JawaPos.com - Banyak nasihat tentang kesuksesan terdengar sederhana:
Jangan menyerah. Terus berjuang. Miliki tekad yang kuat. Tetap gigih sampai berhasil.
Nasihat tersebut tidak sepenuhnya salah. Kegigihan memang merupakan salah satu kualitas psikologis yang penting. Orang yang mudah menyerah ketika menghadapi hambatan tentu akan kesulitan menyelesaikan sesuatu yang membutuhkan waktu panjang.
Namun, ada persoalan ketika kegigihan dianggap sebagai satu-satunya modal yang dibutuhkan untuk sukses.
Bayangkan seseorang terus bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi menggunakan strategi yang keliru. Atau seseorang sangat disiplin mengejar sebuah tujuan yang ternyata sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya. Ada pula orang yang memiliki tekad luar biasa, tetapi tidak pernah mengevaluasi kesalahannya.
Dalam situasi seperti itu, semakin gigih seseorang belum tentu semakin dekat dengan keberhasilan.
Psikologi justru menunjukkan bahwa keberhasilan merupakan hasil interaksi berbagai faktor: kemampuan mengatur diri, strategi, pembelajaran dari umpan balik, kemampuan beradaptasi, lingkungan, regulasi emosi, hubungan sosial, serta kemampuan menentukan tujuan yang realistis dan bermakna.
Dengan kata lain:
Kegigihan membantu kita bertahan, tetapi kemampuan untuk belajar, beradaptasi, mengatur diri, dan memilih arah menentukan apakah kegigihan tersebut membawa kita ke tempat yang tepat.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/9), terdapat tujuh alasan mengapa modal kegigihan dan tekad saja tidaklah cukup.
1. Kegigihan Tanpa Strategi Bisa Membuat Kita Terus Mengulang Kesalahan
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai kegigihan adalah anggapan bahwa jika seseorang terus melakukan sesuatu, pada akhirnya hasil pasti akan muncul.
Padahal, ada perbedaan besar antara:
“Saya tidak menyerah.”
dan
“Saya tidak menyerah, tetapi saya terus memperbaiki cara saya.”
Yang kedua jauh lebih penting.
Bayangkan seseorang ingin membangun bisnis. Ia sudah bekerja 12 jam sehari. Ia rajin membuat produk, aktif melakukan promosi, dan terus mengeluarkan tenaga.
Namun selama dua tahun, penjualannya tidak berkembang.
Jika satu-satunya nasihat yang ia terima adalah “jangan menyerah”, ia mungkin akan melakukan hal yang sama selama dua tahun berikutnya.
Masalahnya bukan kurang gigih.
Masalahnya mungkin terletak pada strategi.
Mungkin produknya tidak sesuai kebutuhan pasar. Mungkin ia salah menentukan harga. Mungkin ia tidak memahami pelanggan. Mungkin metode pemasarannya tidak efektif.
Dalam psikologi pembelajaran, usaha akan jauh lebih produktif ketika seseorang mendapatkan umpan balik (feedback) dan menggunakannya untuk mengubah perilaku.
Karena itu, kegigihan yang sehat bukanlah:
“Saya akan melakukan hal yang sama sampai berhasil.”
Melainkan:
“Saya akan terus mengejar tujuan, tetapi saya bersedia mengubah cara ketika bukti menunjukkan bahwa cara saya tidak efektif.”
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Setiap kali mengalami kegagalan, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana saya bisa mencoba lagi?”
Tambahkan pertanyaan:
Apa yang sebenarnya tidak berhasil?
Mengapa tidak berhasil?
Apa asumsi saya yang ternyata salah?
Apa yang bisa saya ubah?
Informasi apa yang belum saya miliki?
Apakah ada orang yang lebih berpengalaman yang bisa memberikan perspektif berbeda?
Dengan demikian, kegigihan berubah menjadi kegigihan yang adaptif.
2. Tekad yang Kuat Tidak Selalu Bisa Mengalahkan Keterbatasan Regulasi Diri
Kita sering membayangkan manusia seperti mesin.
Jika seseorang benar-benar ingin sukses, ia tinggal memutuskan:
“Mulai besok saya akan disiplin.”
Masalahnya, manusia bukan mesin.
Kemampuan kita untuk berkonsentrasi, mengendalikan impuls, mengambil keputusan, dan mempertahankan perhatian dapat berubah tergantung kondisi fisik dan psikologis.
Ketika seseorang kurang tidur, mengalami stres berkepanjangan, mengalami beban pekerjaan yang tinggi, atau terus-menerus menghadapi keputusan yang melelahkan, kemampuan pengaturan dirinya dapat ikut terpengaruh.
Karena itu, mengandalkan kemauan semata merupakan strategi yang rapuh.
Orang yang sukses biasanya tidak hanya bertanya:
“Bagaimana supaya saya lebih kuat menahan godaan?”
Mereka juga bertanya:
“Bagaimana saya bisa membuat lingkungan dan sistem yang mengurangi kebutuhan untuk terus-menerus menggunakan kemauan?”
Misalnya, seseorang ingin rutin membaca buku.
Cara pertama:
“Saya harus punya tekad kuat untuk membaca setiap malam.”
Cara kedua:
Meletakkan buku di meja samping tempat tidur, menentukan waktu membaca, mematikan notifikasi, dan membuat target kecil.
Cara kedua menciptakan sistem perilaku.
Begitu pula dalam pekerjaan.
Daripada mengatakan:
“Saya harus lebih fokus.”
Seseorang dapat mengubah lingkungan:
menutup notifikasi,
menentukan blok waktu untuk bekerja,
membatasi gangguan,
memecah pekerjaan menjadi bagian kecil,
menetapkan prioritas,
menggunakan daftar tugas yang realistis.
Dengan demikian, kesuksesan tidak hanya bergantung pada seberapa kuat seseorang memaksa dirinya.
3. Tujuan yang Salah Bisa Dikejar dengan Sangat Gigih
Ini mungkin salah satu alasan yang paling jarang dibicarakan.
Tidak semua tujuan layak dikejar hanya karena kita sudah lama mengejarnya.
Seseorang bisa sangat gigih mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak lagi sesuai dengan dirinya.
Misalnya seseorang sejak kecil bercita-cita menjadi dokter karena ekspektasi keluarga.
Ia kemudian belajar mati-matian.
Nilainya bagus.
Ia berhasil masuk universitas.
Ia terus bertahan meskipun semakin tidak menikmati bidang tersebut.
Secara eksternal, ia terlihat sangat gigih.
Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah tujuan tersebut memang miliknya?
Psikologi motivasi membedakan motivasi yang muncul dari dorongan internal dengan motivasi yang terutama berasal dari tekanan eksternal.
Tujuan yang lebih selaras dengan nilai pribadi biasanya lebih mungkin menghasilkan keterlibatan yang sehat dan berkelanjutan dibanding tujuan yang sepenuhnya didorong oleh kebutuhan mendapatkan pengakuan atau menghindari penolakan.
Karena itu, sebelum bertanya:
“Bagaimana saya bisa lebih gigih?”
ada baiknya bertanya:
“Apakah ini memang tujuan yang ingin saya kejar?”
Dan:
“Mengapa saya menginginkannya?”
Jika jawabannya hanya:
supaya dipuji,
supaya tidak dianggap gagal,
supaya membuktikan sesuatu kepada orang lain,
karena semua orang melakukannya,
mungkin ada baiknya mengevaluasi kembali tujuan tersebut.
Kegigihan membutuhkan arah
Bayangkan seseorang berada di dalam hutan.
Ia berjalan tanpa berhenti selama 10 jam.
Apakah ia semakin dekat dengan tujuan?
Tidak ada yang bisa menjawab jika kita tidak mengetahui ke mana ia sebenarnya ingin pergi.
Begitu pula kehidupan.
Energi tanpa arah dapat menghasilkan kelelahan, bukan kemajuan.
4. Tidak Semua Masalah Bisa Diselesaikan dengan Kerja Lebih Keras
Ada kecenderungan dalam budaya modern untuk mengagungkan kerja keras.
Ketika seseorang gagal, kita sering mengatakan:
“Kerja lebih keras.”
Namun beberapa masalah bukan masalah kurangnya usaha.
Kadang masalahnya adalah ketidakcocokan antara strategi dan situasi.
Misalnya seorang mahasiswa sudah belajar delapan jam sehari tetapi nilai ujiannya tetap rendah.
Mungkin ia memang membutuhkan lebih banyak belajar.
Tetapi mungkin juga metode belajarnya tidak efektif.
Ia bisa saja membaca buku berulang kali tanpa menguji dirinya sendiri.
Dalam kondisi tersebut, menambah waktu belajar dari delapan menjadi sepuluh jam belum tentu memberikan peningkatan yang sebanding.
Hal serupa terjadi dalam karier.
Seseorang dapat bekerja sangat keras di pekerjaan yang memiliki sedikit peluang berkembang.
Dalam bisnis, seseorang bisa bekerja sangat keras di pasar yang tidak memiliki permintaan cukup.
Dalam kehidupan sosial, seseorang bisa terus berusaha mendapatkan persetujuan dari orang yang memang tidak menghargainya.
Jadi pertanyaannya bukan hanya:
“Seberapa keras saya bekerja?”
Tetapi juga:
“Apakah usaha saya menghasilkan kemajuan?”
Ini adalah perbedaan antara effort dan effective effort.
5. Kemampuan Beradaptasi Sering Lebih Penting daripada Sekadar Bertahan
Dunia berubah.
Teknologi berubah.
Pasar kerja berubah.
Kebutuhan manusia berubah.
Kondisi keluarga berubah.
Bahkan diri kita sendiri berubah.
Karena itu, strategi yang efektif lima tahun lalu belum tentu efektif hari ini.
Seseorang yang hanya memiliki prinsip:
“Saya harus tetap pada rencana awal.”
bisa mengalami masalah ketika keadaan berubah.
Sebaliknya, orang yang mampu berkata:
“Tujuan saya tetap, tetapi strategi saya boleh berubah.”
memiliki fleksibilitas yang lebih besar.
Ini merupakan prinsip penting dalam pencapaian jangka panjang.
Bedakan tujuan dan strategi
Misalnya:
Tujuan: ingin memiliki karier yang bermakna.
Strategi: bekerja di perusahaan tertentu.
Strateginya bukan tujuan.
Jika perusahaan tersebut ternyata tidak cocok, mengubah pekerjaan bukan berarti menyerah terhadap tujuan.
Atau:
Tujuan: ingin memiliki bisnis.
Strategi: menjual produk tertentu.
Jika produk tersebut gagal di pasar, mengganti produk bukan berarti menyerah terhadap impian menjadi pengusaha.
Ini adalah bentuk fleksibilitas psikologis.
Kita tetap memiliki arah, tetapi tidak terlalu terikat pada satu-satunya cara untuk sampai ke sana.
6. Emosi dan Kesehatan Psikologis Memengaruhi Kemampuan Kita untuk Bertahan
Nasihat tentang kegigihan kadang terdengar seolah-olah manusia harus terus maju tanpa memperhatikan kondisi emosional.
Padahal manusia memiliki batas.
Ada saatnya seseorang perlu beristirahat.
Ada saatnya seseorang perlu mengakui bahwa dirinya sedang kewalahan.
Ada saatnya seseorang perlu berbicara dengan orang lain.
Bahkan ada saatnya seseorang perlu mengubah target.
Berhenti sejenak tidak selalu berarti menyerah.
Justru kemampuan mengenali kondisi diri merupakan bagian dari regulasi diri.
Misalnya seseorang terus bekerja karena takut dianggap malas.
Ia tidur hanya empat atau lima jam setiap malam.
Akhirnya konsentrasinya menurun, emosinya menjadi lebih mudah meledak, dan kualitas pekerjaannya memburuk.
Ia mungkin berkata:
“Saya harus lebih kuat.”
Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak tekanan.
Yang dibutuhkan adalah pemulihan.
Ini penting karena produktivitas jangka panjang bukan hanya persoalan seberapa banyak energi yang bisa kita keluarkan, tetapi juga seberapa baik kita bisa memulihkan energi tersebut.
Kegigihan yang sehat memiliki ritme:
berusaha → menghadapi tantangan → mengevaluasi → memulihkan diri → berusaha kembali.
Bukan:
berusaha → berusaha → berusaha → kelelahan → memaksa diri → runtuh.
7. Lingkungan dan Hubungan Sosial Tidak Bisa Diabaikan
Ada mitos bahwa kesuksesan sepenuhnya merupakan hasil kualitas individu.
Seolah-olah jika seseorang cukup disiplin, cukup cerdas, dan cukup gigih, ia pasti bisa mendapatkan hasil yang sama.
Kenyataannya jauh lebih kompleks.
Manusia hidup dalam lingkungan sosial.
Kita dipengaruhi oleh:
keluarga,
teman,
mentor,
rekan kerja,
budaya,
institusi,
kesempatan,
kondisi ekonomi,
akses terhadap pendidikan,
dan berbagai keadaan lain.
Ini bukan berarti usaha pribadi tidak penting.
Tetapi kita perlu memahami bahwa usaha pribadi bukan satu-satunya variabel.
Dua orang yang memiliki kemampuan dan kegigihan yang sama dapat memperoleh hasil berbeda karena memiliki kesempatan dan lingkungan yang berbeda.
Karena itu, salah satu langkah penting menuju kesuksesan adalah membangun lingkungan yang mendukung perilaku yang ingin kita kembangkan.
Jika ingin berkembang dalam karier, misalnya, carilah:
mentor,
komunitas profesional,
rekan yang konstruktif,
lingkungan yang memberi feedback,
kesempatan untuk mengerjakan proyek yang menantang.
Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan.
Justru kemampuan mencari bantuan merupakan bentuk keterampilan.
Orang yang berhasil tidak selalu merupakan orang yang melakukan semuanya sendirian.
Sering kali mereka adalah orang yang tahu:
Kapan harus bekerja sendiri dan kapan harus meminta bantuan.
Jadi, Kalau Kegigihan Saja Tidak Cukup, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Jika kita menggabungkan berbagai prinsip psikologi, kita dapat melihat bahwa keberhasilan lebih tepat dipahami sebagai kombinasi beberapa kemampuan.
Bukan hanya:
Kegigihan.
Tetapi:
Kegigihan + arah + strategi + pembelajaran + regulasi diri + adaptasi + lingkungan.
Berikut kerangka sederhana yang dapat digunakan.
1. Tentukan tujuan yang benar-benar bermakna
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang ingin saya capai?”
Tanyakan juga:
“Mengapa saya menginginkannya?”
“Apakah tujuan ini sesuai dengan nilai yang saya anggap penting?”
“Apakah saya mengejarnya karena keinginan sendiri atau karena tekanan sosial?”
Tujuan yang bermakna memberikan alasan untuk bertahan ketika perjalanan menjadi sulit.
2. Ubah tujuan besar menjadi perilaku konkret
“Menjadi sukses” terlalu abstrak.
“Menjadi kaya” juga terlalu abstrak.
“Menjadi orang yang produktif” juga belum cukup konkret.
Ubahlah menjadi tindakan.
Misalnya:
Membaca 20 halaman setiap hari.
Menghubungi lima calon pelanggan setiap minggu.
Menghabiskan satu jam setiap hari untuk mempelajari keterampilan tertentu.
Mengirim tiga lamaran berkualitas setiap minggu.
Perilaku konkret jauh lebih mudah dievaluasi daripada tujuan abstrak.
3. Gunakan sistem, bukan hanya motivasi
Motivasi naik turun.
Karena itu, jangan membuat keberhasilan sepenuhnya bergantung pada perasaan termotivasi.
Buat sistem.
Misalnya:
Tujuan: ingin membaca lebih banyak.
Sistem:
membaca 20 menit sebelum tidur,
menaruh buku di tempat yang mudah terlihat,
mematikan ponsel,
mencatat ide penting,
membaca setiap hari pada waktu yang sama.
Dengan sistem, kita tidak perlu mengambil keputusan yang sama berulang kali.
4. Cari feedback secara teratur
Jangan menunggu bertahun-tahun sebelum mengevaluasi apakah strategi kita berhasil.
Buat siklus:
Coba → ukur → evaluasi → ubah → coba lagi.
Misalnya seseorang ingin meningkatkan kemampuan berbicara.
Ia tidak hanya berlatih.
Ia juga:
merekam dirinya,
meminta feedback,
melihat kesalahan,
memperbaiki teknik,
kemudian berlatih kembali.
Dengan demikian, pengalaman berubah menjadi pembelajaran.
5. Belajar membedakan kegagalan dengan informasi
Kegagalan memang bisa menyakitkan.
Tetapi kegagalan juga dapat memberikan informasi.
Ketika sebuah strategi tidak berhasil, kita memperoleh data tentang apa yang belum efektif.
Daripada berpikir:
“Saya gagal, berarti saya tidak mampu.”
Cobalah berpikir:
“Strategi ini belum berhasil. Apa yang bisa saya pelajari?”
Perubahan cara berpikir ini bukan berarti menyangkal kegagalan.
Justru kita mengakui kegagalan sambil menggunakannya sebagai informasi.
6. Bangun kemampuan, bukan hanya mengejar hasil
Hasil sering berada di luar kendali sepenuhnya.
Kita tidak selalu bisa memastikan:
bisnis pasti sukses,
orang lain pasti menyukai kita,
lamaran kerja pasti diterima,
investasi pasti menghasilkan keuntungan,
proyek pasti berhasil.
Tetapi kita dapat meningkatkan kemampuan kita.
Misalnya:
kemampuan komunikasi,
kemampuan analisis,
kemampuan menjual,
kemampuan memimpin,
kemampuan memecahkan masalah,
kemampuan mengelola waktu,
kemampuan membangun hubungan.
Dengan fokus pada kemampuan, kita membangun aset psikologis dan praktis yang dapat digunakan kembali di berbagai situasi.
7. Ketahui kapan harus bertahan dan kapan harus mengubah arah
Ini mungkin bagian tersulit.
Kegigihan mengatakan:
“Jangan menyerah terlalu cepat.”
Tetapi kebijaksanaan mengatakan:
“Jangan mempertahankan sesuatu hanya karena sudah terlalu banyak menginvestasikan waktu di dalamnya.”
Pertanyaannya bukan sekadar:
“Apakah saya masih bisa bertahan?”
Tetapi:
“Dengan informasi yang saya miliki sekarang, apakah strategi ini masih masuk akal?”
Jika jawabannya tidak, perubahan arah bukan selalu kegagalan.
Kadang justru merupakan bentuk pembelajaran.
Kesuksesan Bukan Perlombaan untuk Menjadi Orang yang Paling Keras Memaksa Diri
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah definisi tentang kegigihan.
Kegigihan bukan berarti:
terus berjalan meskipun arah salah.
Kegigihan yang matang lebih mirip:
tetap berkomitmen terhadap sesuatu yang penting, sambil bersedia mengubah cara untuk mencapainya.
Orang yang hanya memiliki tekad mungkin berkata:
“Saya akan terus melakukan ini sampai berhasil.”
Orang yang lebih adaptif berkata:
“Saya akan terus mengejar tujuan ini, tetapi saya akan memperhatikan apa yang terjadi, belajar dari hasilnya, dan mengubah strategi jika diperlukan.”
Perbedaan keduanya terlihat kecil.
Namun dalam perjalanan yang panjang, perbedaan tersebut dapat menjadi sangat besar.
Kesimpulan: Jangan Hanya Menjadi Gigih, Jadilah Gigih yang Adaptif
Kegigihan memang penting.
Tanpa kegigihan, seseorang mungkin menyerah sebelum sempat melihat hasil dari usahanya.
Tetapi kegigihan bukanlah jaminan keberhasilan.
Kegigihan tanpa strategi dapat menjadi pengulangan kesalahan.
Tekad tanpa regulasi diri dapat menghasilkan kelelahan.
Tujuan tanpa evaluasi dapat membawa kita ke arah yang salah.
Kerja keras tanpa feedback dapat menjadi aktivitas tanpa kemajuan.
Konsistensi tanpa kemampuan beradaptasi dapat membuat kita tertinggal ketika keadaan berubah.
Dan usaha tanpa dukungan lingkungan dapat membuat perjalanan menjadi jauh lebih sulit daripada yang seharusnya.
Karena itu, jika ingin meningkatkan peluang untuk mencapai tujuan, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana agar saya tidak menyerah?”
Tanyakan pula:
“Apakah tujuan saya tepat?”
“Apakah strategi saya efektif?”
“Apa yang sedang saya pelajari dari hasil yang saya dapatkan?”
“Apa yang perlu saya ubah?”
“Bagaimana saya bisa membangun lingkungan yang mendukung?”
“Bagaimana saya menjaga energi dan kesehatan diri agar dapat bertahan dalam jangka panjang?”
Pada akhirnya, sukses bukan hanya tentang seberapa kuat kita mampu bertahan.
Sukses juga membutuhkan kemampuan untuk menentukan arah, belajar dari kenyataan, mengubah strategi, mengelola diri, dan terus berkembang.
Jadi, jangan hanya memiliki tekad untuk terus berjalan.
Pastikan juga Anda tahu ke mana harus berjalan, bagaimana cara berjalan dengan lebih baik, dan kapan perlu mengubah jalur.