersama berapa lama?"
Tanyakan juga:
"Siapa kamu sekarang, dan apa yang sedang kamu rasakan?"
4. Belajar memperbaiki konflik, bukan sekadar memenangkan perdebatan
Dalam hubungan, konflik hampir tidak mungkin dihindari.
Dua orang bisa saling mencintai dan tetap memiliki pendapat yang berbeda.
Masalahnya bukan apakah kalian pernah bertengkar.
Masalah yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pertengkaran.
Ada pasangan yang setelah konflik memilih diam berhari-hari.
Ada yang mengungkit kesalahan masa lalu.
Ada yang menggunakan kata-kata yang menyakitkan.
Ada pula yang berusaha membuktikan bahwa dirinya benar sampai lupa bahwa orang yang sedang dihadapinya adalah pasangan, bukan lawan.
Jika kamu ingin memperbaiki hubungan, cobalah mengubah tujuan ketika terjadi konflik.
Tujuannya bukan selalu untuk membuktikan siapa yang benar.
Tujuannya adalah memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mencari cara agar masalah tersebut tidak terus berulang.
Daripada mengatakan:
"Kamu memang selalu seperti itu."
Cobalah:
"Ketika itu terjadi, aku merasa tidak dianggap. Aku ingin kita mencari cara supaya hal ini tidak terjadi lagi."
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menyerang identitas pasangan.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman dan kebutuhanmu.
Dalam komunikasi, cara menyampaikan keluhan dapat memengaruhi bagaimana pasangan merespons.
Kritik terhadap karakter sering membuat orang merasa harus mempertahankan diri.
Sementara pembicaraan mengenai perilaku dan dampaknya memberi lebih banyak ruang untuk berdiskusi.
Dan jika kamu melakukan kesalahan, belajar mengatakan:
"Aku salah."
Tidak perlu selalu diikuti dengan:
"Tapi kamu juga..."
Permintaan maaf yang tulus bukan kompetisi.
Kamu tidak harus menunggu pasangan mengakui kesalahannya terlebih dahulu untuk mengakui kesalahanmu sendiri.
5. Sentuh pasangan dengan lembut, bukan hanya ketika menginginkan sesuatu
Sentuhan fisik sering kali menjadi bagian penting dari hubungan romantis.
Namun, sentuhan tidak harus selalu berkaitan dengan seksualitas.
Memegang tangan ketika berjalan.
Memeluk sebelum berangkat kerja.
Menyentuh bahu ketika pasangan sedang bercerita.
Memeluk lebih lama ketika salah satu dari kalian sedang mengalami hari yang buruk.
Hal-hal kecil seperti ini dapat menjadi bentuk komunikasi nonverbal yang mengatakan:
"Aku di sini."
"Kamu tidak sendirian."
"Aku masih dekat denganmu."
Tentu saja, setiap orang memiliki kenyamanan dan kebutuhan sentuhan yang berbeda. Karena itu, sentuhan harus tetap memperhatikan batasan dan kenyamanan pasangan.
Yang penting bukan seberapa sering kamu menyentuh pasangan, tetapi apakah kamu masih memiliki kebiasaan menunjukkan kedekatan secara fisik dengan cara yang nyaman bagi kalian berdua.
Jangan sampai sentuhan hanya muncul ketika ada kebutuhan tertentu.
Kadang-kadang, sebuah pelukan tanpa alasan justru menjadi pesan yang sangat sederhana tetapi kuat:
"Aku mencintaimu, bahkan ketika tidak ada yang perlu aku minta darimu."
6. Luangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama
Rutinitas bisa membuat hubungan terasa seperti pekerjaan.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Makan.
Membersihkan rumah.
Mengurus berbagai kewajiban.
Tidur.
Lalu mengulang semuanya lagi.
Dalam keadaan seperti itu, pasangan bisa perlahan berubah dari seseorang yang membuatmu bersemangat menjadi seseorang yang hanya menjalani rutinitas bersamamu.
Karena itu, jangan hanya menjadi pasangan dalam menyelesaikan tanggung jawab.
Jadilah juga teman.
Tidak perlu membuat rencana yang mahal.
Bisa berjalan sore bersama.
Memasak makanan yang belum pernah kalian coba.
Menonton film sambil membuat camilan.
Pergi membeli makanan favorit.
Bermain permainan sederhana.
Atau duduk bersama tanpa membicarakan masalah.
Yang dicari bukan aktivitas yang spektakuler.
Yang penting adalah menciptakan pengalaman positif yang kalian alami bersama.
Hubungan membutuhkan kenangan baik, bukan hanya kemampuan bertahan menghadapi masalah.
Jika setiap interaksi hanya berhubungan dengan kewajiban dan konflik, hubungan akan terasa berat.
Sebaliknya, pengalaman menyenangkan yang sederhana dapat mengingatkan kalian bahwa selain menghadapi hidup bersama, kalian juga bisa menikmatinya bersama.
7. Biasakan melakukan "check-in" emosional
Ini mungkin salah satu kebiasaan kecil yang paling mudah dilakukan.
Luangkan beberapa menit secara rutin untuk bertanya kepada pasangan:
"Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?"
Bukan sekadar:
"Hari ini kerja bagaimana?"
Tetapi benar-benar ingin mengetahui keadaan emosionalnya.
Kamu bisa menggunakan pertanyaan sederhana seperti:
"Ada sesuatu yang sedang membuatmu kepikiran?"
"Ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membuat minggu ini lebih ringan buatmu?"
"Kamu merasa kita baik-baik saja akhir-akhir ini?"
Pertanyaan terakhir mungkin terasa sedikit menakutkan.
Tetapi justru percakapan seperti ini dapat membantu pasangan membicarakan masalah ketika masih kecil, sebelum berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Hubungan juga membutuhkan pemeliharaan.
Sama seperti tubuh yang membutuhkan perhatian sebelum sakit menjadi parah, hubungan membutuhkan komunikasi sebelum jarak emosional menjadi terlalu jauh.
Dan jangan hanya bertanya ketika kamu merasa ada masalah.
Tanyakan juga ketika hubungan sedang baik.
Karena tujuan check-in bukan mencari masalah.
Tujuannya adalah menjaga koneksi.
Perubahan Besar Sering Dimulai dari Hal yang Sangat Kecil
Ada satu kesalahan yang sering dilakukan ketika seseorang ingin memperbaiki hubungan.
Ia menunggu momen besar.
Menunggu liburan romantis.
Menunggu pasangan berubah.
Menunggu dirinya memiliki lebih banyak waktu.
Menunggu suasana menjadi lebih baik.
Padahal, hubungan tidak hanya dibentuk oleh momen besar.
Hubungan dibentuk oleh bagaimana dua orang memperlakukan satu sama lain pada hari Senin yang biasa.
Pada pagi ketika keduanya sedang lelah.
Pada malam ketika pekerjaan sedang banyak.
Pada saat salah satu sedang sensitif.
Pada saat terjadi perbedaan pendapat.
Pada saat tidak ada sesuatu yang istimewa untuk dirayakan.
Justru di situlah kualitas hubungan sering terlihat.
Jadi, jika kamu ingin membuat perubahan baik dalam hubunganmu, jangan langsung bertanya:
"Apa hal besar yang harus aku lakukan?"
Coba mulai dengan pertanyaan yang lebih sederhana:
"Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan hari ini agar pasangan merasa sedikit lebih dihargai, didengar, dan dicintai?"
Mungkin jawabannya adalah mendengarkan tanpa memainkan ponsel.
Mungkin mengucapkan terima kasih.
Mungkin memberikan pelukan.
Mungkin meminta maaf.
Mungkin mengajak berjalan sebentar.
Mungkin hanya bertanya dengan sungguh-sungguh:
"Kamu baik-baik saja?"
Hal-hal itu mungkin tidak langsung mengubah seluruh hubungan dalam satu malam.
Tetapi hubungan yang baik memang jarang dibangun dalam satu malam.
Ia dibangun sedikit demi sedikit.
Lewat perhatian kecil yang dilakukan berulang kali.
Lewat kata-kata yang lebih lembut.
Lewat kemauan untuk mendengarkan.
Lewat keberanian untuk memperbaiki kesalahan.
Dan lewat keputusan untuk tetap mengenal orang yang kamu cintai, bahkan setelah bertahun-tahun bersamanya.
Karena pada akhirnya, mencintai seseorang bukan hanya tentang memiliki perasaan yang besar kepadanya.
Mencintai juga berarti belajar memperlakukannya dengan baik, terutama dalam hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam foto, tidak pernah diposting di media sosial, dan tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang istimewa.
Padahal, justru hal-hal kecil itulah yang setiap hari mengatakan:
"Aku melihatmu."
"Aku menghargaimu."
"Aku mendengarkanmu."
"Dan aku masih memilih untuk merawat hubungan ini.